Tentang Marx & Sejarah

Karl Marx

 marx_3

Karl Heinrich Marx lahir di Trier, Prussia pada 5 Mei 1818. Berasal dari keluarga Ashkenazi yang secara turun-temurun menghasilkan rabbi, ayahnya secara mengejutkan menjadi Lutheran sebelum Karl lahir, mengganti namanya dari Herschel Marx menjadi Heinrich Marx. Sebagai seorang yang mendapat pendidikan sekular, Herschel Marx kagum dengan pemikiran Aufklarung. Ia aktif dalam agitasi reformasi dan konstitusi Prussia, yang saat itu dibawah kekuasaan monarki absolut.

Ia disipkan untuk meneruskan jejak ayahnya menjadi penasihat hukum, namun di Bonn ia lebih tertarik bersosialisasi dan mabuk-mabukan. Bahkan berduel demi seorang wanita. Ia akhirnya ditransfer ke Berlin dimana ia menyelesaikan studinya.

Marx muda tertarik dengan pemikiran Hegel, yang ide-idenya diperdebatkan secara luas oleh kalangan cendikiawan Eropa. Ia menyebut dirinya sakit karena “penuh kekesalan diharuskan membuat berhala dari pandangan yang saya pertanyakan.” Tesis doktoralnya berjudul “Perbedaan antara Filsafat Alami Democritus dan Epikurus” bermaksud menunjukkan superioritas kebijaksanaan filsafat. Ia mendapat gelar PhD dari Universitas Jena.

Marx terlibat sebagai editor koran dan majalah agitatif. Pertama-tama di Koln sebagai editor Rheinische Zeitung, kemudian di Paris menjadi editor Deutsch-Französische Jahrbücher dan Vorwarts!. Ketiga koran penerbitan tersebut dibredel pemerintah Prussia dan Prancis karena dianggap menghasut. Akhirnya Marx pindah ke Belgia, namun ia dilarang menerbitkan apapun berkenaan politik kontemporer. Di sini ia bergaul dengan banyak sosialis yang diasingkan pemerintahnya, Moses hess, karl Heinzen, & Joseph Weydemeyer. Bahkan Engels ikut bergabung.

Liga komunis memberi mandat pada Engels untuk membuat perntaaan katekisme Liga Komunis. Engels menulis setidaknya dua draft berjudul “Pernyataan Iman Komunis” dan “Prinsip-prinsip Komunis.” Akhirnya kolaborasi mereka menghasilkan “Manifesto Komunis” yang diterbitkan pada 21 Februari 1848. Manifesto ini mendorong Liga Komunis untuk terbuka atas tujuan-tujuan dan aktivisme mereka, dan hingga kini menjadi dokumen penting bagi komunis sedunia mengenai dasar dan tujuan perjuangaan komunis. Kemunculan pemberontakan komunis pada tahun ini akhirnya membuat Marx diusir dari Belgia.

Marx pindah ke London pada Mei 1949, untuk pertama kalinya ia dan keluarga hidup dalam kemiskinan. Setelah berbagai kegagalan pemberontakan dan frustasi para pekerja, Marx berusaha untuk memahami kapitalisme. “Kontribusi untuk Kritik atas Ekonomi Politik” dan “Teori Nilai Surplus” ditulis pada 1857 dan 1859, dikemudian hari ini kadang karya ini dianggap bagian ke empat Das Kapital, baru pada 1867 volume pertama Das Kapital terbit.

Pada akhir dekade hidupnya Marx tidak mampu mengerjakan karya-karya komprehensif sebagaimana sebelumnya, meski masih menulis beberapa esay mengenai kondisi politik kontemporer. Pada sebuah surat untuk Vera Zasulich ia memikirkan kemungkinan bagi Russia untuk melewatkan tahap kapitalis dan langsung memasuki tahap sosialis. Ia menyebut komune pedesaan Russia sebagai titik tolak regenerasi sosial Russia.

Ia meninggal pada 14 Maret 1883 sebagai orang tanpa kewarganegaraan. Ia dikuburkan di Highgate, London. Sekitar sebelas orang hadir pada pemakamannya.

Filsafat Marx dan Sejarah

Marx membawa dimensi materialis dan penjelasan materialis dalam sejarah. Ia mengajukan materialisme historis yaitu pendekatan metodologis kajian masyarakat, ekonomi, dan sejarah sebagai konsepsi materialis tentang sejarah. Materialisme sejarah mencari penyebab perkebmbangan dan perubahan dalam masyarakat dari cara-cara yang digunakan manusia menghidupi dirinya. Kelas sosial dan hubungan diantaranya, sekaligus struktur politik dan cara pikir masyarakat, dibangun dan merefleksikan aktivitas ekonomi masanya.

Meskipun Marx adalah seorang idealis ia bersikukuh bahwa materialisme sejarah yang diajukannya bukanlah untuk mengajukan suatu “teori sejarah” atau “filosofi sejarah” tetapi hanyalah suatu pendekatan dalam penelitian sejarah. Ia juga memberi contoh bahwa faktor sejarah yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda dalam konteks sejarah yang berbeda. Oleh karena itu, kita hendaknya dapat meisahkan antara materialisme historis yang diajukan Marx sebagai pendekatan penelitian sejarah dan teori sejarah Marx yang merupakan generalisasi dan spekulasi ideal Marx.

