Karya Sastra Sebagai Perlawanan atas Orthodoksi Islam Jawa

Para Raja dan bangsawan Jawa adalah bagian tidak terpisahkan dari agama dan tradisi adiluhung yang menjadi lambang kekuasaan mereka. Bangsawan adalah orang terdekat dalam lingkaran raja, creme de la creme masyarakat Jawa yang dengan kekuasaannya menjadi penjaga kebudayaan dan Agama (Islam) di Jawa dengan menjadi patron bagi penghasil kebudayaan seperti pujangga dan seniman maupun para pemuka agama. Dengan kata lain mereka ibarat pelita yang menyebarkan sinar budaya adiluhung dan agama Islam.

Namun abad 19 adalah masa perubahan drastis dalam masyarakat Jawa. Kalangan Bangsawan yang sebelumnya melaksanakan kekuasaan secara ad-hoc mengamankan posisinya dengan menjadi pelaksana administrasi kolonial.1 Sementara elite desa yang memperoleh kekayaan mendapatkan kesempatan untuk berhaji dan memperkuat hubungan dengan Mekkah/arab.2

Hubungan antara bangsawan (dan priyayi) dengan penguasa kolonial menjadikan mereka dekat dan membuka pintu untuk menyerap kebudayaan Barat dan bahkan menjadi bagiannya.3 Merekalah yang pertama menapis pengetahuan dari barat melalui sekolah-sekolah khusus untuk para calon bupati.4

Transportasi laut yang cukup baik pada abad 19 memberi kesempatan sekitar 2000 orang tiap tahunnya untuk menjalankan ibadah haji. Hadir pula imigran arab yang membentuk kontak yang baik antara Indonesia/Jawa dengan dunia arab.5 Bahkan Snouck Hurgronje menyatakan bahwa faqih dari Hadramaut mempunyai pengaruh kuat di istana.6

Dua hal ini rupanya telah menyebabkan kondisi yang saling bertentangan. Kalangan bangsawan dan priyayi telah mendapat perlindungan dan menyerap ilmu-ilmu barat. Di masa yang sama kalangan santri semakin kuat pengaruhnya di masyarakat dan semakin memperkuat keislamannya. Padahal sebelumnya telah terjadi perang besar yang mengambil identitas Islam sebagai pendorongnya yaitu Perang Diponegoro yang telah mengancam kedudukan bangsawan. Seperti apakah kemudian reaksi dari kalangan bangsawan terhadap ortodoksi Islam tersebut? Tulisan ini akan melihatnya melalui dua karya yaitu Suluk Gatoloco dan Serat Dermagandul.

Masa Keemasan Sastra Jawa dan Konstruksi Kolonial

Pigeaud membagi sastra Jawa dalam empat periode yang saling tumpang-tindih yaitu periode pra-Islam (900-1500 M), periode Jawa-Bali (Abad 16-19 M) dimana tradisi sastra Jawa pra-Islam dilanjutkan di Bali, dan sastra pesisir Jawa (16-19 M) yang menggunakan ungkapan pesisir dan dipengaruhi Islam, dan terakhir adalah Renaissans Jawa (abad 19).7 Periodisasi ini yang menyebut renaissans8 sastra Jawa menyiratkan bahwa adanya kemunduran sastra dan bahwa sastra pra-Islam memiliki nilai-nilai lebih tinggi.

Gagasan bahwa masa pra-Islam yang merupakan masa keemasan Jawa ditemukan ditemukan paling awal setidaknya dalam karya Sir Thomas Stanford Raffles History of Java. Selanjutnya dapat dilihat terdapat keterlibatan besar antara Javanici Belanda dengan para pujangga istana. Para intelektual Jawa Surakarta mendapat tempat untuk berdiskusi dengan para abdi dalem panyeratan.9

Kedekatan antara Javanici Barat dan pujangga tentunya tidak dapat disangsikan memberi kesempatan terjadinya saling kooptasi pemikiran bagi kedua pihak. Bahkan para Javanici tersebut telah dianggap menjadi sumber yang dipercaya oleh para pujangga Jawa.10

Suluk Gatoloco

Suluk Gatoloco adalah karya sastra Jawa ditulis dengan gaya suluk yang merupakan salah satu bentuk sastra Islam. Diperkirakan ia ditulis setelah 1830.11 Namun secara mengejutkan ia berisi kisah yang memiliki sentimen anti Islam dan menggunakan istilah-istilah vulgar yang mengganggu banyak pihak.

Suluk ini bercerita tentang kisah Gatoloco (Gato, Jawa-penis. Loco, Jawa-gosok) yang buruk rupa, putra dewa tertinggi Suksma Wisesa yang memerintah dengan patihnya Nur Muhammad. Setelah dewasa ia dikirim untuk melalukan perjalanan dan diperingatkan akan bahaya dari Perjiwati (Perji, Jawa-vagina dari bahasa Arab-farj). Dalam perjalanannya Gatoloco menikmati berbagai perjudian dan candu, diselingi dengan perdebatan dengan kyai dan para santri.12 Di sini Gatoloco menunjukkan perlawanan terhadap pehaman orthodox Islam dan menunjukkan keunggulan kedalaman ilmu esoteris.

