Sultan dan Khalifatullah

Shalom alaichem.

Setelah Sabdatama II menempatkan putri dari Hamengkubuwono X (kini Hamengkubawono X) menjadi putri mahkota kini saya menemui adanya berbagai agitasi yang menentang Sabdatama tersebut. Spanduk-spanduk bertuliskan “Kembalikan Paugeran!!!” muncul di mana-mana, belum lagi berbagai gossip yang bermunculan di masyarakat.

sultan_yogyakarta_01Diantara diskursus yang muncul adalah mengenai penggunaan nama Sayydin Khalipatullah dalam nama gelar sultan yang kini diganti menjadi Langenging Bawono Langgeng Langgeng Ing Toto Panotogomo. Namun ada pihak yang menyatakan keberataannya atas perubahan ini, bahkan menyatakan Sabdatama tersebut sesat. Penulis sendiri memegang pamflet yang ditulis oleh Heru Syafrudin Amali tersebut.

Hal yang menyebabkan kegusaran Heru Syafrudin adalah hilangnya unsur-unsur keislaman dalam nama Hamengkubawono, menurutnya ini membawa akibat buruk bagi masyarakat yang berada dalam naungan kesultanan Yogyakarta. Kini Sultan bukan lagi wakil dari Allah namun berani mengambil nama Rabbul’alamin yang berarti pengatur dan penguasa alam semesta. Tak heran bila Sabdatama tersebut dinyatakan sesat sebab hal ini bertentangan dengan Aqidah Rububiyah.

Sebelum kita ikut menghakimi lagi tentang sesat atau tidaknya Sabdatama tersebutmari kita tengok dulu ke belakang tentang penggunaan Khalifatullah ini.

Ricklefs mensinyalir bahwa Islamisasi Jawa telah terjadi sejak abad 14, Sultan Agung tidak hanya mengkonsolidasikan kekuasaan politik namun juga memimpin Islamisasi dari Keraton. Namun Soemarsaid (1985: 31-35) menyatakan bahwa bukan Sultan Agung yang pertama menggunakan gelar Khalifah, adalah Amangkurat IV yang pertama menggunakannya. Dalam konsepsi Islam peran raja (Sultan) bukan lagi sebagai pengatur dan penguasa mikrokosmos seperti dalam Dewaraja yang merupakan konsepsi Hindu. Khalifah adalah wakil Allah dalam menegakkan Sunnatullah.

Meskipun tampaknya penggunaan gelar Khalifah sebagai penguasa sebuah kerajaan bukannya pemimpin seluruh kaum muslim adalah aneh namun kenyataannya Bani Ummayah dan Abbasiyah pernah berbarengan menggunakannya. Begitupula kerajaan di Afrika Barat pada abad 19 yang menggunakan nama sama.

Soemarsaid menyatakan bahwa sejak awal raja-raja Mataram berusaha menguasai semua bidang, baik politik maupun agama. Hal ini sejalan dengan konsep Islam yang tidak memisahkan keduanya, keduanya tunduk dalam Syariah. Tentu saja raja-raja Mataram tidak menggunakan simbol kekuasaan dan religius Islam tanpa melaksanakannya sebagaimana disebut oleh Ricklefs.

Kini Sultan menempatkan dirinya sebagai Hamengkubawono X tanpa gelar khalifah namun menyatakan dirinya sebagai kelanjutan tatanan Allah di jagad. Kita tidak tahu adakah Keraton akan melepaskan perannya sebagai motor Islamisasi Jawa atau tidak. Namun Heru Syafrudin mensinyalir adanya fitnah yang menyatakan Sultan melepaskan Islam. Saya tidak tahu ada atau tidaknya fitnah ini, atau malah ia sendiri yang justru malah menyebarkannya.

Aargh, semua gara-gara tahta.

Advertisements

One thought on “Sultan dan Khalifatullah

  1. Pingback: GBPH Menjadi HB XI? | ayatayatadit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s