Sriwijaya, antara Islam dan Buddhisme

Menjelajah jagad maya kita akan mendapati berbagai informasi yang kadang membuat kita bingung. Salah satunya adalah mengenai bermulanya Islam di negeri ini. Bukti paling awal interaksi antara warga negeri ini dengan pusat kekuasaan Islam adalah surat dari Raja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Azziz.

Borobudur_shipEntah bagaimana ceritanya ini kemudian sebagian orang menjadikan ini justifikasi bahwa Sriwijaya adalah kerajaan Islam dan Indonesia sudah Islam sejak masa salafushalih. Stay tuned to see how this is bullcrap.

SQ Fatimi, sejarawan Pakistan yang menuliskan buku penting Islam Comes to Malaysia, mengungkapkan bahwa pada masa Muawiyah hadir surat yang datang dari Al-Sin (Hindia?). Fatimi mengungkapkan bahwa Al-Sind (Hindia) yang disebut dalam kutipan ini mencakup seluruh anak benua (India) hingga Asia Tenggara.1 Beruntung di kitab lain muncul kutipan surat yang amat mirip namun lebih lengkap. Berikut kutipan surat tersebut:

Nu’aym bin Hammad menulis, ‘Raja al-Hind mengirimkan surat kepada Umar bin Abdul Aziz, yang berbunyi sebagaimana berikut: Dari Raja di Raja, yang merupakan keturunan dari seribu Raja, yang istrinya juga keturunan daru seribu Raja, yang di kandangnya dipelihara seribu gajah, dan di wilayahnya mengalir dua sungai yang mengairi tanaman gaharu, rempah-rempah nan wangi, pala, dan kapur barus yang mewangi hingga dua belas mil jauhnya[.] Kepada Raja Arab, yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepadamu hadiah, yang mana tidak seberapa jumlahnya melainkan tanda persahabatan dan saya berharap Anda akan mengirimkn seseorang yang dapat mengajarkan pada saya tentang Islam dan mengajarkan pada saya tentang hukum-hukumnya.2

Fatimi menyebutkan bahwa surat ini bertanggal 99 Hijriyah/718 Masehi berasal dari Sri Indrawarman, raja Sriwijaya.3 Tak heran, gajah dan barang-barang yang disebutkan di situ adalah produk khas nusantara yang saat itu perdagangannya dikuasai oleh Sriwijaya. Selain itu Azyumardi Azra mengingatkan bahwa gaya pembuka surat yang amat berbunga-bunga dan mengagungkan pengirim surat seperti ini hadir hingga hampir seribu tahun kemudian di Sumatra.4

Tampaknya artikel tulisan Fatimi ini adalah yang memberikan bahan bagi banyak pihak untuk menyebut bahwa Islam sudah hadir di Indonesia sejak masa abad ke delapan masehi. Contoh tulisan yang menyatakan Indonesia sudah diislamkan sejak abad 7/8 Masehi adalah “Indonesia di Islamkan oleh Utusan bukan Pedagang”5 dan “Sriwijaya dipimpin Raja Muslim.”6

Mari kita menahan diri sejenak. Apakah “perkampungan muslim” sebagaimana disebutkan oleh Hamka tersebut? Apakah dikirimnya utusan dari pusat kekhalifahan berarti Islamnya sang raja Sriwijaya? Bukankah selama ini kita mengenal bahwa Sriwijaya adalah kerajaan Buddha dan menjadi salah satu pusat penyebaran Buddha?

Kutipan surat tersebut memang menunjukkan bahwa sang raja memiliki ketertarikan akan Islam. Kata-kata “…tidak menyekutukan tuhan-tuhan dengan Tuhan” adalah dasar dari Tauhid. Dari mana Sri Indrawarman tahu mengenai hal ini? Pastilah tidak lain dari para pedagang Arab yang sudah hilir mudik di pelabuhan Nusantara, mereka bahkan sudah menetap di Kanton (Tiongkok) sejak abad ke-4 masehi.7 Para pedagang Arab ini pastilah baru puluhan tahun beralih menjadi muslim pada masa Sri Indrawarman.

