History of Africa (4) : Peradaban Sudan

Sudan adalah sebuah exonym. Ia adalah sebutan dari orang Arab bagi negeri yang dihuni orang-orang kulit hitam. Dalam studi sejarah Afrika peradaban Sudan tidak terbatas bagi peradaban-peradaban yang muncul di tempat yang kini menjadi negara Sudan (Utara & Selatan) tetapi seluruh peradaban yang muncul di wilayah Sub-Sahara (dengan atau tanpa memasukkan studi tentang migrasi Bantu). Pada awal abad 20 istilah Sudanic diberikan bagi bahasa-bahasa Afrikadi wilayah ini yang tidak termasuk dalam bahasa Bantu, Hamito-Semitik, ataupun Bushmanoid. Kini klasifikasi bahasa tersebut sudah ditinggalkan, namun ciri-ciri peradaban Sudan tidak terbatasi oleh etnisitas dan dapat memberikan gambaran sejarah wilayah sub-sahara ini.

headPeradaban Sudan muncul secara berbeda dibandingkan dengan peradaban lain di dunia. Bila di peradaban lain kemunculan budaya tinggi dan organisasi negara muncul sebagai kelanjutan dari munculnya surplus pertanian, di wilayah ini tidak terjadi surplus hasil pertanian yang signifikan. Tanah wilayah ini tidaklah sesubur wilayah lain, tanaman pangan asli Afrika yang ditanam juga tidak menghasilkan pangan dalam jumlah banyak, ditambah lagi ketiadaan hewan untuk membajak tanah membuat intensifikasi pertanian tidak mungkin terjadi.

Bila peradaban atau organisasi negara muncul, namun pertanian terbatas dan tidak ada surplus maka bisa dikatakan bahwa pertanian bukanlah faktor signifikan bagi peradaban Sudan. Dalam kondisi yang marginal ini maka faktor utama dalam pertumbuhan organisasi negara dan peradaban adalah kontrol sumber daya manusia yang ditopang oleh pertanian subsisten.

Pertanian Sudan

Pertanian tumpangsari Sudan atau dikenal juga dengan nama Sudan Agricultural Complex adalah pertanian khas yang dilakukan oleh peradaban Sudan. Berbeda dengan pertanian peradaban besar (Mesir dan Sumer) yang berfokus pada pertanian serealia dalam skala besar maka pertanian Sudan lebih merupakan sebuah unit subsisten keluarga.

Para petani Sudan menanam tanaman asli Afrika yang tumbuh di tanah berpasir dan kering sabana yaitu pearl millet, sorghum, cow peas, earthpeas/Bambara groundnuts, okra, calabash, semangka, kapas, dan wijen. Tanaman individual seperti semangka dan wijen telah menyebar di dunia namun kompleks tumpangsari ini khas di peradaban ini.

Tanaman-tanaman inilh yang menopang perkembangan dan penyebaran peradaban Sudan. Namun pertanian tumpangsari dengan tanaman ini tidak cocok dengan hutan hujan yang lembab di Kongo dan Afrika Barat. Terdapat Guinea Yam dan minyak sawit yang cocok iklim ini. Namun tanaman ini tidak memberikan nutrisi yang cukup untuk populasi besar.

guinea yam

Dioscorea rotundata (guinea yam) adalah tanaman semacam gembolo (air yam) yang menjadi salah satu tanaman pokok tumpangsari Sudan.

Perkembangan lanjut baru muncul ketika tanaman-tanaman dari Asia masuk ke wilayah ini pada awal millenium pertama Masehi. Baik orang-orang Afrika maupun Asia Tenggara tidaklah memiliki teknologi yang cocok untuk melakukan pelayaran jarak jauh. Namun penjelajah melayu telah mengarungi lautan dengan perahu dan rakitnya dan melakukan kolonisasi hingga ke Madagaskar dan Polinesia. Kini bahasa Malagasi di Madagaskar berkerabat dekat dengan bahasa Maanyan di Kalimantan. Pisang, yam (ubi gembolo), dan talas adalah tanaman Asiatik yang cocok ditanam di hutan hujan Afrika dan memberi hasil lebih banyak dibanding tanaman asli Afrika.

Budaya, Sosial, Politik dan Agama

Salah satu pola menonjol peradaban Sudan adalah struktur politiknya. Bangsa-bangsa Sudan mengembangkan strutur sosial yang rumit, biasanya dikepalai oleh raja. Pada umumnya mereka memiliki karakteristik yang sama. Raja memiliki klaim atas semua sumber daya (tanah, ternak, dan hewan buruan) dan dapat memungut pajak. Ia dipercaya sebagai utusan langit. Negara selalu dibagi-bagi atas propinsi atau distrik yang bertanggung jawab menjaga ketentraman, memungut pajak, dan melaksanakan rodi. Suksesi atas tahta dipilih oleh majelis menteri yang tidak terikat wasiat raja terdahulu.

Bentuk kerajaan seperti ini membutuhkan kekayaan yang mampu menopang istana, aparat administratif negara, dan kekuatan militer kerajaan. Kekayaan ini muncul dari basis pertanian yang subur. Beberapa negara seperti Ghana, Mali, dan Ashanti mampu memproduksi kekayaanya, namun negara-negara yang tidak memiliki surplus pertanian harus memiliki sumber lain untuk. Perdagangan emas, gading, rempah-rempah, kulit, kain, bijih logam, dan budak menjadi pilihan sumber daya ini.

Kerajaan-kerajaan Sudanik hampir semuanya berasal dari organisasi suku yang memiliki budaya dan bahasa bersama dan memiliki sejarah atau mitologi tentang nenek moyang yang sama.Pertentangan antar suku berkembang menjadi subjugasi suku atas suku lain. Umumnya sistem imperial ini tidak mengharuskan suku yang kalah untuk menerima dan menggunakan budaya penguasanya.

Mansa_Musa_on_Map

Meski awalnya tidak mengenal tulisan, peradaban Sudan memiliki negara yang cukup canggih.

Agama Sudan umumnya mengakui adanya Tuhan pencipta namun sang pencipta ini dianggap tidak perduli atas dunia ciptaanya. Penyembahan roh maupun leluhur lebih dekat dengan keseharian rakyat jelata dan menjadi perhatian agama-agama Sudan. Agama-agama ini bervariasi antar etnis/suku, umumnya mewakili pandangan tentang asal-usul suku mereka.

Peradaban Sudan menghasilkan berbagai karya seni berupa patung baik dari kayu, gerabah, maupun logam.

Bahan Bacaan:

Roland Olliver. A Short History of Africa (Penguin Books : Middlesex, 1962)

Emmet Jefferson Murphy. History of African Civilization (Crowell : New York, 1972)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s