Materialisme sejarah bukan tanpa kritik. Karl Popper menyebut bahwa materialisme sejarah dapat digunakan untuk menjelaskan fakta hingga menjadikannya tidak dapat difalsifikasi. Walter Benjamin menyebut bahwa materialisme sejarah menyebunyikan tujuan theologisnya.

Teori Sejarah Marx

Sebagaimana Hegel, Marx juga membuat teori sejarahnya sendiri yang berdasarkan filsafat meterialismenya dan pendekatan materialisme sejarah. Ia memberi penekanan pada kepemilikan pribadi (mengenai penguasaan sumber daya produksi).

Marx mengemukakan adanya tahap-tahap dalam perkembangan suatu masyarakat. Tahap-tahap ini berdasarkan pada kepemilikan dan distribusi kerja di masyarakat. Perubahan dalam tiga tahap pertama menunjukkan kemakmuran yang semakin tinggi namun diiringi penindasan lebih ketat, suatu kontradiksi yang menimbulkan pertentangan antar kelas dan akan diselesaikan dalam tahap selanjutnya. Tahap-tahap itu adalah:

Komunisme/komunalisme primitif, masyarakat berburu-meramu yang tidak memiliki pembagian kerja ataupun kepemimpinan terstruktur. Tidak ada kepemilikan dalam masyarakat ini.

Masyarakat perbudakan, masyarakat bertani yang memiliki kelas dan sudah ada pembagian kerja. Ide tentang Republik di Yunani kuno menjadi contoh baik tentang tahap ini, “warga negara” adalah mereka yang memiliki budak dan boleh berpartisipasi dalam politik.

Masyarakat Feodal, muncul kelas berupa kasta-kasta, adanya serfdom, posisi individu di masyarakat berdasar hak yang diwariskan. Interaksi dari masing2 kelas dengan masyarakat feodal lain memberi kesempatan untuk profit, namun terhambat sifat feodal yang terikat pada tanah.

Masyarakat Kapitalis, hasil dari pemberontakan borjuasi atas monopoli sumberdaya di kelas penguasa. Pada tahap ini penguasaan sumber daya dan politik terpisahkan namun terjadi alienasi kelas pekerja/proletar dari hasil kerja mereka.

Masyarakat Sosialis, alienasi ini akan menimbulkan pemberontakan proletar untuk mewujudkan distribusi kesejahteraan yang bebas dari tekanan pasar. Pada akhirnya masyarakat sosialis akan menuju pada komunisme yang tanpa kelas dan tanpa negara.

Marx hidup dalam masa kapitalis, ia hanya sempat melihat Komune Paris yang dihancurkan oleh negara-negara borjuasi masanya. Oleh karenanya tahap sosialisme sebagaimana ia ajukan tidak lain adalah spekulasi yang hingga kinipun belum terwujud.

======================

Apakah Indonesia benar-benar membenci komunisme? Ternyata masyarakat Indonesia sebenarnya sangatlah materialis. Berapa diantara kita yang merindukan Orde baru dan berkata “yang penting perutnya diisi dulu.” Benarlah Marx, tidak perlu bingung memahami sejarah, pahami saja bagaimana mengisi perut para kawula.

harto

Indonesia memang sangat maju, ia telah menjadi bangsa materialis.

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Marx & Sejarah

  1. Makanya dalam peta spektrum politik, komunisme & anarkisme dianggap sebagai bentuk paling ekstrim dari paham sayap kiri. Karena keduanya sama-sama menginginkan penghapusan institusi negara demi mengupayakan masyarakat ideal & setara

    Tapi dalam realitanya, komunisme selalu tertahan di fase transisi sebagai negara diktator berbungkus “republik rakyat / demokratik”. Karena pada dasarnya selalu ada manusia yg tidak ingin hidup setara & maunya diposisikan di atas manusia-manusia lainnya

    Like

    • Utopia yah??
      sebenernya tidak hanya komunis yang berusaha “menghapus negara” (baca:meminimalisir boundary/peran negara), di gerakan barat pun ada yang semacam ini, misalnya free trade movement di mana salah satunya pergerakan bebas pekerja… atau MNC… yang intinya semua tidak ingin eksklusif jadi warga 1 negara tapi lebih ke warga dunia…
      Manusia tanpa kelas yang bebas mengejar keinginannya bukankah adalah liberalisme…
      Komunisme gagal sejak dilahirkan karena ada 1 kesalahan fatal yang dibuatnya => agar masyarakat tidak berkelas maka sumberdaya dibagi secara merata… Namun agar pembagian adil,dan dapat bermanfaat sebesar2nya maka harus ada yang mengawasi pembagian. => timbullah kelas penguasa & kelas rakyat => gagal menciptakan masyarakat tanpa kelas…

      pada akhirnya teori yang paling mengikat manusia adalah teori maslow… Saya tidak butuh negara, sistem pemerintahan pendidikan, kesehatan, demokrasi, dll, dsb selama saya masih lapar…..

      IMO…

      Like

      • Motivasinya beda.

        Liberalisme ingin meminimalkan peran negara dalam rangka mengejar profit tanpa pengawasan siapapun. Free trade movement pun akhirnya jadi cara untuk yang besar memangsa yang kecil.

        Komunis itu bukan pembagian sumberdaya tapi pembagian hasil kerja sama rata. Sumber daya dikuasai bersama, macam lahan komunal desa yang dikerjakan bersama. Tidak ada yang dapat mengklaim.

        Hmmm, berarti Maslow membawa tradisi materialisme Marxke ranah psikologi dunks. 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s