History of Africa: Migrasi Kulit Hitam dan Trek di Afrika Selatan

Kembali lagi ke topik tentang sejarah Afrika. Mohon maaf karena serial ini terputus karena kesibukan saya dan saya malah meloncat ke bahasan yang lumayan jauh. Seharusnya setelah bahasan peradaban Sudan saya membahas tentang kerajaan-kerajaan Afrika yang memiliki ciri sebagai peradaban Sudan. Namun kebetulan saya baru saja menyelesaikan tulisan seadanya tentang konflik dan migrasi bangsa kulit hitam dan Eropa di Afrika Selatan. Silahkan dinikmati.

Xhosa_crossing[trigger warning: this article use outdated politically incorrect term]

Pada abad 19 wilayah bagian selatan Afrika menyaksikan bebagai pergolakan. Perpindahan berbagai bangsa, baik Eropa, kulit hitam Afrika dan juga campurannya, inovasi-inovasi militer dan pemerintahan, dan konsolidasi kekuasaan kolonial oleh Inggris menjadi sebab terjadinya jatuhnya korban jiwa dalam jumlah banyak.

Ini adalah masa kesusahan yang oleh suku-suku kulit hitam Afrika Selatan (Nguni) disebut mfecane, dimulai dari wilayah Natal dengan aksi penaklukan oleh Zulu yang kemudian menyebar ke suku-suku lainnya.1 Istilah mfecane ini populer digunakan pada awal abad 20, namun kemudian konsepsi tentang mfecane ditentang oleh Julian Cobbing yang menyebut bahwa istilah mfecane berasal dari kosa kata Xhosa dan Sotho, bukan Zulu, dan kekerasan yang terjadi tidak hanya berpusat pada Zulu, selain juga disebabkan oleh migrasi (invasi) kulit putih, terutama Boer.2

Tanpa harus terjebak pada perdebatan mengenai konsepsi tentang mfecane tulisan ini akan mencoba memaparkan latar belakang dan garis besar migrasi dan konflik yang terjadi pada dua kelompok besar ini, suku-suku kullit hitam dan bangsa Boer, yang terjadi di Afrika Selatan.

Bangsa-Bangsa Kulit Hitam di Abad 18

Suku-suku semak yang kini dikenal dengan nama San adalah suku yang pertama datang di Afrika Selatan. Mereka hidup berburu meramu, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa harta benda selain yang melekat di badan. Suku lain, Khoi-khoi hidup dari menggembalakan sapinya di padang Afrika selatan yang tidak mengenal batas kepemilikan. Namun dua suku asli ini tidak akan banyak diceritakan karena mereka tersisihkan oleh bangsa Belanda (Boer) dan Xhosa.3

Bangsa Bantu adalah petani handal, dari asal-usulnya mereka membawa budaya bertani dan bahasa mereka. Bangsa Nguni adalah salah satu bangsa Bantu yang terasimilasi dengan populasi Khoisan di Afrika Selatan. Dari mereka bangsa Nguni mempunyai bunyi klik dalam bahasanya, hal yang tidak ditemui di berbagai bahasa Bantu lain.4

Kontak dagang dengan Portugis di kedua sisi Afrika sejak abad 16 memperkenalkan tanaman pangan baru hingga pedalaman Afrika. Meski sorghum dan millet masih ditanam, namun jagung menjadi tanaman pangan utama pada abad 18. Selain bertani bangsa Nguni menggembalakan sapi, kambing, dan domba. Ini menyebabkan pertumbuhan populasi yang kemudian menyebabkan tekanan populasi. Sebagai bangsa yang terbiasa bermigrasi maka bangsa Nguni melanjutkan penyebaran ke selatan.5

Namun suku Xhosa (salah satu suku Nguni) dalam penyebarannya ke selatan bertemu dengan bangsa Eropa di Tanjung Harapan. Pada awalnya kontak ini hanya berupa pertengkaran kecil. Namun tidak lama aksi balas dendam suku Xhosa pada Marthimus Prinsloo menyulut konflik yang disebut Perang Kaffirs pertama (juga disebut first Xhosa Wars) pada 1778.6 Konflik antara koloni Tanjung dan Xhosa berlangsung terus hingga pada abad 19.

