Kongres dan Kooptasi

Satu nusa

Satu bangsa

Satu bahasa kita

Di saat agresi militer pertama Belanda mendera, untuk pertama kalinya lagu karangan Liberty Manik diperdengarkan, lagu ini mengejawantahkan pernyataan perintis awal pergerakan kebangsaan.  Indonesia satu, satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Pernyataan yang kini ada yang memperdebatkan apakah harus disebut putusan atau disebut sumpah.

Di tahun 2013 ini kita melihat di sekolah-sekolah diadakan upacara peringatan Sumpah Pemuda. Para petugas upacara dengan pakaian klimisnya menyiapkan upacara yang teratur dan urut. Pemimpin upacara dengan tegap dan lantang memimpin teman-temannya di sekolah. Poetoesan Congres Pemoeda-Pemoeda Indonesia sekali lagi bergema di lapangan sekolah-sekolah. Di alun-alun kota pemerintah juga melakukan hal yang sama, hanya aktornya yang berbeda.

Image

(Jangan tanya saya sumber gambarnyah dari mana)

Di UGM pada tanggal 27 Oktober dilakukan Kongres Pemuda Nusantara 2, kelanjutan (atau pengulangan) Kongres Pemuda Nusantara tahun lalu. Para peserta disuguhi sajian pemikiran dari keynote speaker dan panelis-panelis sebelum mereka akhirnya merumuskan rekomendasi/problem solving atas masalah pemuda. Dalam hal ini Direktorat Kemahasiswaan sebagai penyelenggara berhasil mengajak pemuda berpikir untuk memberi rekomendasi penyelesaian masalah bangsa.

Tapi itulah perbedaan Congres Pemoeda-pemoeda Indonesia dengan kongres-kongres yang diadakan dalam rangka memperingatinya. Kini kongres-kongres tersebut tidak lagi hanya berupa pertemuan independen para utusan yang berkumpul dari dan untuk mereka sendiri. Kini ia adalah suatu pertemuan yang berada dalam binaan dan asuhan orangtua.

Pemuda, kata-kata penuh beban itu pernah menyandang konotasi tersendiri. Antropolog-Indonesianis Benedict Anderson dalam karya paling terkenalnya mengenai nasionalisme menyebut bahwa pemuda adalah pembeda suatu generasi dengan orangtuanya. Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat kesadaran kebangsaan, bahwa insan sebangsa adalah setara dan bersaudara. Berbeda dengan para orang tua yang bercokol pada alam pemikiran feodal.

Image

Jadi, pernyataan dalam poetoesan ini bukanlah hanya sekedar kesadaran nasionalisme, ia adalah pernyataan yang membedakan diri dengan generasi tua. Para pemuda bukanlah orang-orang tua yang hidup dan mendukung sistem kolonial. Para pemuda tidak hendak hidup terus dalam diskriminasi Regeringsreglement dan menundukkan Nusantara dalam kehendak Amsterdam. Para pemuda tidak ingin lagi menjadi objek studi Leiden, mereka adalah insan intelektual yang setara.

Soekarno mungkin pernah meminta 10 pemuda untuk menjungkirbalikkan dunia, tapi yang ia temui adalah pemuda-pemuda yang menunduk dan mengangguk mengungkapkan kesediaannya menjaga “Panca Azimat Revolusi” dan “Manipol Usdek.” Soeharto mungkin naik menjadi Presiden setelahg didukung oleh demonstrasi yang menginginkan dibubarkannya PKI dan diturunkannya Soekarno, tapi dua belas tahun kemudian ia bungkam para demonstran yang menuntut partisipasi lebih luas dalam politik dan penegakan hukum. Itulah kooptasi pemuda oleh orangtua di masa Indonesia merdeka.

Adakah perbedaan ini adalah tanda bahwa kita saat ini tidak paham masa lalu? Ataukah perubahan zaman kini memberi kesempatan bagi pemuda untuk bekerjasama dangan orangtua? Jawablah bagi diri anda sendiri.

===================

Manifesto 1925? Saya tahu bahwa manifesto itu berisi pernyataan penting akan kemerdekaan bangsa ini. Tapi manifesto itu terlalu elitis.

Advertisements

One thought on “Kongres dan Kooptasi

  1. Pingback: Mitos-Mitos Sumpah Pemuda | ayatayatadit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s