3 Wajah Penerus Darul Islam

Darul Islam, sebuah gerakan yang mengangkat senjata melawan Republik Indonesia demi visi mereka menjadikan negeri Indonesia sebagai negara Islam. Perjuangan bersenjata mereka akhirnya kalah pada 1962. Berbagai letupan perlawanan muncul sepanjang 70an dan 80an, tentu saja rezim ketika itu membalasnya dengan represi tidak kalah keras. Kini gerakan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo ini kini memiliki wajah-wajah yang tidak satu, bahkan ada yang tidak lagi menganggap Darul islam sebagai sumber gerakan mereka.

karto_suwiryo

1. Shalat Membelakangi Kiblat, Kelompok Sensen Komara

Mereka tidak takut, shalat berjamaah dengan membelakangi kiblat. Entah apa yang dijadikan acuan kiblat ataupun dalil fiqih yang mereka gunakan dalam menentukan kiblat, yang jelas vonis pengadilan dan kemarahan massa tidak menjadikan mereka berkeberatan foto mereka dimuat di majalah dan situs Tempo. Berada di jantung perjuangan Kartosuwiryo di Periangan Timur memudahkan Sensen Komara menghimpun anak-anak mantan penjuang Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, ia mengklaim ada sekitar 3000 orang yang dapat dihimpunnya.

Meski pernah ada kemarahan massa atas ibadah nyeleneh mereka, namun petinggi pesantren terdekat tak terlalu menghiraukan mereka.  “Karena imamnya gila,” ujar Salaf Sholeh, sesepuh pesantren Darussalam. Memang, mengganti nama Muhammad dalam adzan dengan Sensen Komara hanya memiliki dua kemungkinan, perlawanan atau kegilaan. Tak heran, meski Sensen Komara menyebut ia dapat menghimpun 3000 orang, hanya 20 orang yang terlihat mengakui Sensen Komara sebagai imam mereka. Mungkin mereka mengganggap vonis bahwa Sensen tidak dapat dipidana karena gila sebagai taktik belaka untuk menghindar hukuman penjara seumur hidup.

Sensen Komara memimpin jamaahnya.

Sensen Komara memimpin jamaahnya.

Sensen Komara memperlihatkan wajah penerus Darul Islam yang menyisihkan diri dari masyarakat. Identitas sebagai penerus gerakan Daul Islam dan membawa nama NII lebih penting daripada sekedar masalah fikih.

2. Pesantren Megah dan Penggalangan Dana

Menampung 5000 orang lebih santri dari dalam dan luar negeri, ia dilengkapi fasilitas kesehatan, dapur komplet, binatu, dan saluran telepon internasional, pesantren Al-Zaytun Indramayu tidak akan menghasilkan santri buduk. Tentu saja, untuk semua ini biayanya tidak murah, tiap santri dibebankan biaya 3500 USD untuk belajar selama enam tahun di pesantren ini. Namun biaya besar bukan hanya dibebankan kepada santri dan orangtua santri.

Adalah Abu Toto atau Panji Gumilang, ditunjuk oleh Adah Djaelani untuk memimpin NII Komandemen Wilayah – 9 (Jakarta dan sekitarnya) pada tahun 1996. Meski mendapat tentangan keras ia segera melakukan program penggalangan dana secara agresif. Hingga kini penggalangan dana dengan berbagai cara ini menjadi ciri khas gerakan NII KW-9/Al-Zaytun, berbagai gosip mengenai anak yang hilang, dicuci otak, dll umumnya dinisbatkan pada mereka.

Namun cikal bakal keanehan gerakan ini dapat dilacak lebih jauh. Sifat pengajian tertutup atau kelompok sistem sel yang disebut usrah muncul sejak dasawarsa 80an sebagai upaya untuk menghindari penguasa (dilakukan hampir semua gerakan, bahkan HMI). Gerakan-gerakan yang menggunakan bay’at dalam inisiasi sudah muncul sejak 80an, salah satunya adalah NII ini. Pernyataan bahwa syariat belum berlaku (sehingga tidak perlu shalat dan menutup aurat) juga tidak tiba-tiba muncul pada saat Panji Gumilang memimpin NII KW-9.

110248_ponpes-al-zaytun_663_382

Penulis mendapatkan cerita langsung dari seorang alumni UGM yang melakukan penyelidikan dan pengusiran terhadap anggota organisasinya karena beberapa anggota organisasinya terlibat dalam gerakan ini pada tahun 1995. Kini 2 dari 5 orang yang dikeluarkan dari organisasi tersebut menjadi guru di pesantren Al-Zaytun. Dari sini bisa kita ekstrapolasikan bahwa NII dengan sifat ini sudah memiliki jaringan setidaknya sejak awal 90an. Bahkan ini terjadi di UGM (Yogyakarta) yang seharusnya diluar wilayah KW-9.

3. Mereka yang Menemukan Ideologi Baru

Sebelum munculnya Komandemen Wilayah 9 pimpinan Adah Djaelani dan Abu Toto muncul ada Ajengan Masduki yang memimpin kaum radikal NII yang terserak setelah penumpasan “Komando Jihad.” Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir adalah keturunan Hadramaut, direkrut sebagai “kaum muda” di barisan NII yang membina hubungan dengan islamis dari luar negeri. Abdullah Sungkar cukup sukses membina hubungan luar negeri, jaringan mujahidin Afghanistan.

a-sungkar-a-b-basyir

Namun pergaulan dan latar belakang keduanya yang akrab dengan mujahidin luar menimbulkan pertentangan dengan Ajengan Masduki. Kartosuwiryo dan Ajengan Masduki dibentuk oleh didikan Islam tradisional Jawa yang lekat dengan beragam keajaiban dan pusaka dalam perjuangannya, namun salafi wahabi yang menjadi ideologi mujahidin menganggap ajian dan pusaka sebagi bagian dari sihr dan kemusyrikan.

Abdullah Sungkar membina para mujahidin yang berangkat ke Afghanistan. Mereka inilah yang kemudian menjadi tulang punggung jaringan Jama’ah Islamiyah, sementara di tingkat dunia Usamah bin Ladin dan Abdullah Azzam membentuk jaringan yang sama untuk jihad global (Bosnia dan Chechnya). Ketika Jaringan global ini bertransformasi menjadi Al-Qaidah, Jama’ah Islamiyah pun ikut menjadi bagian regional AQ. Abu Bakr ba’asyir mengaku masih menghormait para pendahulu Darul Islam, “Mereka orang-orang yang perjuangannya lurus.”

Setelah tragedi Ambon 1999, Abu Bakar Ba’asyir menggerakkan mujahidin ke Ambon untuk jihad dalam konflik horizontal tersebut. Para anggota Darul Islam yang setia pada Ajengan pun terpecah lagi antara yang menghendaki perjuangan bersenjata dan yang tidak menghendakinya. Dalam jihad ambon ini mereka bertemu kembali dan melupakan perselisihannya.

================

Disadur dari beberapa sumber : Tempo, blog alkhilafah, dan disertasi Yon machmudi: Islamising Indonesia.

Catatan : belum memasukkan kelompok Al-Chaidar karena belum ada sumber cerita yang cukup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s