Freemason, Mesir dan Jawa

Saya memulai blog ini dengan post pertama berupa fisking terhadap artikel scaremongering yang menghubungkan-hubungkan antara sajadah dan freemason. Di lain waktu saya juga pernah posting singkat soal freemason pribumi negeri ini. Kali ini saya mau nulis apa lagi soal Freemason?

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_een_Javaanse_regent_en_vrijmetselaar_TMnr_60042766

Adakah kita pernah terpikir betapa banyak hal yang kita nikmati hari ini adalah afek dari aktivitas dari anggota freemason? Mungkin anda terbiasa membaca pergunjingan soal freemason sebagai bagian dari konspirasi Yahudi untuk menguasai dan menghancurkan dunia. Namun adakah anda pernah melihat apa itu Freemason sebenarnya? Sepintas lalu dalam komedi Thin Blue Line Rowan Atkinson menyebut Fremason tak lain adalah organisasi untuk mencari koneksi (dan nepotisme). Silahkan anda cari sendiri definisi yang tepat akan masonry ini, jangan puas dengan definisi dari google atau bahkan buku atau artikel conspiracy theorist.

Sebagaimana ditunjukkan oleh foto yang saya berikan diatas, ternyata kalangan pribumi juga memiliki kesempatan untuk masuk dalam Tarekat Mason Bebas dan mereka menjadikan mason sebagai alat untuk memajukan negerinya. Ada lagi yang jarang diketahui oleh kaum muslim Indonesia bahwasanya perintis pemikir modernis Islam Jamaludin Afghani disinyalir pernah memimpin loji mason di Mesir.

Melalui dua kasus di Mesir dan Indonesia saya akan mencoba memperlihatkan Freemasonry sebagai sekedar alat yang dapat berguna dalam perjuangan kebangsaan dan pertentangan kalangan Islam dan mason di Indonesia adalah karena sebab-sebab yang tidak inheren dari dalam mason sendiri.

Jamaludin Al-Afghani & Kawkab As-Sharq

Nama Bintang Timur jamak digunakan oleh loji-loji mason di luar Eropa, salah satunya di Kairo. Pengaruh Inggris di Mesir abad 19 tidak dapat dibantah, pengusiran tentara Napoleon hingga pembangunan rel kereta semua dilakukan dengan inisiatif Inggris. Tak heran bila ada anggota United Grand Lodge of England yang kemudian membentuk loji baru di Kairo. Adalah Raphael Borg, Vice-Consul Inggris di Kairo yang mengajak Jamaludin Al-Afghani untuk masuk loji ini.

Di dalam loji ini Jamaludin Al-Afghani mengundang banyak rekannya untuk bergabung, Taufik Pasha (putra mahkota Mesir), beberapa perwira angkatan bersenjata, anggota dewan, dan bahkan ulama. Mereka yang bergabung dalam loji mason Kairo ini nantinya akan menjadi cikal-bakal yang membawa kesadaran nasional Mesir nantinya. Bahkan pada 1878 Jamaludin Afghani terpilih menjadi pemimpin di salah satu loji di Kairo.

Sayyid_Dschamāl_ad-Dīn_al-Afghānī

This man was a mason. Would you believe that?

Di tiap negara perkumpulan mason memiliki sifat yang berbeda-beda sesuai kondisi nasional negara tersebut. Di Prancis mason berkembang menjadi organisasi anti-kependetaan dan membuka keanggotaan bagi atheis sementara di negara protestan seperti Inggris dan Belanda mereka menerima perlindungan ratu, bersifat apolitis, dan hanya menerima anggota yang beragama.

Sifat apolitis mason ini ditentang oleh Jamaludin Afghani. Ia merasa bahwa kedekatan mason dengan pemerintah Inggris dan sifat apolitis mereka hanya menunjukkan ketidakpedulian para mason terhadap lingkungannya. Rasyid Ridha menyebut bahwa ketika kedatangan Grand Master Inggris, Pangeran Wales, para anggota loji menyambutnya dengan mewah dan memanggilnya “Putra Mahkota.” Jamaludin sangat tidak setuju dengan hal ini yang bertentangan dengan tradisi egalitarian freemason. Jamaludin mengundurkan diri dan membawa pengikutnya, kemudian ia mendirikan lojinya sendiri.