Bangsa Nguni tidak hanya menghadapi kulit putih di selatan, di pegunungan sebelah barat mereka hadir bangsa Sotho. Selain sama kuatnya, bangsa Sotho tinggal di pegunungan plato.7 Tentu saja mereka yang terlebih dahulu tinggal di tempat ini memiliki kemudahan dalam mempertahankannya.

Kraal adalah bentuk tipikal desa atau komunitas Afrika. Pertanian dan penggembalaan dilakukan dengan berpusat pada kraal.

Kraal adalah bentuk tipikal desa atau komunitas Afrika. Pertanian dan penggembalaan dilakukan dengan berpusat pada kraal.

Kemunculan Bangsa Boer

Pada awalnya VOC membangun Tanjung Harapan sebagai pelabuhan peristirahatan saja bagi kapal-kapalnya. Namun karena posisi strategisnya, pada abad 17 Belanda mempertimbangkan untuk menjadikan Tanjung Harapa sebuah koloni yang mampu mempertahankan dirinya dan mampu meproduksi jagung, daging, dan anggur yang dibutuhkan kapal, maka dimulailah kolonisasi Tanjung harapan. Maka dari Eropa didatangkan petani dari Belanda, bahkan pengungsi Huguenot (Protestan Peracis) pun ditampung.8

Namun pengelolaan koloni oleh VOC tidak selalu menyenangkan para petani (Boer). Harga hasil pertanian mereka ditetapkan oleh VOC dan mereka tidak memiliki alternatif lain. Satu-satunya modal yang ada adalah tanah, bila seorang Boer mengklaim penguasaan tanah, maka tanah itu adalah milik VOC. Meski aturan ini amat membatasi, namun VOC tidak mampu menegakkannya. Boer yang tertekan di Tanjung Harapan memilih pergi dari pengaruh VOC, membuka lahan baru, dan berdagang dengan Hottentot atau Xhosa. Tidak ada yang dapat VOC lakukan dalam menghadapi hal ini.9 Inilah asal mula munculnya Trekboer (petani migran).

Kehidupan kota di Tanjung tidak banyak berubah, ia hanya sebuah kota kecil yang penduduknya tidak memiliki banyak kesempatan usaha sementara di pedesaan masyarakatnya lebih kaku. Hanya tiga distrik yang dibuka di luar kota Tanjung yaitu Stellenbosch, Swellendam (1746), dan Graaf-Reinett (1786). Segera setelah dibukanya Graaf-Reinet konflik antara penggembala kulit hitam dan Eropa makin sering terjadi.10

Di lain pihak makin banyak petani dan pemburu yang keluar dari komunitas ini menjadi trekker. Kehidupan para trekker ini keras, tidak ada penjahit dan pembuat sepatu, begitu pula kebutuhan seperti gula, garam, teh, kopi, dan rempah-rempah amat sulit di dapat setelah mereka menyeberang pegunungan di timur, namun mereka berpuas diri dengan kebebasan yang mereka dapat. Meski kehidupan yang keras dan kasar ini namun warga Tanjung dan distrik sekitarnya masih menganggap mereka satu komunitas karena agama Kristen Calvinist yang mereka anut.11

Menghadapi ancaman bangsa kulit hitam, para petani warga Tanjung maupun trekker mengembangkan sistem komando. Bila ada ancaman atau serangan pada ternak dan ladang mereka, segeralah kaum pria dipanggil. Sekelompok pemburu komando akan mengejar siapapun yang datang.12

Trek digunakan bangsa Boer sebagai cara untuk melepaskan diri dari pemerintahan koloni.

Trek digunakan bangsa Boer sebagai cara untuk melepaskan diri dari pemerintahan koloni.

Sistem ini cukup berhasil menghadapi suku Semak yang tersisa maupun serangan sporadis Xhosa. Namun di abad selanjutnya tantangan yang hadir akan berbeda lagi.

