Buruh, Serikat, dan Politik Indonesia [Review]

Judul : BURUH, SERIKAT, DAN POLITIK: INDONESIA PADA 1920AN–1930AN

Penulis : John Ingleson

Penerbit : Marjin Kiri

10631202_890528300970138_1165250612448944613_oBaiklah, sebelum saya memberikan penilaian saya terhadap buku ini saya berikan terlebih dahulu pengakuan bahwa saya belum menyelesaikan tuntas buku ini. Baru sekitar 334 dari 508 halaman yang saya baca. Sebetulnya saya berniat membeli buku lain, namun dengan harga hanya seratus ribu rupiah dan dengan tebal seperti ini saya tergiur dengan buku ini. Tebal buku ini tidak menjadikan mutunya watered down, ukuran font yang digunakan tidak terlampau besar sehingga buku ini ibarat makanan padat nutrisi.

Buku ini adalah lanjutan karya John Inglesson sebelumnya In Search of Justice : Workers and Union in Java, 1900-1926. Bila buku sebelumnya membahas gerakan buruh Indonesia yang berujung pada pemberontakan gagal PKI pada 1926, maka buku ini membahas kelangsungan berbagai gerakan buruh dalam merespons tekanan pemerintah kolonial sesudahnya hingga kedatangan Jepang 1942.

Sikap atas politik dan pengaruh partai politik adalah salah satu hal yang mempengaruhi watak berbagai serikat pekerja pada masa ini. Tidak dapat dipungkiri banyak serikat yang dibentuk oleh organisasi politik seperti PNI, bahkan PKI, namun ada pula serikat pekerja yang mengambil jarak terhadap mereka. John Inglesson menggambarkan ini dengan apik.

Hal lain yang dimunculkan oleh Inglesson adalah mengenai watak masyarakat kolonial yang berkelas-kelas. Para pekerja Eropa dan Indo-Eropa mendapat privilese khusus yang menyebabkan mereka mengambil jarak terhadap pekerja pribumi. Pekerja kelas atas pribumi juga memiliki privilese mereka. Negosiasi dan renegosiasi antar-kelas menjadi salah satu agenda gerakan serikat pekerja yang terkotak-kotakkan oleh batas kelas.

Aksi-aksi aktivis buruh seperti Soeryopranoto, gosip bahwa pemimpin buruh tidak lain adalah informan PID (dinas intelejen politik kolonial), perdebatan apakah serikat dipimpin oleh buruh sendiri atau orang luar, dan para pekerja yang tidak merasa memerlukan organisasi adalah hal yang mewarnai kehidupan serikat buruh pada masa ini. Saya merasa tidak sabar untuk menyelesaikan sisa 170 halaman lagi dari buku ini.

10/10, must read. Buy if you have monies.

Advertisements

One thought on “Buruh, Serikat, dan Politik Indonesia [Review]

  1. Pingback: Mencari Komunis, Pemikir Sosialis, Aktivis HAM, dan Liberalberal, | ayatayatadit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s