Ketidaktelitian hingga Anakronisme

Dalam posting saya beberapa waktu lalu saya membahas tentang kongres pemuda, ndak detil hanya membahas sedikit kesenjangan ruh kongres 1928 dan 2013. Ternyata di sana pun saya tergelincir dalam ketidaktelitian historis. Setelah membaca blog tetangga, mbak Retno Iswandari mengingatkan bahwa kongres tersebut tidak menyebutkan kongres itu tidak hendak mengubah Indonesia menjadi berbahasa satu.

Apa yang disebutnya sebagai pemelintiran tersebut bisa jadi terjadi secara sadar bisa pula terjadi tidak diniatkan sebagai pengaburan masa lalu. Soeharto dan rezimnya memiliki kosa kata yang terbatas, dapat dipahami jika mereka memilih untaian kata “berbahasa satu” daripada “menjunjung bahasa persatuan.” Toh kata-kata tersebut sudah ada sejak lama sebelum mereka berkuasa, bahkan bagi mereka autoritarianisme termasuk dalam bahasa dan budaya adalah sesuatu yang normal.

Jadilah kita sebagai pemuda yang terpisah sekian tahun dari peristiwa sejarah seringkali tiada sadar ataupun peduli pada apa yang terjadi sebenarnya dan mengulang-ulang saja ketidaktepatan tersebut. Sebuah contoh memetic mutation yang terjadi karena kita semua hendak menyederhanakan pemahaman kita. Maka dari itu bisa terjadi kebingungan antara fiksi dan fakta. Bahkan tidak disadari kita menggunakan mentalitas masa kini untuk menjelaskan mentalitas zaman lalu.

Maka terjadilah kebingungan seperti ini:

bung_tomo

Tidak ada perhatian pada siapa aktor-aktor sejarah yang terlibat. Tidak mau tahu pihak-pihak yang ada bertindak atas dasar apa, “pokoknya Belanda datang membonceng!”

Maka seorang sejarawan (tepatnya arkeolog) berteriak lantang “MAJAPAHIT TIDAK MENGUASAI NUSANTARA!!!” Sebagai reaksi atas penggambaran supremasi Majapahit dalam geopolitik Nusantara di buku-buku pelajaran. Itu tidak lain karena ketika sejarawan menyatakan Majapahit menjadi overlord banyak wilayah nusantara maka para pendidik menyatakan Majapahit menguasai Nusantara. Tanpa peduli seperti apa bentuk dan praktik tata negara masa lalu, kita membayangkan Majapahit layaknya Belanda berkuasa atas Jawa.

Ah, memang masa lalu itu terlampau rumit. Tiada dapat kita menyederhanakannya sekehendak kita, namun kerumitan itulah yang menjadi keindahannya.

Advertisements

One thought on “Ketidaktelitian hingga Anakronisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s