Insiden ini menimbulkan gosip bahwa pemutusan hubungan antara Jamaludin Afghani dengan loji Inggris adalah karena ia menjadi Atheis. Namun bila kita lihat lagi, yang dipersoalkan oleh Jamaludin Afghani adalah sifat apolitis loji Inggris. Jamaludin Afghani meminta untuk bergabung dengan loji Paris ketika ia berkunjung ke Prancis. Adalah hal yang aneh bila ia adalah seorang Atheis pada saat itu, pada kesempatan ia di Paris ia berdebat dengan sejarawan-filsuf Prancis Ernest Renan yang menyebut bahwa Islam telah membawa kemunduran bagi masyarakat. Perdebatan ini dipuji oleh renan sendiri dan membawa nama Jamaludin Afghani di kalangan cendekiawan Eropa.

Di antara murid-murid Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha telah menjadi ulama dan pemikir Islam modernis terkemuka. Abduh malu-malu mengungkapkan keterlibatannya dan gurunya dalam freemason, namun Rasyid Ridha tidak malu-malu mengungkapkan bagaimana gurunya menggunakan freemason sebagi alat perjuangan untuk memajukan Islam.

Vrijmetselarij dan Boedi Oetomo

Freemasonry dikenal dengan nama Vrijmetselarij  di Belanda. Para pengusaha Belanda yang kebetulan merupakan mason melanjutkan hubungan mereka di Hindia. Adalah JCM Radermacher, seorang pejabat VOC yang mendirikan loji pertama di Indonesia pada 1762. Tidak lama mereka sudah menembus eselon tinggi VOC sehngga meninggalkan kerahasiaan mereka. Pada paruh kedua abad 19 keanggotaan dan jumlah loji-loji membengkak, Vrijmetselarij dianggap cara mudah bagi kalangan menengah Belanda untuk masuk ke dalam lingkaran pejabat kolonial.

Sifat humanitarian freemason membuka jalan bagi pribumi untuk memasuki loji-loji vrijmetselarij. Raden Saleh adalah orang pribumi pertama yang dicatat mengikuti inisiasi mason. Namun perkembangan keanggotaan pribumi vrijmetselarij  (kemudian oleh anggota pribumi disebut tarekat mason bebas) sangat terbatas. Meskipun loji-loji sudah menggunakan unsur lokal dalam ritusnya (penggunaan Quran dan pakaian Indonesia), namung anggota pribumi hanya 50 dari 1326 anggota mason di Hindia. Ini tidak lain karena mason adalah organisasi gaya hidup yang tidak dapat diikuti oleh rakyat kebanyakan.

Bila ditarik kebelakang, saat mulai berdirinya Boedi Oetomo adalah saat ketika Vrijmetselarij sedang berjaya di kalangan masyarakat Belanda di Indonesia. Kegiatan-kegiatan sosial Vrijmetselarij seperti mendirikan sekolah-sekolah merupakan perhatian utama Boedi Oetomo, membuat kita bertanya-tanya adakah Boedi Oetomo meniru Vrijmetselarij? Wahidin Soedirohoesodo mungkin memiliki pemikiran lain dalam pembentukan Boedi Oetomo. Namun para anggota pribumi Vrijmetselarij memandang bahwa Boedi Oetomo adalah wadah yang dapat membantu mewujudkan cita-cita yang sama dengan yang mereka temukan di Vrijmetselarij. Boedi Oetomo bagi mereka merupakan wadah yang baik untuk mengejawantahkan kewajiban seorang mason berbuat baik dan menjadi manusia berbudi.

