History of Africa (3): Nubia, Pengaruh Mesir di Afrika

NubianPharoahsMesir sering dianggap bukanlah bagian dari sejarah Afrika. Mereka diisi oleh ras Kaukasoid dan Mesir kuno berbicara bahasa yang berkerabat dengan bahasa Arab dan Yahudi. Namun letak mereka yang berada di Afrika dan hubungan Mesir dengan tetangganya di selatan (Nubia dan Meroe) membuktikan bahwa Mesir adalah bagian penting dalam sejarah Afrika.

Pada saat Afrika dan berbagai belahan dunia masih merupakan masyarakat berburu dan meramu, Mesir sudah memulai tradisi pertaniannya sekitar 6000-5000 tahun SM. Tidak cukup jelas apakah Mesir mengembangkan sendiri pertaniaannya atau belajar dari Mesopotamia. Dengan memanfaatkan lahan di wadi (sungai musiman) Mesir mengembangkan pertaniannya. Pada 4000 SM mereka mulai mengembangkan pertanian dengan menggunakan lahan lembah sungai nil, membersihkan rawa dari tanaman asli rawa dan membuka saluran irigasi. Banjir tahunan Nil menjadi pembawa lumpur subur yang menyebabkan pertanian Mesir berkembang pesat.

Tidak banyak yang diketahui dari masa sebelum munculnya dinasti-dinasti ini. Lumpur tahunan yang menjadi anugrah pertanian Mesir menutupi berbagai peninggalan artifak, dan dari sedikit pecahan gerabah, perkakas batu, gading, dan tulisan yang menyebut masa ini memberikan secercah gambaran tentang Mesir. Satu hal yang pasti, penanggalan Mesir yang dimulai 4241 SM menunjukkan pentingnya era ini dalam pembentukan peradaban Mesir. Hieroglif kemungkinan besar dibuat masa ini, namun tidak ada hasil tulisan masa ini yang ditemukan.

Secara bahasa Mesir lebih dekat dengan tetangganya dari sebrang Laut Merah, Mesir menganggap mereka sebagai orang asing sementara hubungan dengan Libya dan Nubia dianggap sangat penting. Memang perdagangan melalui Sinai sangat erat, namun emas dan tenaga kerja Nubia lebih berhaga bagi penguasa Mesir.

Dari hubungan dagang dan politik yang erat inilah muncul berbagai transfer kebudayaan dari Mesir kepada tetangga Afrikanya di Nubia dan Ethiopia. Dari mereka kemudian teknologi dan budaya ini menyebar ke pedalaman Afrika.

Nubia, Kush dan Meroe

makam_NubiaNubia adalah nama kuno untuk tanah luas di sekitar Nil Atas. Pada awalnya (5000 SM) orang-orang di Nil Atas lebih maju dibandingkan dengan Nil Bawah. Namun kesuburan Nil Bawah memberikan kesempatan bagi Mesir untuk memajukan ekonominya dan membentuk peradaban maju. Pada saat Mesir memulai dinasti-dinastinya pada 2000 SM Nubia diisi oleh suku-suku penggembala kuat dan makmur, namun kalah bersaing dengan peradaban Mesir.

Mesir mengawali kekuasaanya di Nubia sesudah 2000 SM, pada masa Sesostris I (Dinasti XII) yang menaklukan hingga air terjun ketiga. Poenaklukan ini mengamankan perdagangan emas, gading, eboni, dan berbagai barang lainnya. Penaklukan ini berlanjut terus merangsek ke selatan sepanjang millenium ini hingga akhirnya Kushites ter-Mesir-kan. Ketika kekuatan Mesir memudar pada abad ke delapan 2 Millenium SM, Napata menjadi pusat kekuasaan Kushite bahkan raja Kashta menyerbu Mesir selatan. Penaklukan Mesir diselesaian Piankhi dengan menguasai Memphis.

Kekuasaan Kushite hilang setelah Mesir direbut Assyria tak sampai seabad setalah penaklukan Piankhi. Meski Assyria tidak menduduki Mesir, namun kekuasaan Kushite di Memphis tidak pulih. Bahkan seabad kemudian Napata diserbu oleh pasukan Mesir dan Persia. Maka dimulailah era baru kerajaan Kushite di Meroe.

Meroe adalah kerajaan yang makmur, ia menjadi pusat politik dan perdagangan pada abad 4 SM. Sisa-sia botol kaca, perhiasan, dan gerabah dari Yunani hingga India bisa ditemukan di reruntuhan peninggalan Meroe. Kuil, istana, dan stela menunjukkan pengaruh Yunani dan Mesir, namun tetap memiliki warna Kushite. Ketika Meroe menunjukkan vitalitas budayanya pada 250 SM-150 M, pengaruh Mesir memudar.

Setelah penaklukan oleh Axum pada abad 4 M tidak ada catatan lagi tentang Nubia hingga datangnya misi Kristen 540 Masehi. Pada awal abad 7 Nubia sudah di-Kristen-kan, namun tidak banyak catatan untuk merekonstruksi kerajaan Kristen Kushite pada masa ini. Namun sisa-sisa reruntuhan gereja masa ini menunjukkan pengaruh Byzantium dan Alexandria.

Hubungan antara Nubia dengan bagian Afrika lainnya masih diperdebatkan. Banyak yang berargumen bahwa Nubia memiliki hubungan dagang kuat dengan Afrika Barat melalui sabuk Sudan, dengan hubungan inilah ide dan teknologi Mesir sampai ke seluruh Afrika. Namun sebagian arkeolog menunjukkan ketiadaan bukti fisik yang mendukung hal ini.

Pustaka:

HW Fairman, Ancient Egypt and Africa. African Affairs, Vol. 64, Special Issue: African Studies Association of the United Kingdom, Proceedings of the 1964 Conference (1965), halaman 69-75
S.C. Munro-Hay, Kings and Kingdom of Ancient Nubia. Rassegna di Studi Etiopici, Vol. 29 (1982-1983)
Emmet Jefferson Murphy, History of African Civilization (Crowell : New York, 1972)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s