Sebelum menjawab pertanyaan pertama, coba kita lihat tentang agama yang dominan di Sriwijaya. Sekitar separuh abad seelumnya peziarah Buddha dari Tiongkok, I-Ching, mencatat bahwa di Sriwijaya terdapat seribu lebih peziarah Buddha asal tiongkok, ia menyarankan para calon peziarah untuk tinggal setahun-dua tahun di Sriwijaya untuk mempelajari tata cara keagamaan dan aturan lain sebelum menuju India.8 Tentang agama Buddha di negeri ini Coedes mencatat bahwasanya ada berbagai aliran Buddhisme yang hadir, menegaskan watak kosmopolitas Sriwijaya saat itu.9

Watak kosmopolitan Sriwijaya dan dialektika antar aliran Buddhisme inilah yang diperkirakan oleh Fatimi mendorong Sri Indrawarman untuk mengundang seseorang yang mampu mengajari Islam. “The spirit of religious enquiry thus germinated by this controversy is eloquently evident in the letter sent by the Malaysian monarch to Umar b. ‘Abd al-Aziz.”10 Hal ini bersamaan waktunya dengan kebijakan khalifah saat itu yang memberikan persamaan hak pada semua muslim dengan bangsa Arab dan mengundang para raja Hindia untuk masuk Islam.11

Namun benarkah Sri Indrawarman masuk Islam? Utusan yang dikirim ke Tiongkok pada 724 Masehi tidak mengindikasikan sang raja masuk Islam, pada umumnya orang berganti nama ketika masuk Islam, namun ia tetap menggunakan nama Sri Indrawarman.12 Bahkan hadiah yang dikirim dari arab, seorang budak wanita kulit hitam (Zanj) justru diberikan kepada raja Tiongkok.13

Lalu bagaimana dengan perkampungan muslim tersebut? Seperti telah disebutkan sebelumnya, telah jelas bahwa bangsa Arab telah sampai dan menetap di Tiongkok jauh sebelum nabi Muhammad lahir.14 Tentu tidak aneh bila bangsa Arab sudah sampai di Sumatra dan bahkan menetap di sana. Namun apakah adanya orang-orang Arab ini berarti Indonesia sudah diislamkan? Tentu amat sulit bagi kita untuk menyatakan bahwa Indonesia sudah diislamkan ketika muslim di Indonesia adalah segelintir orang asing yang terpisah dari penduduk pribumi.

Di sini tampak bahwa utusan dari Khalifah di istana Sri Indrawarman gagal mengislamkan sang raja. Kerajaan Sriwijaya selama beberapa abad selanjutnya tetap menjadi kerajaan Buddha. Komunitas muslim yang berisi pedagang Arab tak seberapa jumlahnya, namun cerita Islam Nusantara masih berlanjut beberapa abad kemudian.

========================

1S.Q. Fatimi, “Two Letters From The Mahārājā To The Ḵẖalīfah: A Study In The Early History Of Islam In The East”, Islamic Studies, Vol. 2, No. 1 (1963): Halaman 121-125

2Idem halaman 126-127

3Idem

4Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam di Indonesia. (Jakarta: Prenada, 2013)

5Syamsul Arifin, Islam Dibawa Ke Indonesia Melalui Utusan Bukan Pedagang, https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1400951106867692

Kutipan dalam artikel ini menyesatkan. Daulah Islamiyah yang disebut oleh duta ini telah berganti kepemimpinan tiga kali bukanlah di Daulah Islamiyah di Indonesia melainkan satu-satunya negara Islam saat itu di Mekkah. Untuk keterangan lebih jelas mengenai duta ini baca Azyumardi Azra, Islam in the Indonesian World: An Account of Institutional Formation. (Bandung: Mizan Pustaka, 2006) Halaman 150.

6Bambang Heda, Kerajaan Sriwijaya pernah dipimpin seorang Raja Muslim, https://ahmadsamantho.wordpress.com/2013/01/17/kerajaan-sriwijaya-pernah-dipimpin-seorang-raja-muslim/

7George Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha. (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), halaman 123

8Idem, halaman 124

9Idem, halaman 127

10SQ Fatimi, halaman 135

11Idem

12Coedes, halaman 126

13Fatimi, halaman 135

14Coedes, halaman 123

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s