Awal Republik Tiongkok (1911-1916)

Tiongkok adalah negeri yang memiliki sejarah panjang. Tradisi sejarahnya mencatat legenda yang membentang jauh ke belakang hingga masa zaman batu. Dalam tradisi yang amat panjang ini mereka menghasilkan budaya-budaya tinggi dalam pemerintahan, teknologi, dan filsafat. Namun pada awal abad 20 mereka dilanda badai yang menyingkirkan pranata-pranata lama dan menempatkan Republik Tiongkok (Republik of China). Seperti apa pendirian Republik ini berjalan? Silahkan baca lanjutannya.

Chinese_republic_forever

Tiongkok di Akhir Dinasti Qing

Berbagai pemberontakan selama abad 19 amat melemahkan dinasti Qing. Pemberontakan Boxer mungkin adalah pemberontakan besar terakhir yang terjadi pada abad 19, namun berbagai kerusuhan kecil terjadi terus-menerus di seluruh pedalaman Tiongkok.1

Latar belakang dari kerusuhan-kerusuhan ini adalah ketimpangan sosial antara pemilik tanah dan petani penggarap. Konflik antara petani penggarap dan tuan tanah ini sudah cukup panjang terjadi dan semakin parah setelah pemberontakan Taiping. Lahan dimiliki bersama oleh penggarap dan tuan tanah, namun tuan tanah mendapat 60% dari hasil panen. Selain hak atas hasil panen, para tuan tanah masih memiliki hak-hak feodal lainnya atas para petani penggarap. Seringkali penggarap yang berhutang pada tuan tanah kehilangan hak atas tanahnya dan terusir dari lahannya.2 Tentu saja sistem feodal ini tidak hanya dilakukan oleh Dinasti Qing, namun beban rakyat karena sistem feodal ini membuat persepsi buruk terhadap pemerintahan Manchu.3

Selain di kalangan rakyat pedesaan, di kalangan terpelajar juga terjadi kekecewaan terhadap pemerintahan Qing. Berbagai kekalahan Tiongkok terhadap kekuatan barat menunjukkan bahwa bangsa Manchu sudah tidak dapat memimpin Tiongkok lagi. Perebutan kekuasaan di lingkungan istana juga membuat posisi tawar Tiongkok amat lemah. Kelemahan ini membuat berbagai sumberdaya Tiongkok diambil oleh bangsa barat. Perebutan kekuasaan ini berakhir dengan Ratu Ibu Suri Ci Xi mengambil kekuasaan de facto atas nama putranya. Kondisi pemerintahan Qing yang tidak solid membuat korupsi di kalangan birokrat merajalela amat parah.4

china_peasant

Feodalisme di akhir Qing amat membebani petani, menyebabkan timbulnya keresahan sosial.

Tidak heran bila pada awal kemunculan nasionalisme, nasionalisme yang muncul adalah nasionalisme Han yang menolak segala pengaruh Manchu yang dianggap asing. Wang Jiwei (salah satu rekan awal Sun Yat Sen) bahkan beranggapan bahwa bangsa Han adalah bangsa yang lebih unggul dibandingkan bangsa-bangsa lainnya.5

Persemaian Gerakan Nasionalis (1900-1911)

Dari bagian selatan Tiongkok, terutama di sekitar Kanton muncullah gerakan nasionalis yang ingin meruntuhkan kekuasaan dinasti Qing dan menggantinya dengan republik yang baru. Mengapa dari Kanton? Tidak lain hal ini terjadi karena di sinilah terjadi interaksi antara bangsa Tionghoa dengan orang-orang dan pemikiran Barat.6

Adalah Sun Yat Sen yang menggerakkan Aliansi Revolusioner/Aliansi Masyarakat Harmonis yang dikenal dengan nama Tongmenghui. Pada awalnya Tongmenghui ini adalah kelompok rahasia, mereka memiliki 4 tujuan yaitu menurunkan dinasti Qing, mengembalikan Tiongkok pada bangsa Tionghoa, mendirikan republik, dan melakukan reforma agraria.7

Ide-ide Sun Yat Sen mengenai nasionalisme Tiongkok amat dominan di Tongmenhui. Kita dapat memahami ide-ide ini dari pidato di luar negeri tahun 1905 maupun beberapa tahun kemudian (1924). Dalam pembentukan konsepsi nasionalisme Tiongkok ini Sun Yat Sen juga memperluas nasionalisme Tiongkok tidak hanya merupakan Nasionalisme Han tetapi juga bersatu dengan etnis lainnya (Manchu, Hui/muslim, Mongol, dan Tibet)8

Ide utama Sun Yat Sen adalah Tiga Azas Rakyat (San Min Chu I) yang mendasari Republik Tiongkok yang didambakan olehnya. Tiga azas tersebut adalah:

a. Min Tsen/Minzu, kebangsaan

b. Min Chu/Minquan, demokrasi

c. Ming Sheng, sosialisme/kesejahteraan.

