Diponegoro Dulu, Diponegoro Kini (Dibenakmu)

Diponegoro, ijinkan kami mengenangmu dengan cara kami.

Image

Baru saja tadi siang diskusi yang bertajuk “Pemikiran dan Perjuangan Pangeran Diponegoro, Inspirasi Kelahiran TNI” selesai diadakan oleh Pusat Studi Pancasila, Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, dan Resimen Mahasiswa UGM. Judul yang menjanjikan, melihat kembali semangat pendahulu bangsa dalam pendirian TNI. “Delicious, I shall attend it!” pikirku dua hari lalu.

Acara dibuka dengan sambutan dari Pusat Studi Pancasila, yang diwakili oleh Bapak Sutaryo. Beliau memberi pernyataan klise tentang bahaya pengaruh global, materialisme dan individualisme, yang perlu ditangkal dengan Pancasila. Selanjutnya penampilan sanggar kesenian dzikir mendahului acara pemaparan materi pembicara. Tarian diiringi dzikir ini menyenangkan untuk dilihat, namun cukup mengagetkan adalah ternyata penampilan ini dipadukan dengan slideshow petuah dan harapan dari Jendral (Purn) Djoko Santoso. Okay, ternyata bintang di pundak sebanding dengan narsisme.

Akhirnya masuk juga ke materi. Prof Djoko Suryo memberikan materi yang cukup lengkap. Hal-hal seperti faktor-faktor penyebab perang Jawa, berlangsungnya perang Jawa, hingga pelajaran dari perang Jawa dan kepribadian Diponegoro tidak perlu dibantahkan. Namun bagian mengenai pemikiran DIponegoro terasa dipaksa agar masuk dalam tema besar “Pancasila ada sejak dulu kala.” Mungkin bila disajikan dalam bentuk penjelasan mengenai pemikiran Pangeran Diponegoro kemudian membandingkannya dengan Pancasila yang dirumuskan abad 20 kita bisa meresapinya lebih kuat.

Kemudian beranjak ke Djoko Santoso, saya melirik dahulu bahan yang diberikan: sebuah buku testimonial dan buklet materi diskusi. Di dalam buklet terdapat 22 halaman materi pengelolaan perang ala Diponegoro dari sudut pandang TNI. Namun beliau menyatakan tidak membahas melalui materi yang “sudah pasti ilmiah” tersebut. Iapun berbicara maju-mundur antara Di[ponegoro dan bagaimana Indonesia saat ini seharusnya (menurut beliau tentunya). Sayapun bingung haruskah saya memaafkan anakronisme konsep ketika ia menyebut bahwa pada masa Diponegoro sudah ada dwifungsi. Bagaimana ada dwifungsi jika sejatinya pemisahan kekuasaan sipil dan militer sama sekali tidak dikenal oleh penguasa pribumi ketika itu? Adakah ini justifikasi bahwa dwifungsi tidak sesuai dengan norma begara modern, atau ini hanya kegamangan dari kelas ksatria yang kehilangan kesempatannya berkuasa? Kecurigaan saya akan narsisisme ini muncul lagi karena yang beliau ungkapkan lebih banyak seputar dirinya.

Sesi tanya jawab bisa digambarkan dengan dua hal: para sesepuh yang mencoba membuka “sisi lain” dari perang Jawa dan mereka yang ingin berbincang mengenai politik. Pertanyaan mengapa ada yang menyebut penguasa nusantara menyerahkan diri untuk dikuasai Belanda dan mengapa Diponegoro tidak mendapatkan bantuan dari keraton tentu saja dapat mudah dijawab Prof Djoko Suryo. Namun pertanyaan yang ditujukan kepada Djoko Santoso mendapat jawaban yang, sebagaimana ketika ia berceramah sebelumnya, berkisar pada ideologi yang dibawa Djoko Santoso.

Ngomong-ngomong, ada baiknya kita lihat buklet dan buku yang diberikan dari Djoko Santoso:

joko

(Pepatah Jawa DIILHAMI oleh kepemimpinan Djoko Santoso!!!!)

diponegoro_djoko_tni

(dari Diponegoro menuju Djoko Santoso dan jadilah TNI)

keluarga

(Owalah mas, sudah sekian lama aku memandang wajahmu dimana-mana, bahkan dirimu meng-sms diriku ini. Baru sekarang aku tahu dirimu adalah putra Djoko Santoso)

Dari buklet dan ceramah Djoko Santoso saya bisa menyimpulkan bahwa Djoko Santoso adalah titisan Diponegoro, itulah sebabnya ketika ia berbicara mengenai Diponegoro ia berbicara mengenai dirinya sendiri.

=================

Ditulis sambil mendengarkan Candlemass \m/

Advertisements

One thought on “Diponegoro Dulu, Diponegoro Kini (Dibenakmu)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s