40 Years of Silence [REVIEW]

 “40 Years of Silence: An Indonesian Tragedy” adalah film sepanjang 86 menit karya Robert Lemelson yang memotret pengalaman-pengalaman korban pembersihan PKI pasca kudeta 1965. Film ini menyajikan testimoni dari empat keluarga dengan berbagai latar belakang sosial dan etnis yang berbeda-beda.

40-Years-of-Silence-Poster

Film ini memiliki nilai produksi yang tinggi, terasa dengan musik latar yang amat menyatu dan narasi yang dapat dapat dinikmati oleh kalangan umum. Namun film ini bukanlah sekedar dibuat untuk menjadi tontonan semata, ia hadir untuk menjadi pelengkap narasi yang dibuat oleh Orde Baru bahwa komunis adalah pelaku kudeta yang memecah persatuan. Film ini menggali pengalaman dari mereka yang dicap sebagai komunis.

Tidak semua orang dapat mengingat kembali pengalaman traumatis mereka, ini terlihat dari wawancara Mudakir dan Kereta mengenai pengalaman traumatisnya. Pak Mudakir mengaku terkadang ia tidak dapat mengingat pengalamannya pada masa dibuang di pulau Buru sementara Pak Kereta tidak mengingat lagu genjer-genjer yang diidentikkan dengan PKI tersebut. Namun dengan wawancara yang dilakukan secara bertahap pada rentang waktu yang lama memberi kesempatan bagi Lemelson untuk membangun kepercayaan para penutur. Penggunaan tiga sejarawan (John Roosa, Geoffrey Robinson, dan Baskara Wardoyo) sebagai pemberi narasi sejarah membantu memberikan perspektif dan konteks bagi cerita yang diberikan oleh para penutur, namun kehadiran Lemelson sendiri untuk memberikan komentar justru tidak terasa pada tempatnya sebab film ini adalah film buatannya, tentu ia tidak perlu muncul lagi untuk menyampaikan narasi yang ia inginkan.

Film ini tidak hanya membahas mengenai pengalaman yang dialami keluarga tersebut pada masa pembersihan PKI namun juga membahas perjuangan para ekstapol untuk kembali ke masyarakat meski cemoohan “keluarga PKI” terus dilemparkan. Hal ini terlihat pada pengalaman Kris dan Budi yang mengalami penganiayaan oleh masyarakat. Usaha masing-masing keluarga untuk bangkit melanjutkan kehidupan dan menyembuhkan trauma yang dialami juga menjadi bagian narasi yang dituturkan.

keluarga "pki"

Hal ini adalah bagian terpenting dalam narasi yang diungkapkan film ini karena pesan film ini bukanlah untuk membandingkan Orde Baru dengan Nazi (seperti yang dilakukan di awal film) namun pesan film ini adalah rekonsiliasi. Membuka kembali masa lalu bukanlah untuk menjustifikasi balas dendam atau mengambil alih kekuasaan namun untuk terjadinya rekonsiliasi diperlukan pengakuan atas trauma yang dialami di masa lalu.

Advertisements

7 thoughts on “40 Years of Silence [REVIEW]

  1. Reblogged this on Buddy47's Blog and commented:
    mas adit… tolong di edit… foto nomor 2 bukanlah keluarga pki. namun korban ,, bapak itu di buang di pulau buru saat masih smp.. di suruh nyanyi dia nyanyi disuruh tari dia menari lalu diangkut kedalam truk dan tidak pulang tapi sampai di pulau buru… mohon diralat dan jadilah penonton yang bijak dan penonton yang kritis

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s