tongmenghuiSun Yat Sen telah merencanakan bentuk Republik Tiongkok sejak era ini. Ia merencanakan negara yang terdiri dari 5 lembaga, tidak seperti barat yang membaginya dalam 3 lembaga. Dua lembaga yaitu lembaga penguji, memiliki kekuasaan dalam seleksi pejabat, dan lembaga sensorat yang mengawasi atas tindakan korupsi. Bentuk lembaga negara ini baru dapat diimplementasikan sejak Kuomintang berkuasa pada 19289

Kaum revolusioner Tiongkok memandang bahwa dalam membawa Tiongkok dari masyarakat monarkis menuju masyarakat republikan diperlukan suatu Demokrasi Terpimpin yang dijaga oleh kader-kader yang matang. Sun Yat Sen menyadari di awal revolusi pastilah diperlukan kekuatan militer, oleh karenanya ia merencanakan bahwa 3 tahun awal pemerintahan Republik akan dipimpin oleh militer revolusioner.10

Dalam tataran aksi Sun Yat Sen juga berusaha mendapatkan sekutu untuk menjalankan revolusi. Pada 1905 ia melakukan tur ke Amerika, Eropa, dan Jepang untuk menghimpun dukungan kepada Tungmenghui. Bahkan ia berusaha mendapatkan dukungan dana dan persenjataan dari Prancis, sayangnya kebijakan Prancis saat itu adalah tidak mendukung gerakan revolusioner di Asia Timur dan menjadikan pemerintahan Qing sebagai sekutunya.11

Jalannya Revolusi 1911

Rakyat memotong kuncirnya sebagai tanda mereka bukan lagi hamba dinasti Qing.

Rakyat memotong kuncirnya sebagai tanda mereka bukan lagi hamba dinasti Qing.

Kondisi pemerintahan Qing yang semakin bobrok membuat berbagai kalangan masyarakat Tiongkok memaksa untuk dilakukannya berbagai perubahan. Amat banyak perubahan yang terjadi dengan dibentuknya berbagai majelis dan rancangan konstitusi. Gilbert Reid menyebut bahwa terjadi lebih banyak perubahan selama tahun 1911 dibandingkan selama sepuluh tahun sebelumnya. Ia juga mengingatkan bahwasanya yang disebut-sebut sebagai diktator, sang Kaisar, tidak lain hanyalah anak kecil pada saat ini.12

Namun Gillbert tidak menghiraukan fakta bahwa sudah terjadi berbagai kerusuhan dan keresahan di masyarakat Tiongkok pada saat ini. Agitasi kaum revolusioner kepada masyarakat yang muak dan menderita di bawah feodalisme bagaikan percikan api di tengah jerami kering. Kerusuhan-kerusuhan lokal terus terjadi di berbagai propinsi dan tidak pernah benar-benar padam.13

Pada 9 Oktober meledaklah bom di markas Tungmenghui, diikuti dengan penangkapan kader-kadernya. Segera Tungmenghui melakukan pembalasan pada 10 Oktober 1911. Kaum revolusioner memotong kuncirnya sebagai tanda anti-manchu. Meski mengalami ketiadaan pemimpin, segera mereka mendapat perwira militer yang bersimpati. Li Yuan Hung mengambil alih kepemimpinan dan segeralah kota Wuchang direbut oleh kaum revolusioner.14

Leo Agung menyebutkan bahwa pemberontakan kaum revolusioner di propinsi lainnya segera berhasil.15 Namun hal ini melupakan fakta bahwa rakyat yang sudah tidak mampu menanggung beban hidup dalam sistem feodal belum tentu melakukan pemberontakan ini di bawah komando kaum revolusioner Tungmenghui. Di Jiansu pembuat onar dan pemberontak muncul spontan setelah kabar revolui Wuchan, tanpa dipimpin kaum revolusioner.16

Kekacauan yang terjadi ini menyebabkan pemerintah berbagai propinsi kewalahan mengatasinya. Setelah menunggu jawaban dan bantuan dari pusat, sementara perbanditan semakin parah maka beberapa propinsi seperti Suzhou dan Jiangsu menyatakan kemerdekaannya dari penguasa Neijing. Namun ini tidak berarti perbanditan hilang begitu saja.17

Pemerintah Qing merasa ketakutan dengan kondisi ini. Untuk mencegah pasukan revolusioner masuk ke Beijing maka dipanggillah Yuan Shih Kai, jenderal yang memegang pasukan Beiyang yang modern dan besar. Pemerintah Qing memberikan jabatan Perdana Menteri padanya sebagai imbalan bila ia berhasil menjaga Beijing.18