Kebangkitan Zulu, Kekeringan dan Kelaparan Xhosa dan Sotho

Selain suku Xhosa, terdapat suku besar lain diantara bangsa Nguni. Adalah suku Zulu, sebuah suku yang sebelumnya berada di bawah suku Mthethwa yang dipimpin Dingiswayo. Dingiswayo melakukan reformasi militer dengan membuat warga sukunya menjadi resimen-resimen Impi. Dibawah Dingiswayo Shaka menjadi prajurit dan pemimpin handal, etika Dingiswayo meninggal, Shaka segera menggantikannya.13

Shaka menjadi pemimpin yang lebih keras daripada Dingiswayo. Dibawah kepemimpinannya wilayah Natal mengalami pergolakan selagi ia menaklukkan dan menyerap suku-suku sekitarnya, memperbesar kerajaan Zulu. Pembunuhan terhadap suku-suku sekitar Zulu dan Mthethwa terjadi, bahkan ada yang mengatakan bahwa dua juta orang mati karenanya.14

Pasukan Shaka tidak mendapat jatah makan ataupun harta dari Shaka. Untuk mendapatkannya mereka harus mencari sendiri, merampas dari musuh yang mereka taklukkan. Bahkan untuk menikah mereka harus menunggu sampai umurnya dua puluh tahun dan sudah menaklukan sejumlah suku. Dari suku taklukan pula mereka bisa mendapatkan istri.15

Tekanan pada Xhosa menyebabkan hal yang tidak dapat dihindari. Terjadi lagi peperangan antara koloni Eropa di Tanjung dengan suku-suku Xhosa pada 1811 yang dikenal dengan sebutan Perang Kaffirs yang keempat terjadi. Sungai Fish kini dijadikan batas antara koloni dan lahan Xhosa. Perang saudara antara Gaika dan Ndlambi menyebabkan Gaika, yang dianggap kepala suku tertinggi oleh pemerintah Smenanjung, kalah. Gaika meminta bantuan pemerintah koloni, intervensi. Ini menyebabkan terjadinya konflik yang disebut Perang Kaffirs ke lima.16

ZuluwarriorbpPada dasawarsa 1820an terjadi beberapa kekeringan yang menyebabkan kelaparan. Kaum Xhosa mengalami kekalahan perang terhadap bangsa Eropa di barat daya mereka, sementara dari utara datang pengungsi dari serangan-serangan Zulu yang dikenal dengan nama Mfengu (kadang ditulis sebagai Fingo). Sementara dari lembah Caledon datang penyerbu Sotho. Pada masa inilah munculnya frasa fetcani (penyerbu kelaparan) dalam sejarah Xhosa.17

Dalam kekacauan yang terjadi karena kampanye penaklukan Shaka, beberapa kepala suku di bawah Shaka memberontak. Salah satunya adalah Zwangendaba yang membawa resimen Impinya menyebrang sungai Limpopo pada 1822 dan menyebabkan kerusakan sepanjang migrasinya. Sekitar 1827-1828 ia lari dari salah satu kepala suku Zulu, Nxaba dan menyebrang ke Plato Rhodesia. Ia bahkan mencapai Zimbabwe Agung dan merampok para bangsawan Rozwi dari kerajaan Changamire.18

Mzilikazi, pemimpin suku Ndebele (Matabele) adalah panglima Shaka lain yang memberontak. Setelah sukses melawan suku Sotho di Transvaal ia beralih melawan Shaka. Tidak mampu melawan kekuatan Zulu yang lebih besar, ia mengalihkan serangannya kearah Changamire dan berhasil mendirikan kerajaan Matabele di Barat Daya Zimbabwe.19

Boer dan Inggris, Trek Besar

Memasuki abad 19 Eropa dilanda perubahan dan perang, perubahan ini juga menyeret koloni Tanjung ke masa baru. VOC bangkrut dan diambil alh pemerintah Belanda, namun Belanda yang kehilangan kekuatan lautnya tidak berdaya ketika Inggris mengambil alih koloni Tanjung pada 1806. Namun hal ini bukanlah penyebab terjadinya trek besar.

Perang Kaffirs ke-6 terjadi lagi pada 1934. Pemerintah koloni menyalahkan ekspansi yang dilakukan oleh pemukim Boer sebagai pemicu perang-perang tersebut, tentu saja kaum Boer merasa tidak nyaman dengan hal ini.20 Bukan hanya perang Kaffirs, penghapusan perbudakan yang dilakukan oleh Inggris di tahun yang sama memperrumit keadaan. Kaum Boer memilih hal yang biasa mereka lakukan, trek.

