1 Ons Memang 100 gram

Copypasta yang satu ini sudah sekian lama beredar, rasanya sekitar 7-8 tahun lalu saya sudah pernah membacanya, berikut cuplikannya:

1 ONS bukan 100 Gram – Pendidikan yang Menjadi Boomerang

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkanacuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g. Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal secara internasional tidak bisa ditemukan.

Tak perlu saya berpanjang-panjang menjiplak copypasta barusan, saya rangkumkan bahwasanya lembaga metrologi yang berwenang di Indonesia telah melarang penggunaan ons pada alat ukur di Indonesia dan Departemen Pendidikan harus segera bertaubat atas kesalahannya dan berhenti mengajarkan kesesatan ini.

Le’tong.

Jika anda benar-benar seorang insinyur dan mengalami kebingungan atas satuan ukur dan terjadi seperti diceritakan di atas maka sebaiknya anda mengembalikan ijazah anda pada perguruan tinggi tempat anda belajar dan jangan lupa minta uang anda kembali.

Saat ini memang ada dua satuan ukur  yang jamak digunakan. Pertama adalah Satuan Internasional yang juga biasa disebut Metric System. Ia adalah hasil kesepakatan para ilmuwan yang dirumuskan sejak abad 19. Kemudian ada satuan ukur Imperial Unit yang dibuat berdasarkan titah raja Inggris sejak jaman masih nggak enak dulu. (Buka wiki untuk persisnya). Kini hanya Amerika Serikat yang secara resmi menggunakan Imperial Unit sebagai satuan ukur resmi di negaranya.

Satuan gram yang kita gunakan berasal dari satuan internasional ini sedangkan satuan ounce dan pound berasal dari satuan Imperial ini. Tentu saja ounce dan ons bunyinya sama dan seharusnya ukurannya sama bukan?

Tidak. Seperti disebut diatas, dua satuan tersebut perlu suatu untuk kesepakatan atau titah raja menjadikannya sesuatu satuan ukur yang resmi. Mengapa? Tidak lain karena sebelum itu tiap wilayah, kota, bahkan kampung atau gilda punya ukurannya sendiri. 1 pond di Krefeld akan berbeda ukurannya dengan 1 pond di Rotterdam. Oleh karenanya tidak heran jika 1 ounce di Inggris dan jajahannya akan berbeda dengan 1 ons di Belanda.

Nah, masihkah anda dapat mengikuti cerita saya?

Indonesia tentu saja berbeda dengan India, Amerika, Malaysia, Australia, dan banyak negeri lainnya yang merupakan koloni Inggris. Kita mengukur susu, sirup, cat, dan cairan lainnya dengan cc (centi cubic) atau liter bukan dengan pint atau galon. Lalu darimana datangnya ons itu?

Simbah-simbah kita dulu lahir di masa penjajahan Belanda oleh karenanya tentu mereka diajar oleh bule-bule kompeni. Tapi masak sih bule-bule itu mengajari yang salah?

Rupa-rupanya berdasarkan Koninklijk Besluit van den 27 Maart (Perintah Kerajaan 27 Maret) mereka punya yang namanya Nederlands Metrisch Stelsel. Disini kita temui bahwa 1 ons adalah 100 gram dan 1 pond adalah 1 kilogram. Eh? Kok satu kilogram? Rupanya kebiasaan sehari-hari orang sana hingga kini menyebut 1 pond adalah setengah kilogram.

Nah, di sana mereka pun menghargai tradisi sehari-hari sebagai bukan sesuatu yang menyesatkan, mengapa kita menghakimi apa yang diajarkan pada kita sesuatu yang sesat? Mengapa anda menerima begitu saja hegemoni Anglophone dan menampik sejarah bersama negeri ini dengan bangsa lain? Mengapa anda begitu saja menerima gosip yang disebarkan dari mulut ke mulut tanpa mengecek kebenarannya?

Tentu saja, berita sensasional lebih baik daripada berita faktual.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s