Membaca Ikrar Nusa Bhakti

Untaian kata dari Najwa Shihab yang menyebut sikap hemat kata dan keteguhan Megawati dijadikan sebagai pembuka tulisan Ikrar Nusa Bhakti di opini Kompas rabu 6 Februari lalu. Bagi saya tulisan ini tidak lebih menarik dibandingkan dengan tulisan Franz Magnis Suseno di halaman yang sama. Namun sungguh lebih menarik addalah bagaimana gelar profesor riset di Pusat Penilitian Politik LIPI digunakan sebagai kredit penulis.

Memang betul Ikrar Nusa Bhakti adalah seorang peneliti LIPI yang aktif menelurkan karya di bidang politik Indonesia. Namun tulisan sebagaimana dimuat di Kompas kemarin lusa sungguh mengganjal. Seorang profesor politik dari LIPI memberikan gambaran berbunga-bunga tentang mantan presiden yang masih aktif berpolitik tersebut.

Bukan saja ia menggambarkan kisah DO dari Unpad dengan penuh bunga-bunga ia juga mengingatkan kembali pesan sedih Padoeka Jang Moelia di senjakalanya dan tak lupa memberikan statistik keriuhan dunia maya atas kicauan “Indonesia Raya.” Namun inti dari tulisan ini adalah satu: perkara pencalonan Jokowi.

Jokowi memang kader PDIP yang melejit amat cepat bila dibandingkan dengan walikota cemerlang lainnya yang kini didera banyak masalah. Tidak heran, menurut Ikrar Nusa Bhakti, Megawati hingga kini tidak menyatakan Ikrar Nusa Bhakti sebagai calon PDIP namun terus membawanya sebagai pendamping dalam kegiatan politik informalnya. Namun hingga kini PDIP (baca: Megawati) belum mendeklarasikan calon untuk 2014.

Ikrar Nusa Bhakti di sini menyebut nama Jusuf Kalla layak sebagai pendamping bagi Jokowi karena senioritasnya juga menyebut bahwa nanti Megawati tidak akan “maju kembali” melainkan memberi permisi dan memberi jalan bagi Jokowi untuk memimpin negeri ini. Dibalik untaian narasi romantis kisah hidup dan keindahan pikiran Megawati maka kita dapat melihat dua hal ini adalah poin utama yang ingin disampaikan oleh Ikrar Nusa Bhakti.

Sang Profesor tidak ingin menuliskan apologi atas figur Megawati, ia sedang menuliskan nasihatnya untuk partai yang hatinya sedang bertaut. Ia sedang berlaku seperti Machiavelli yang menuliskan persembahannya The Prince dan Discourse bagi keluarga penguasa Republik Florence, Borgia.

Bagaimanakah banteng moncong putih akan berjalan?

Advertisements

2 thoughts on “Membaca Ikrar Nusa Bhakti

  1. Pingback: Gosip 3 Partai | ayatayatadit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s