Benarkah Jokowi Metal?

Jokowi, anda mungkin menganggapnya seorang pemimpin harapan Indonesia yang akan membawa kembali kejayaan Nusantara atau seorang ahli pencitraan ulung yang sedang menipu kita semua, itu semua tergantung posisi anda berada di barisan panasbung (pasukan nasi bungkus) atau panastak (pasukan nasi kotak).

Tapi ada satu hal yang menggelitik saya. Kini selain kemeja kotak-kotaknya Jokowi juga memamerkan the horn alias salam tiga jari. Bahkan ada seorang penulis yang menyebut Jokowi berjiwa rocker.

Jokowi_jiwa_rocker

Kerna saya belum baca bukunya saya sangat heran sekali. Jokowi mencitrakan dirinya sebagai pribadi sederhana yang berusaha memahami orang lain, meski tetap tegas. Padahal yang saya tahu rockstar mentality itu terkait dengan ego dan kecenderungan untuk melanggar aturan. Sex, drug, & rock’n roll jadi kewajiban. Entahlah, saya jugak ndak punya duit untuk tahu isi bukunya.

Oke, balik lagi soal salam tiga jari sebagaimana diberikan dalam foto ini:

20120701_Jokowi_Ahok_Tunjukkan_Jari_Metal_2338

Jokowi sudah mengundang Metallica dan mungkin mengundang Guns n Roses (WTF, they aren’t metal). Kurang metalkah?

Yah, saat ini saya ngaku saja kalau saya sudah sangat tua sehingga saya pernah tahu salam tiga jari ini digunakan oleh pihak lain yang ndak ada hubungannya dengan musik metal. Yup, saya menyaksikan pemilu tahun 1992 dan 1997 sebagai anak-anak yang kagum dengan warna merah, chicago bulls, dan salam tiga jari:

Lambang_PDI

Partai Demokrasi Indonesia, nomor urut 3. Kaum tua di PDI hanya menggunakan telunjuk-jari tengah-jari manis sedang kaum muda menggunakan the horn ini. Saya yang baru 6 tahunpun tersepona. Setelah pemilu 1992 saya senang sekali mendapat kaos Chicago Bulls dan diam-diam memberikan salam tiga jari. PDI STRONK!!!! Begitulah jiwa naif saya waktu itu. Bahkan hingga pemilu 1997 saya yang masih pakai seragam merah-putih senang sekali mengumpulkan selebaran Mega-Bintang (kali ini menggunakan jempol & telunjuk membentuk nol sedang tiga jari lainnya ke atas menunjukkan afiliasi PDI, meski mencoblos Bintang/PPP). Yup, salam tiga jari punya cerita buat saya jaman masih lugu, dan itu ndak punya hubungan sama sekali dengan metal.

Kini kita menemui lagi salam tiga jari digunakan kembali oleh Jokowi, benarkah ini autentik salam dari seorang metalhead? Atau hanya sebuah kamuflase?

=====================

Apakah metal dekat dengan pemujaan setan? Mari dengarkan:

Catatan, wine of aluqah (arak al-luqah) itu merujuk ke darah haid.

Advertisements

12 thoughts on “Benarkah Jokowi Metal?

  1. Menurutku agak kejauhan analisisnya. Berjiwa rocker atau menyukai grup band terntentu itu urusan pribadi Jokowi. Mengenai salam tiga jari, ya mungkin karena dia kader PDI, atau mungkin karena dia rocker sejati. Entahlah, itu tidak perlu diributkan.
    Yang perlu dianalisis dari seorang pemimpin adalah kerjanya sebagai pemimpin. Bukan gaya pakaiannya, bukan selera musiknya, dan bukan yang lain-lainnya yang bersifat privasi.
    Memang, sekarang ini kondisi kita sebagai rakyat sangat mudah mengakses informasi. Koran online sudah begitu banyak. Mereka memberitakan semua hal, termasuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting tapi jadi dibesar-besarkan.

    Like

    • Otentisitas adalah sesuatu yang amat dihargai dalam subkultur metal. Oleh karenanya butuh kejujuran untuk menjawab “Salam tiga jari yang diberikan Jokowi ini pernyataan afinitas politik atau afinitas musik?”

      Like

  2. Masa 1992-1997 itu aku masih polos soal politik (kalo nggak boleh dibilang apolitis). Satu hal yang paling kuingat justru “kuningisasi”. Hampir sepanjang jalan, semua ornamen mendadak berubah kuning. Dan yang paling mencolok di wilayah Jawa Tengah, yang saat ini (konon) menjadi basis kaum “horn”. Bahkan kompleks pekuburan & patung Diponegoro (atau Nyi Ageng Serang, ya?) yang ada di perbatasan Jateng-DIY turut menguning.

    Like

  3. Nggak ngerti metal-metalan, dulu saya pikir sikap jari jokowi buat melambangkan banteng partainya..

    Ah, salam tiga jari untuk PDI, jempol untuk PPP, lalu “peace” untuk Golkar. Tahun 1992 saya masih batita, tahun 1997 saya sudah ikut-ikutan gebuk-gebukan dengan kawan di kampung masalah PDI vs PPP, hahaha.

    Like

  4. Pingback: The Horn! | ayatayatadit

  5. Pingback: Presiden Ridwan Kamil? Meh. | ayatayatadit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s