Tidak Ada Demo di Bunderan

Akhirnya, UU Pilkada telah selesai disahkan oleh DPR. Telah lama ramai-ramai seminggu kemarin membahasnya dan mungkin anda ikut berdemo atau setidaknya membahasnya diangkringan/warung kopi tempat biasa nongkrong.

kami menang!

kami menang!

Rupa-rupanya pembahasan RUU ini disertai drama lucu, SBY yang memimpin Partai Demokrat menyatakan diri mendukung pilkada langsung. Padahal partainya berada di koalisi merah-putih. Apa boleh buat, pemimpin fraksi kudu putar otak supaya huhungan baik dengan sesama merah-putih bisa terjaga. Apa yang dilakukan? Mereka mengajukan 10 catatan. Puan Maharani menanggapi bahwa materi dalam 10 hal tersebut sudah ada di dalam RUU. Ujung-ujungnya mereka menyatakan tak puas dan walk-out, hanya 6 orang dari partai tersebut yang bertahan. Ada yang bilang semua itu hanya sekedar drama saja.

Apa akibatnya nanti? Tempo membuat prediksi yang menakutkan (those fear mongering bastard!). Koalisi Merah-Putih akan segera menguasai daerah-daerah teriaknya!

Sebenarnya koalisi Merah-Putih menguasai banyak provinsi sama sekali bukanlah masalah. Masalah yang dapat terjadi adalah dengan pemilih yang sedikit kecurangan tetap bisa terjadi, entah bagaimana caranya DPRD bisa diakali. Permasalahan lebih buruk adalah di daerah dengan rasa memiliki Republik yang kurang kuat, ketika masyarakat dijauhkan dari kepala daerahnya akankah mereka kembali menganggap bahwa sang Gubernur adalah orang suruhan Jakarta? Kita melihat bahwa Aceh memiliki Gubernur yang terlibat GAM. Kini rakyat memilih mereka sebagai bagian dari pemerintahan Indonesia.

kaskus

Salah satu argumen yang menolak pemilihan langsung (untuk Presiden maupun kepala daerah) adalah dari mereka yang tidak menerima bahwa mereka yang merupakan kaum terdidik suaranya disetarakan dengan masyarakat yang tidak terdidik. Namun bagi saya pendidikan =/= kecerdasan. Mereka yang cerdas mungkin saja tidak terdidik. Selain kecerdasan ini hal lain yang dibutuhkan agar pemilihan berjalan benar adalah kelurusan hati. Kelurusan hati ini kan menjadikan seseorang memilih dengan jujur dan adil. Dengan kata lain pendidikan dan status sosial tidak menjamin seseorang memilih dengan bekal yang diberikan Allah (akal & hati). Jika memang yang terpilih adalah pembawa kerusakan, maka tidak lain adalah masyarakatnya sendiri yang sudah lepas dari berkah Allah.

Ketika kita mengatakan bahwa untuk memilih harus dengan syarat tertentu, adakah Utsman bin Affan yang kaya dan seorang pedagang ulung mensyaratkan nabi harus lebih kaya dibanding dia? Bukankah ketinggian hati seperti itu yang menyebabkan hidayah tidak sampai kepada Abu Jahal?

Ah, nasi sudah jadi bubur. Apa lagi yang bisa dilakukan?

hate

By the way, kenapa saya kassi judul macam ini? Rupa-rupanya kali ini BEM yang biasanya ramai menunjukkan bahwa mereka bukanlah sekedar contrarian. Hari ini Bunderan tidak diisi oleh demonstran. Mungkin faksi/kelompok yang biasa menguasai BEM sudah mendapatkan petunjuk dari ‘senior’nya bahwa tidak perlu melakukan demonstrasi. “Kasihan kakak-kakak kalian di Dewan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s