Piet Retief mengeluarkan manifesto. Dalam manifestonya ini ia mengeluhkan serbuan dan perampasan yang dilakukan oleh “orang-orang gelap” dan kehilangan budak-budaknya, ia menyalahkan misionari yang menimpakan azab ini pada mereka padahal mereka berjuang menyelamatkan Tanjung dari segala kesengsaraan ini.21

Untuk memulai Trek, mereka harus menyebrang sunga Orange kemudian melanjutkan perjalanan karah sungai Vaal dan menyebranginya. Di Transvaal, Matabele yang sudah tinggal lebih dulu merampas ternak kelompok trek yang dipimpin oleh Poitgiers. Dengan pertahanan laager (kereta kuda yang disusun melingkar sebagai benteng mereka berhasil selamat dari serangan Matabele. Akhirnya kelompok ini bergabung dengan kelompok Maritz. Mereka kemudian membuat pasukan bersenjata lengkap untuk mengambil lagi ternak mereka. Pada awal 1837 mereka berhasil mengusir Matabele dari Transvaal dan merebut 7000 ekor sapi.22

"Bambani abathakathi!" "Tangkap si Penyihir!!! "teriak Dingaan

“Bambani abathakathi!” “Tangkap si Penyihir!!! “teriak Dingaan

Sekembalinya dari Transvaal mereka menemukan bahwa jumlah keluarga yang bergabung dalam trek telah bertambah sangat besar. Terjadi perselisihan politis tentang bagaimana mengatur kelompok ini. Di tengah perselisihan ini datang Piet Retief. Ia tidaklah berpengalaman dalam kehidupan trek, namun ia memiliki pengalaman dalam Perang Kaffirs dan kharisma pemimpin. Segeralah ia mengkonsolidasikan para Boer untuk membentuk organisasi negara melalui United Laager.23

Ia ingin membawa United Laager ke arah Natal, namun Natal dikuasai oleh kerajaan Zulu yang dipimpin Dingan (ia mengambil kekuasaan dari Shaka). Dingan berkenan memberikan lahan bagi Boer dengan syarat Piet Retief mengambil sapi-sapi Dingan yang dicuri oleh suku lain. Piet segera mengirim kabar baik ini ke United Laager. Tanpa menunggu waktu wanita dan anak-anak segera menyebrang menuju Natal. Mata-mata Dingan mengetahui hal ini, menyebabkan Dingan amat waspada dengan kehadiran Boer di wilayahnya, ditambah lagi kelompok Komando Piet yang berjumlah kecil mengambil kembali sapi-sapinya. Tentu saja Dingan amat curiga dengan Boer yang sudah masuk ke negeri Zulu sebelum memenuhi janji mereka.24

Dingan mengundang Retief ke kraal-nya untuk mengembalikan sapinya dan memberikan pesta persahabatan. Namun bukannya pesta persahabatan, di sana Dingan membunuh Retief dan orang-orangnya. Bulala Matagati (Bunuh penyihir itu!), Ia ingin memberi pelajaran pada penyihir kulit putih. Selanjutnya ia menyerang laager yang tidak disiapkan untuk perang. Banyak korban dari kaum Boer sampai akhirnya Panda, adik Dingan menawarkan untuk bersekutu. Ia membunuh Dingan dan akhirnya kaum Boer dapat menetap di Natal pada 1838.25

Maka dimulailah cerita Republik Natal (1839) yang berlangsung singkat. Singkat karena bangsa Boer yang miskin tidak memiliki banyak kekayaan untuk menopang negara mereka. Bahkan Inggris masih menganggap mereka sebagai warga negaranya. Pada 1842 Inggris mengirim pasukan yang segera dikalahkan oleh pasukan Natal. Inggris ragu untuk mengirimkan lagi pasukan, baru setahun kemudian pada Juli 1843 dikirimlah pasukan dalam jumlah besar untuk menganeksasi Natal.26

Maka Andries Pretorius memimpim Boer untuk melakukan lagi trek meninggalkan Natal, menuju dan menyebrang sungai Vaal. Mereka bertemu kelompok Mzilikazi lagi, berperang dengan mereka dan berhasil mengusirnya. Di sini mereka bertemu juga dengan suku Bechuana (Bostwana) dan Sotho. Dari negeri mereka berdirilah dua republik, Oranje Vry Staat (Negara Bebas Oranye) dan Republik Afrika Selatan yang dikenal dengan sebutan Republik Transvaal.27

