Glory for Loser

Holla kawan-kawan semua, adakah anda semua menikmati minggu ini? Di temgah minggu ini ada pesta demokrasi, pemilihan legislatif 2014. Adakah anda ikut berpesta dengan rakyat Indonesia lainnya atau malah berteriak “Demokrasi BIADAB! Demokrasi LAKNAT!” Bagaimana kabar jari anda, sudah hilang belum tinta tanda anda sudah mencoblosnya?

asrika_coblos

Kebanyakan nanya, kepo nigh yang punya blog.

Omong-omong soal pemilu beberapa waktu lalu saya sempat sebut adanya polling yang menempatkan PDIP, Gerindra, dan PKS dalam tiga besar. Seperti saya sebut di sana internet memang terbatas. Warga dunia maya yang aktif mendukung partai tertentu kalah jumlah dengan orang-orang yang ndak kepikiran memilih yang lain selain pohon beringin (peringkat 2) atau yang manut apa kata kyai, milih bintang 9 yang mampu menyaingi demokrat. Tapi itu hitungan popular vote lho. Hasil perolehan kursinya nanti baka beda lagi. Jangan sakit hati kalu urutannya berubah.

Soal sakit hati ada banyak orang yang sakit hati. Ada yang sudah susah-susah bagi-bagi kompor sebanyak 50 buah ternyata tidak lolos menjadi anggota legislatif. Apa boleh buat, kompor harus ditarik kembali. Ada lagi yang apes, ndak berani pulang ke rumah gara-gara ndak bisa bayar saksi. Pusinglah kepala jika ikut main untuk jadi calon anggota dewan, sampai-sampai ada pula yang menenangkan diri ke pesantren. Untunglah, sebagian dari mereka sudah mendapat jaminan kesehatan masyarakat, jadi bisa dirawat di rumah sakit jiwa tanpa biaya.

posko-caleg-stres

Saya malas berbicara tentang benar atau salah para caleg (dan rakyat Indonesia) memandang fungsi legislatif dan pemilu kita. Capek dan sudah ada yang bakal membicarakannya. Yang perlu kita tanyakan adalah tidakkah mereka belajar?

Pada pemilu 2004 hanya ada 2 orang anggota DPR (salah satunya mungkin anda benci) yang dipilih langsung oleh pemilih, 548 orang lainnya mendapat suara dari partainya atau sisa suara lainnya. Nah, jika anda berada di nomor urut ke 3, 4, 5, dan seterusnya buat apa berharap terpilih? Delusi itu namanya.

Tapi mereka para caleg itu tentu tidak pernah belajar untuk mempersiapkan diri jadi anggota legislatif. Kalau sudah belajar politik dll nanti tidak ada alasan untuk studi banding.

Kembali soal delusi, dari mana asal delusi tersebut? Delusi tersebut tidak lain tentu diajarkan oleh para petinggi partai tempat caleg bernaung. Para pimpinan pusat partaipastinya mendirikan partai dengan optimisme akan Indonesia baru. Mungkin juga situ akan bilang optimisme yang ada adalah untuk jabatan baru. Apapun itu yang jelas Hary Tanoe optimis pendapatan rata-rata rakyat Indonesia bisa mencapai 12 juta perbulan. Mungkin tercapai dengan naiknya PDB nasional atau mungkin juga tercapai dengan inflasi, siapa tahu 10 tahun lagi makan nasi telur-tempe di warteg harganya sudah 300 ribu rupiah.

picture definitely related

picture definitely related

Optimisme inilah yang menghasilkan delusi. Ketika keinginan dan harapan tidak disesuaikan kenyataan maka tentu tindakan dan ucapan tidak akan berdasar kenyataan. Maka kenyataan yang pahit ini menyebabkan penolakan, hasil pemilu yang merupakan suatu realita pun disebut tidak masuk akal. Seperti apakah gambaran tentang rakyat Indonesia dalam kepala beliau jika satu cara legal untuk mengukur pendapat rakyat ia sebut tidak masuk akal? Di tingkat nasional pimpinan partai mengatakan tidak masuk akal, di daerah para caleg kehilangan akalnya.

Selain penolakan, reaksi lain yang muncul adalah saling menyalahkan. Adalah Hary Tanoe disalahkan Fuad Bawazier sebagai penyebab Hanura berada di urutan 10. Padahal Hanura mendapat suara hampir dua kali yang didapatnya pemilu lalu. Bahkan jika dibandingkan dengan partai lainnya yang mempunyai basis jelas, seberapa kuat Wiranto dapat menarik massa? Inilah hasil usaha Hary Tanoe melakukan serangan udara, sebab pasti strategi Wiranto “tembak duluan” adalah strategi yang cukup ganjil bila dibandingakan dengan ajang pencalonan manapun.

Pada akhirnya apa yang terjadi seminggu terakhir dan akan terjadi pada bulan-bulan terakhir meski amat dipengaruhi oleh para elit tidak lain adalah cerminan masyarakat kita. Para elit tersebut mungkin bukanlah the hero we need namun mereka adalah the hero we deserves. Kritik ataupun gerutu yang nantinya akan keluar dari mulut kita tetaplah mereka cerminan dari diri kita.

Hurrah to the LOSER!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s