Pujangga Jawa dan Bayang-bayang Kolonial [Review]

img0011-30

Judul : Pujangga Jawa dan Bayang-bayang Kolonial

Penulis : S Margana

Penerbit : Pustaka Pelajar (2004)

Pujangga Jawa hingga kini adalah sumber ilmu esoteris bagi banyak kalangan sementara cendekiawan Belanda sebagai bagian kolonial membawa tradisi keilmuan dan kepentingan yang berbeda dengan pujangga. Bagaimana dua tradisi dan kepentingan ini bertemu dan saling mempengaruhi dalam perkembangan sastra Jawa dan historiografi Jawa tradisional di lingkungan keraton Surakarta adalah bahasan utama dalam buku ini.

Buku ini ditulis dalam tujuh bab, termasuk pendahuluan dan epilog. Bab kedua membahas posisi karya sastra Jawa dalam penulisan sejarah dan problem-problemnya. Bab ketiga membahas diskursus mengenai “renaisans” sastra Jawa yang ditenggarai terdapat bias orientalis kolonial. Bab ke empat membahas mengenai para Javanisi kolonial dan intelektual Jawa pada abad 19. Baru pada bab ke lima pembahasan mengenai para pujangga dan karya-karya sastra penting masa ini dibahas. Pada bab ke enam pembahasan beralih pada patron kesusastraan, dan juga karya sastra yang ditulis oleh para patron tersebut.

Anggapan mengenai adanya renaisans sastra Jawa berimplikasi pada adanya suatu masa kegelapan (dark age) pada masa ketika sastra pasisir yang berbau Islam sedang dominan. Ini dianggap sebagai konstruksi kolonial dalam membendung pengaruh Islam yang telah menyebabkan pemberontakan terhadap kekuasaan kolonial, suatu kecenderungan orientalis sebagaimana diungkapkan Edward Said. Namun terdapat pula catatan bahwa di pesantren-pesantren karya-karya non-Islam tetap mendapat tempat sebagai pengetahuan esoteris yang juga memiliki kecenderungan penolakan akan kekuasaan asing.

Pengaruh cendekiawan barat dalam membentuk kodifikasi pengetahuan bahasa kawi ataupun pengetahuan lainnya tidak dapat dihindari. Ada interaksi yang intens antara cendekiawan Belanda dengan para pujangga sementara para pujangga sendiri kadang tidak memiliki panduan tetap dalam penterjemahan karya-karya klasik. Bahkan CF Winter ditempatkan pada posisi yang setara dengan pujangga keraton Surakarta.

Umumnya hubungan patron-klien antara pujangga dan penguasa disederhanakan sebagai hubungan antara raja sebagai pelindung dengan cendekiawan dan seniman sebagai penghasil produk budaya. Namun penulis menyajikan bahwa hubungan tersebut tidak sederhana dan patron para pujangga kadang bergeser kepada Mangkunegaran atau putra Mahkota karena pengaruh peristiwa politik. Di lain pihak raja sebagai patron tidak hanya mengarahkan atau memesan karya dari pujangga, mereka juga membuat karyanya sendiri. Hingga akhirnya pada akhir abad 19 peran dan prestise pujangga amat berkurang dan hubungan Ranggawarsita dengan Raja dan Belanda tidak harmonis, tidak ada lagi pujangga besar Jawa.

Secara keseluruhan buku ini berhasil menggambarkan berbagai nuansa dalam karya-karya sastra Keraton Surakarta. Meski penulis menampilkan adanya kecenderungan orientalis dalam historiografi sejarah sastra Jawa, namun ia tidak terjebak menafikkannya begitu saja. Pendekatan biografis dan karya sastra untuk memahami sejarah sebagaimana dilakukan penulis dapat memperkuat narasi sejarah Indonesia. Sebagai pembuka untuk memahami karya sastra Jawa atau historiografi tradisional Jawa bagi mereka yang masih belum terbiasa, buku ini amat baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s