Moshesh, raja Sotho membiarkan suku-suku sotho yang terputus darinya karena trek menyerang kaum Boer di Natal dan sekitar sungai Oranye. Gubernur koloni Tanjung segera mengirimkan pasukan. Pasukan ini hampir kalah sampai akhirnya Moshesh dengan cerdik mengirimkan permintaan damai.28 Ia meminta perlindungan Inggris agar Sotho dan negerinya tidak diganggu Boer dan ia tidak akan melakukan serbuan atau perampasan lagi. Perjanjian damai yang dilakukan oleh Moshesh menjamin keberlangsungan kerajaan Sotho hingga kini, sementara inovasi milter Shaka Zulu membawa kehancuran mereka di tangan Inggris.29

Film Zulu (1964)  adalah bentuk romantisasi keterlibatan Inggris di Afrika

Film Zulu (1964) adalah bentuk romantisasi keterlibatan Inggris di Afrika

Epilog

Kaum Boer dengan ini berhasil mendirikan negeri mereka sendiri di Oranje Vrystaat dan Republik Transvaal yang diakui oleh Inggris melalui konvensi Sand River 1852 dan konvensi Bloemfontein 1854. Maka dengan ini Trek Besar bangsa Boer sudah berakhir.30

Masih terjadi konflik dengan suku Xhosa, namun konflik ini justru berakhir dengan gerakan irasional suku Xhosa. Suku Xhosa yang kelelahan setelah perang dengan koloni Tanjung mendengar ramalan dari Nongqqause yang oleh para dukun dikatakan bahwa suatu hari para pendekar akan bangkit dari kubur dan membunuh dan mengusir kulit putih, namun mereka harus menyembelih semua sapi dan membuang semua biji mereka. Kelaparan meluas, suku Xhosa berkurang dari 100.000 lebihmenjadi hanya 37.000.31 Maka kini Xhosa tidak lagi menjadi ancaman bagi koloni Tanjung.

Suku Zulu sudah takluk, suku Sotho mengungsi ke pegunungan dan menjadi protektorat, Bechuana bertahan dengan menjadi protektorat Inggris. Matabele melanjutkan kekerasan mereka dengan menyerbu bangsa Shona di Zimbabwe, namun intervensi Inggris membuat mereka tidak dapat melakukan invasi ke luar Matabeleland.

__________________

Endnotes

1Emmet Jefferson Murphy, History of African Civilization (New haven : Thomas Y Crowell Co, 1972) Halaman 213

2Julian Cobbing, Case Against Mfecane (African Studies Seminar Paper: 1984)

3Sarah Gertrude Millin, The People of South Africa (London: Constable and Company, 1951) halaman 9-10

4Murphy, History of Afrcan Civilization. Halaman 212

5Ibid

6Leo Marquard, The Story of South Africa. (London : Faber and Faber Limited, 1966) halaman 79-80

7Murphy, History of Afrcan Civilization. Halaman 213

8Marquard, The Story of South Africa. halaman 42-44

9Ibid, 46-55.

10Ibid, 65-67

11Ibid, 69-71

12Ibid 71-72

13Murphy, History of Afrcan Civilization. Halaman 213

14Millin, People of South Africa. Halaman 27

15Ibid.

16Marquard, The Story of South Africa. halaman 121-122

17Cobbing, Case Against Mfecane, halaman 2

18Murphy, History of Afrcan Civilization. Halaman 216

19Ibid. Halaman 217

20Marquard, The Story of South Africa. halaman 122-123

21Millin, People of South Africa. Halaman 23-27

22Marquard, The Story of South Africa. halaman 122-123

23Ibid. 133-134

24Ibid. 136-137

25Millin. People of South Africa. 31-33

26Marquard, The Story of South Africa. 145-147

27Millin, People of South Africa. 34-35

28Marquard, The Story of South Africa. Halaman 152

29Murphy, History of Afrcan Civilization. Halaman 220

30Millin, People of South Africa. 35

31Marquard, The Story of South Africa. Halaman 164-165.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s