Episode Baru Kisah Hobbit Flores

lianghobbits

Jikalau anda pemerhati sejarah dan kepurbakalaan Indonesia, tentu anda tahu tentang kontroversi tentang Homo floresiensis. Setelah 10 tahun setelah ditemukannya fosil hobbit kita menemukan lagi bahan bakar api kontroversi ini.

Bahan bakar kontroversi ini adalah hasil penelitian dari akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr Aman Bhakti Pulung yang menyatakan kekerdilan beberapa populasi terpencil Rampasasa adalah karena faktor genetis, bukan faktor gizi. Jawa Pos segera menyatakan bahwa kekerdilan pigmi Rampasasa adalah karena gen manusia purba.

Entah bersumber dari ketidaktelitian pengutip atau dari pernyataan Aman sendiri, menurut artikel Jawa Pos tersebut ia menyatakan bahwa pigmi Rampasasa adalah keturunan H. floresiensis. Namun di paragraf selanjutnya ia menyatakan kembali perlunya ada penelitian genetis untuk meyakinkan bahwa pigmi Rampasasa adalah keturunan H. floresiensis.

AmanBhaktiPulungan

Usaha untuk melakukan kajian DNA pada H floresiensis sudah berkali-kali dilakukan, namun berkali-kali pula gagal dan hingga kini belum didapat sampel DNA yang mencukupi. Kajian DNA ini adalah jalan tengah terakhir yang ditunggu khalayak untuk menengahi perdebatan apakah H floresiensis  adalah spesies baru ataukah ia adalah manusia modern yang mengalami kekerdilan.

Perdebatan antara dua kubu ini cukup ramai dan diwarnai dengan skandal rusaknya spesimen fosil. Skandal rusaknya spesimen ini tidaklah memiliki nilai apapun bagi argumen kedua pihak. Meski sudah banyak paper yang berusaha menyatakan bahwa fosil ini dari manusia modern (H sapiens), namun argumen yang dikemukakan paper-paper tersebut ditentang oleh arkeolog yang mempublikasikan H floresiensis sejak awal.

hobbit

Salah satu perbedaan mencolok H floresiensis adalah panjang lengannya yang hampir mencapai lutut. Proporsi badan H floresiensis amatlah berbeda dengan H sapiens, namun paper-paper yang menyebut spesimen ini dari manusia modern tidak membahas mengenai perbedaan proporsi tubuh ini dan lebih membahas bentuk tengkorak.

Pada akhirnya kita hanya bisa berharap bahwa nantinya akan muncul jawaban definitif melalui analisis DNA mengenai kekerabatan H. florensis dengan spesies-spesies manusia lainnya. Penelitian dr Aman B Pulung memang telah menunjukkan bahwa ukuran tubuh orang-orang Rampasasa saat ini bukanlah karena kekurangan gizi, namun kita tidak bisa memungkiri bahwa Island Dwarfism adalah fenomena umum terjadi, mungkin leluhur Rampasasa mengalami Island Dwarfism dan beberapa dusun Rampasasa ini adalah potret isolasi ribuan tahun yang menyebabkan kekerdilan genetis mereka terwariskan hingga kini.

=============================

Bacaan lanjutan:

Bentuk primitif pergelangan tangan H floresiensis tidak ditemui pada H sapiens dan H neandertal

Perbandingan volume otak H floresiensis dan hominin lainnya

Perbandingan bentuk otak H floresiensis, H Sapiens, P troglodyte, dan H sapiens dengan microcephaly

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s