Kini Boedi Oetomo dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional dalam sejarah resmi Indonesia. Meski ada keterbatasan keanggotaan dan aktivitasnya, semua anak sekolah akan menyebut Wahidin Soedirohoesodo dan Boedi Oetomo sebagai pelopor kebangkitan nasional. Namun pandangan ini mendapat tentangan dari beberapa kalangan Islam.

LogeMataram-3

Sikap para priyayi dan pembesar masa itu menjaga jarak terhadap ekspresi keislaman kalangan santri maupun borjuasi muslim urban. Kini kita mendapati tafsiran bahwa sikap para pengurus Boedi Oetomo yang anti-gerakan Islam saat itu adalah disebabkan pengaruh dari freemason yang “…anti-agama, sekuler, pluralis, dan dipengaruhi oleh ajaran theosofi…” Padahal jelas-jelas freemason didirikan bagi mereka yang mengaku sebagai Theis, apapun agamanya. Sifat pluralis maupun menjaga jarak terhadap Islam (dan diartikan anti-Islam) adalah hal pertikular di Hindia.

Saya pernah menulis bahwa pada akhir abad 19 sastrawan Jawa menghasilkan karya-karya yang anti-Islam. Kita bisa mengambil kerangka menyalahkan usaha-usaha dan pemikiran asing akan untuk melemahkan iman umat muslim atas hal ini. Namun keberadaan karya-karya seperti suluk Gatoloco dan serat Darmogandul menunjukkan adanya kecurigaan kepada kalangan islamis dari kalangan priyayi.

Ricklefs memotret kemunculan muslim yang saleh dan taat pada akhir abad 19 menimbulkan polarisasi dalam masyarakat Jawa. Para priyayi dan bangsawan yang sebelumnya merupakan satu-satunya pemegang prestise dan panutan masyarakat tersaingi dengan kemunculan haji-haji dan para kyai di pesantren. Di sini saya melihat bahwa dalam persaingan dan polarisasi yang terjadi di masyarakat, para priyayi dan bangsawan Jawa memilih untuk berkiblat ke Belanda dengan pemikiran yang dianggap modern.

Dalam perkembangan selanjutnya Vrijmetselarij atau Tarekat Mason Bebas tidak pernah menjadi organisasi yang signifikan di Indonesia. Bahkan penolakan mereka atas Manifesto Politik Soekarno pada masa demokrasi terpimpin menyebabkan akhirnya mereka dibubarkan dan dilarang di Indonesia.

Conclusio

Dengan melihat apa yang terjadi di Mesir dan di Indonesia kita bisa melihat bahwa sesungguhnya Freemason bukan organisasi yang secara inheren jahat atau buruk. Ia bisa menjadi alat untuk aktivisme politik maupun wadah aksi sosial. Namun sebagai perkumpulan ia juga mencerminkan mentalitas anggotanya. Ia bisa mewakili masyarakat kolonial yang acuh tak acuh terhadap politik (Inggris) atau bersikap menjaga jarak terhadap gerakan sosial-keagamaan (Jawa).

_________________

Bahan Bacaan:

Albert Kudsi-Zadeh, Afghani and Freemasonry in Egypt, Journal of the American Oriental Society, Vol. 92, No. 1 (Jan. – Mar., 1972)
Martin van Bruinessen, Rakyat Kecil, Islam, dan Politik
MC Ricklefs, Polarizing Javanese Society: Islamic, and Other Visions, 1830-1930
Paul W van der Veur, Freemasonry in Indonesia from Radermacher to Soekanto, 1762-1961
Tri Ilham Pramudya, Hubungan Vrijmetselarij dan Elit Pribumi di Jawa (1908-1962). [Skripsi, UI : 2012]
https://ayatayatadit.wordpress.com/2013/12/30/karya-sastra-sebagai-perlawanan-atas-orthodoksi-islam-jawa/
https://www.facebook.com/notes/halaqoh-online/menelusuri-jejak-yahudi-di-indonesia/177501942566

Advertisements

One thought on “Freemason, Mesir dan Jawa

  1. Pingback: Freemason, Mesir dan Jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s