Elanto, Motor Gede, dan Sepeda Kayuh

Jagad Maya Indonesia diramaikan oleh aksi Elanto Wijoyo yang menghadang konvoi motor gede yang melintas di jalanan Yogyakarta, tepatnya perempatan Condong Catur.

Elanto

Sudahkah anda menonton video bagaimana Elanto menghadang dan memprotes kawanan pengendara motor gede (horde of marauding biker) ini? Cari saja di internet banyak kok. Setelah sempat menonton video yang diunggah para saksi mata, saya melihat bahwa tindakan Elanto ini tidak lain adalah kasus sperging out yang jamak ditemui di internet namun kadang kala terjadi juga di dunia nyata. Elanto punya rekam jejak melaporkan Hotel Amaris yang dibangun di atas cagar budaya, memang Elanto ini warga negara yang amat menjaga ketertiban.

Memang adalah kewenangan kepolisian untuk memberi prioritas lalu-lintas pada masyarakat tertentu, termasuk horde of biker ini. Namun ada baiknya kita menengok ke belakang, rakyat Indonesia sudah lumayan jengah dengan mereka yang menggunakan motor besar dan berlaku arogan di jalanan bahkan mencelakakan pengendara lainnya. Tidak heran bila terjadi letupan aksi Elanto Wijoyo ini.

Ada yang mengaitkan perdebatan tentang prioritas kawalan kepolisian ini tentang perbedaan kelas. Oleh masyarakat fasilitas kawalan kepolisian ada karena kemampuan anggota HDCI “membeli” polisi. Tak perlu kita perbincangkan hal ini, karena toh saya ndak bakal bisa mengusut dan membuktikannya. Masih dalam soal pertentangan kelas, arogansi pengendara motor gede dikaitkan dengan fakta bahwa motor gede hanya dapat dijangkau kalangan atas. Tidak heran banyak yang menganggap arogansi pengendara motor gede muncul karena status sosial mereka.

Memang jalan pikir tersebut amat menggoda kita untuk bersimpati pada mereka yang tidak memiliki kekayaan, namun saya kira kita tidak perlu bergantung pada kerangka berpikir tersebut. Ada hal yang jarang disebut oleh orang banyak bahwa jalanan seringkali membawa keluar sifat buruk manusia, ia yang tadinya bersikap tenang dan lembut bisa menjadi emosional dan ugal-ugalan di jalanan. Skit Disney berjudul “Motor Mania” yang tayang pada tahun 1950 mengilustrasikan hal ini.

JLFRTentu saja, arogansi pengendara motor gede seperti diceritakan diatas menunjukkan bahwa arogansi yang muncul di jalanan tidak terbatas pada pengendara mobil saja. Tapi apakah hal ini dapat digeneralisasikan pada semua jenis kendaraan? Tentu saja. Hal ini akan semakin kuat terjadi manakala berkendara-bersama-sama dalam suatu pawai atau konvoi. Mereka yang berkepribadian arogan akan mendominasi, menjadi suatu vocal minority yang menentukan tabiat kelompoknya (konvoi) terhadap yang liyan (pengendara lain).

Lihat foto Jogja Last Friday Ride di atas. Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan hingga dapat memenuhi Malioboro, namun lihatlah betapa kosong lalu-lintas di depan mereka! Apakah para peserta bike ride ini menutup jalan sehingga pengguna lain tidak dapat lewat? Tidakkah mereka bisa berbagi dengan pengguna jalan lainnya? Entahlah, namun saya lihat perilaku seperti ini adalah bibit dari arogansi yang muncul pada pengendara motor gede.

Advertisements

One thought on “Elanto, Motor Gede, dan Sepeda Kayuh

  1. Pingback: Joyless Wijoyono | ayatayatadit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s