Austronesia dan Melanesia di Nusantara [REVIEW]

Asal-usul bangsa Indonesia banyak diperbincangkan dengan mengambil berbagai sudut pandang seperti linguistik, arkeologi, dan genetika. Perbedaan mencolok fisik dan budaya penduduk Indonesia Barat dan Indonesia Timur menjadi salah satu permasalah menarik yang menghidupkan diskursus ini. Di tengah diskursus ini hadirlah buku Austronesia dan Melanesia di Nusantara yang diterbitkan oleh penerbit Ombak.

austronesia-melanesiaGambar sampul buku ini amat mengganggu saya. Ia menampilkan suatu kesatuan dari Madagaskar hingga Selandia Baru, namun tidak memasukkan Filipina dan Taiwan. Bila gambar ini ingin menunjukkan Austronesia saja seharusnya memasukkan dari Madagaskar hingga Selandia Baru beserta Filipina dan Taiwan, namun tidak memasukkan Papua. Bila ingin membahas Melanesia maka memasukkan Papua, Maluku, Timor, dan beberapa kepulauan si sebelah timur dan utara Papua. Bila ingin membatasi diri pada Nusantara maka seharusnya tidak memasukkan Madagaskar dan kepulauan Pasifik.

I know that’s alot of autism for a single page.

Buku ini memang memiliki pesan tertentu. Dari pengantarnya bisa terbaca bahwa buku ini hendak meneguhkan kesatuan antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur yang sering yang terpisahkan oleh sekat budaya Austronesia dan Melanesia karena memang himpunan dari makalah-makalah yang disampaikan dalam seminar “Perspektif  Budaya Austronesia dan Melanesia dalam Dinamika Kebangsaan dan Pembangunan” di Jayapura 2009.

Hal yang menarik adalah bagaimana kemunculan kebudayaan Austronesia juga turut mewarnani relief budaya Papua. Di pesisir utara Papua memang bahasa Austronesia tidak dituturkan, namun unsur-unsur kebudayaan pesisir utara menunjukkan pengadopsian budaya Austronesia oleh suku-suku pesisir sementara mereka yang berada di ketinggian pedalaman tidak tersentuh oleh budaya Austronesia.

Saya cukup akrab dengan konsep Out of Taiwan dari membaca wikipedia oleh karena itu saya cukup menyayangkan pendapat-pendapat yang menyatakan bahwa penutur Austronesia tidak berasal dari Taiwan tidak dikutip beserta argumennya. Argumen linguistik bahwa asal bahasa Austronesia dari Taiwan adalah keragaman genetiknya, semua bahasa Austronesia di luar Taiwan termasuk dalam subfamili Malayo-Polynesia, sementara di Taiwan terdapat 9 subfamili. Dalam buku ini Wuri Handoko malah menyatakan bahwa asal-usul bahasa Austronesia berawal dari Maluku karena di sini ditemukan jejak kebudayaan neolitik, megalitik, dan perundagian.

Meski lingkup dalam judul buku ini adalah seluruh Nusantara namun penulis-penulis lebih banyak memperbincangkan kawasan Indonesia Timur, hanya ada satu yang membahas budaya pra-Austronesia di Sulawesi Tenggara dan Jawa Barat. Mungkin karena tempat seminar dan judul seminar yang mengarahkan para penulis untuk membahas interaksi Austronesia-Melanesia di Indonesia.

Bila anda memang tertarik tentang masa pre-sejarah Indonesia dan hubungannya dalam konteks kawasan, buku ini dapat menjadi sekedar bacaan anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s