Gatoloco kemudian menemukan jalan menuju gua Perjiwati. Ia bermaksud mengikutinya namun gagal, akhirnya setelah melalui pertempuran hebat ia berhasil memenangkan Perjiwati dan akhirnya setelah 9 bulan mendapatkan anak yang tidak kalah buruk rupa dengan orangtuanya. Pertemuan ini tidak lain adalah simbol pertemuan antara Lingga dan Yoni (hubungan seksual) yang ada sejak zaman Hindu-Buddha.13

Bisa dibaca bahwa Suluk Gatoloco ini adalah suatu subversi atas budaya Islam-Jawa. Ia menggunakan bentuk Suluk yang biasanya merupakan media penyampai nasihat Islam menjadi media pengantar sentimen anti-orthodoksi Islam. Bahkan tema persatuan lelaki dan wanita dari Hindu-Buddha pun ditemui di dalamnya.

Serat Dermagandul

Serat Dermagandul lebih berani dibandingkan dengan Suluk Gatoloco. Serat ini ditulis setidaknya 1879.14 Serat ini bercerita tentang jatuhnya Majapahit melalui cerita Kalamwadi kepada Dermagandul. Di sini diceritakan kisah masuknya Brawijaya ke dalam agama Islam dan perginya dua abdinya (Sabdapalon dan Nayagenggong). Sunan Bonang digambarkan sebagai seorang yang kasar dan mempengaruhi Raden patah untuk mengambil alih Majapahit.15

Islamnya Prabu Brawijaya ditolak oleh dua abdinya, Sabdapalon dan Nayagenggong yang menolak argumen-argumen Islam mengenai akhirat dan bahwa mereka adalah wajah asli Jawa yang akan hilang jika ia memeluk Islam.16

Drewes menyebut bahwa kemunculan mereka 4 abad setelah Islamnya Brawijaya adalah merujuk pada dibukanya sekolah Belanda untuk bangsawan pada 1879.17 Sabdapalon menyatakan bahwa ia akan kembali muncul pada saat Jawa diperintah oleh penguasa yang memiliki satu mata, yaitu memusatkan perhatiannya pada Jawa.18 Kehadiran Belanda diramalkan akan menjadi kembalinya bangsa Jawa kepada sifat sejatinya pada agama Budi. Di sinilah supremasi Belanda sebagai sumber ilmu mengenai pujangga (yang terkait masa lalu) maupun ilmu modern (administrasi dan kedokteran) terlihat.

Kesimpulan

Orthodoksi Islam dan mobilitas kaum santri di masyarakat Jawa abad 19 tidak dapat dipungkiri memunculkan reaksi dari kalangan bangsawan dan priyayi. Reaksi yang terjadi adalah mereka menengok kembali ke masa sebelum Islam dan Belanda sebagai alternatif atas Islam, tidak lain adalah karena Belanda telah dianggap menunjukkan keunggulannya dalam pengetahuan mengenai masa lalu dan pengetahuan modern.

1MC Ricklefs, Polarising Javanese Society (National University of Singapore : Singapore, 2007) halaman 23.

2Ibid, halaman 27

3Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya I. Batas-Batas Pembaratan (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 2008) halaman 103

4Ibid, halaman 107

5Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya II. Jaringan Asia (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 2008) halaman 72

6CC Berg, Islamisation of Java, dari Studia Islamica, No 4 halaman 112

7Th Pigeaud, The Literature of Java, Vol I (The Hague: M Nijhoff, 1967), halaman 2-7

8Gagasan rennaissance dalam sejarah Barat terkait dengan kelahiran kembali sastra dan seni yang menggali sumber-sumber klasik (Yunani-Romawi) dan reformasi pendidikan yang luas namun bertahap. Rennaissance dianggap telah membuka pintu kemajuan barat. http://en.wikipedia.org/wiki/Renaissance

9S Margana, Pujangga Jawa dan Bayang-Bayang Kolonial (Pustaka Pelajar: yogyakarta, 2004), halaman 110

10Sebagaimana tergambar dalam hubungan antara Ranggawarsita, CF Winter, dan Mangkunegara IV. S Margana, Op cit, halaman 225-229

11Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya II. Jaringan Asia (Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 2008) halaman 437

12Bennedict ROG Anderson, Suluk Gatoloco: Part 1, Indonesia, No 32 (Cornell University: Ithaca New York, 1981) halaman 112

13Ibid, halaman 111-112

14GWJ Drewes, The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by The Serat DermagandulI, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 122, 3de Afl. (KITLV: Leiden, 1966), halaman 326

15Dennys Lombard, Op Cit, halaman 348

16GWJ Drewes, Op Cit, halaman 359-361

17Ibid, halaman 326

18Ibid, halaman 361

 

Advertisements

2 thoughts on “Karya Sastra Sebagai Perlawanan atas Orthodoksi Islam Jawa

  1. Pingback: ayatayatadit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s