Spot their Bullshit [Antivaksin]

Akhir-akhir ini ada beberapa hal yang rame di media sosial. Soal beras plastik, pengungsi Rohingya, dan yang udah rada lama adalah soal vaksin. Khusus soal vaksin in asyik banget. Sampai-sampai National Geographic membuat liputan khusus soal ini. Di Indonesia isu vaksin berkelindan dengan isu halal-haram dan juga pelemahan bangsa. Whew.

vaksin-533x200Kerna newsfeed fagbook sering melemparkan tulisan-tulisan yang dibagi oleh rekan-rekan saya di media sosial lama-lama sayah gatel juga buat ikutan komentar.

Sekilas sejarah vaksin di Indonesia, vaksinasi merupakan sebuah kebijakan kolonial. Nah loh! Betul kan kalo vaksin itu merupakan konspirasi asing! Eits tunggu dulu. Pada abad 19, masa ketika Belanda gencar-gencarnya memeras Indonesia orang Jawa menderita berbagai wabah. Salahsatunya adalah wabah cacar yang kadang bisa membuat satu kampung kehilangan satu generasi anak-anak.

Tentu saja ini ndak bagus buat para pangreh praja dan pebisnis Belanda. Pangreh Praja butuh rakyat untuk dipajaki dan kerja rodi sementara para pebisnis butuh pasokan produk ekspor yang stabil. Itu semua demi fulus & kepeng. Maka didatangkanlah dokter-dokter Belanda untuk melakukan vaksinasi. Pada abad 20 ini dijadikan bagian dari kebijakan politik etis, dokter-dokternya mulai menggunakan dokter pribumi dan para pangreh praja yang berhasil memberantas wabahpun mendapat medali penghargaan dari kerajaan Belanda.

Vaksinasi di Jawa, 1941

Vaksinasi di Jawa, 1941

Namun usaha vaksinasi ini tidak dilakukan secara universal oleh pemerintah kolonial. Di sana-sini kadang masih muncul beberapa kasus cacar meski tidak sampai terjadi wabah. Setelah Indonesia merdeka barulah pemerintah melakukan vaksinasi universal untuk menghilangkan keberadaan penyakit-penyakit seperti cacar, diphteri, tetanus, hingga polio.

Metode inokulasi vaksin memang kadang invasif. Vaksin cacar diinokulasi dengan menorehkan luka dan setelah divaksinasi anak akan mengalami demam. Hal ini kadang menjadi diskursus tersendiri bagi antropolog mengenai invasi negara kepada individu. Penolakan terhadap vaksinasi ini kadang berimpit dengan prosedur kerja  yang tidak aman ataupun ketidakpercayaan terhadap efektivitas vaksin tersebut.

Kini setelah abad 21 gerakan anti-vaksin menemui momentum baru. Mudahnya diseminasi informasi sekaligus disinformasi membuat orang-orang memilih informasi berdasar apa yang menggugah emosi mereka daripada menguji atau mengecek kredibilitas berita dan sumbernya. Contohnya posting satu ini.

antivakpostMari kita cek klaim dari antivak satu ini. Klaim pertama:

“Sejak itulah, usia harapan hidup orang Indonesia menjadi lebih singkat.”

Kenyataanya angka harapan hidup Indonesia sejak 1970 hingga kini selalu mengalami peningkatan. Pada 1970 angka harapan hidup adalah 51,83 tahun, pada 1975 adalah 54,89 tahun, dan pada 1980 57,59 hingga kini sudah melebihi 70 tahun!

Cek klaim kedua:

Di era bapak dan ibu kita hidup, usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata mampu mencapai seratusan tahun, atau paling tidak delapan puluh tahun. Orang Indonesia dahulu kuat-kuat, dan mampu berjalan puluhan kilometer walau usianya sudah tidak lagi muda.

Tidak ada dukungan data, anecdotal at best. Padaumumnya di masa lalu mereka yang bisa melewati masa remaja memang bisa hidup puluhan tahun, namun bila anda melewati masa remaja harapan hidup anda akan meningkat jauh. Life expectancy increases with age as the individual survives the higher mortality rates associated with childhood. Soal kemampuan bekerja itu tergantung latihan dan kualitas gizi.

Kita lihat lagi:

Kelompok Pro-Vaksinasi pasti memiliki alibi sendiri soal ini

Kami memiliki alibi berupa data & fakta. Where’s yours? Burden of proof in on you.

Lalu ia memberikan tambahan:

“Ada dua jenis vaksin yang diproduksi. Yang pertama yang berkualitas bagus dipakai di negara-negara maju, sedangkan yang dikirim ke negara-negara terkebelakang itu racun sebenarnya, untuk melemahkan penduduknya,”

Bisa memberikan bukti? Perusahaan vaksinasi milik Indonesia malah mengekspor ke berbagai negara lho. Ataukah justru pemerintah Indonesia melemahkan penduduk berbagai negara termasuk penduduknya sendiri?

1363258806149

Tinfoil peci, just for you.

Kisah Ketiga: Anak Bungsu Yang Sungguh Sehat dan Kuat Tanpa Vaksin Apa Pun.

Oh great, another anecdotal stories used as evidence. Good for them. Tidak semua orang seberuntung anak ini memiliki daya tahan tubuh yang cukup kuat. Untuk mereka yang tidak sekuat ia maka vaksinasi adalah jalan untuk mendapatkan imunitas.

Silahkan anda yang suka berbagi di media sosial. Tulisan tentang vaksin yang dibuat oleh Asep Anang Ma’ruf tersebut mungkin bisa menggugah hati anda untuk membenci agenda global vaksinasi. Namun sebelum melangkah lagi coba anda cek dahulu, adakah pernyataan yang dibuatnya mengandung kebenaran ataukah berisi kebohongan?

Advertisements

2 thoughts on “Spot their Bullshit [Antivaksin]

  1. Katanya dokter2 pribumi dulu itu sekedar mantri cacar ya?

    Ternyata sudah sampai sini juga sentimen anti vaksin. Emang mantep sih issuenya buat orang indonesia, apalagi yang suka menjaga tradisi dengan hanya minum obat tradisional dan alami… #eh 😛

    Ataukah justru pemerintah Indonesia melemahkan penduduk berbagai negara termasuk penduduknya sendiri?

    Bisa jadi, toh mencelakakan bangsa sendiri bukan hal baru disini, hahaha. Lagipula, pembuat vaksin itu, sekolahnya dimana? Apa yakin ilmunya bener & nggak dibohongi oleh, y know, juice…

    btw, tulisan soal sangkakala mana nih?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s