Kaum revolusioner Wuchang tidak mendapat ancaman apapun dari pemerintahan Qing yang bobrok. Pada 29 Desember 1911 kaum revolusioner mengangkat Sun Yat Sen sebagai Presiden sementara (Provisional) dan dilantik 1 Januari 1912.19

Istana Qing menawarkan reformasi pemerintahan dan pengampunan bagi para pemberontak, namun pemberontak tidak bergeming dengan tuntutannya. Yuan Shih Kai sebagai Perdana Mentri malah memaksa wali Kaisar untuk mundur dari politik. Setelah mengalahkan beberapa pasukan revolusioner ia membuka negosiasi. Kaum revolusioner tidak memiliki kekuatan sepadan dengan pasukan Beiyang yang dipimpin Yuan, oleh karenanya Yuan memegang posisi tawar lebih tinggi.20

Beiyang_Army

Tentara Beiyang adalah tentara terkuat dalam pemerintah dinasti Qing. Akhirnya Tentara beiyang digunakan Yuan Shih Kai untuk memuluskan jalannya menuju kekuasaan.

Pada akhirnya kompromi diambil, Sun Yat Sen mundur dari posisi Presiden dan Yuan Shih Kai menjadi Presiden resmi Republik Tiongkok sejak 15 februari 1912 sedangkan wakilnya adalah pemimpin militer kaum revolusioner, Li Yuan Hung. Maka dimulailah masa pembentukan lembaga-lembaga negara Tiongkok.21

Kekuasaan Yuan Shih Kai

Meski secara sah telah menjadi Presiden Republik Tiongkok dan tidak ada kekuatan yang dapat menantangnya namun tampaknya Yuan Shih Kai tidak puas dengan hal ini. Muncullah perdebatan dengan utusan-utusan propinsi yang menginginkan otonomi lebih besar.22

Kalangan revolusioner Tungmenghui yang bersiap-siap menjalankan pemerintahan sipil segera membentuk partai politik Kuomintang (ejaan baru/pinyin: Guomindang). Partai ini banyak dukungan dan mengisi banyak posisi dewan nasional. Pada 20 Maret 1913 pemimpin Kuomintang, Song Jiaoren dibunuh. Banyak pihak mencurigai Yuan Shih Kai yang memesan pembunuhan ini.23

Situasi yang memanas dan tindakan Yuan Shih Kai meminta pinjaman asing menimbulkan kecurigaan banyak pihak. Akhirnya terjadilah revolusi lagi untuk menggulingkan Yuan Shih Kai. Namun pemberontakan yang terjaditerbatas di sekitar lembah sungai Yangtze dan pemimpin militer revolusi, Li Yuan Hung memilih berpihak pada Yuan Shih Kai. Segeralah pemberontakan ini dapat dipadamkan.24

Inaugurasi Yuan Shih Kai sebagai Presiden. Segera setelah menjabat ia menjadi figur autokratis yang memusatkan kekuasaan di tangannya.

Inaugurasi Yuan Shih Kai sebagai Presiden. Segera setelah menjabat ia menjadi figur autokratis yang memusatkan kekuasaan di tangannya.

Selanjutnya dalam pemerintahan Republik Yuan Shih Kai berhasil menyingkirkan pesaing-pesaingnya. Muncullah bujukan-bujukan dari anak dan rekan-rekannya agar ia mengembalikan monarki dengan ia sebagai pemimpinnya. Pada 14 Agustus 1915 muncullah pamflet-pamflet yang menyatakan bahwa monarki lebih cocok dengan sifat bangsa Tiongkok daripada republik.25

Yuan Shih Kai yang amat percaya diri dengan posisinya saat ini, majelis nasional yang diisi orang-orang Yuan Shih Kai segera mengangkatnya sebagai Kaisar Tiongkok. Muncullah berbagai pemberontakan-pemberontakan dari berbagai daerah.26 Namun Yuan tidak memperkirakan bahwa para pemberontak ini kali ini tidak sendirian. Mereka mendapatkan dukungan dari Jepang yang menyuplai persenjataan dan dana.27 Pada akhirnya Yuan tidak dapat memaksakan penobatan dirinya sebagai Kaisar. Kepemimpinan Yuan Shih Kai berakhir dengan kematiannya pada 6 Juni 1916.

====================

PUSTAKA

1Young-Tsu Wong, “Popular Unrest and the 1911 Revolution in Jiangsu,” Modern China Volume 3, Nomor 3 (Juli 1977), halaman 322.

2Idem, 335.

3Leo Agung, Sejarah Asia Timur Jilid I (Yogyakarta : Ombak, 2012), halaman 73.

4Idem, 73-74

5George T Yu, “The 1911 Revolution: Past, Present, and Future,” Asian Survey, Volume 31, No. 10 (Oktober, 1991), halaman 897.

6Leo Agung, halaman 78

7John C DeKorne, “Sun Yat-Sen and the Secret Societies,” Pacific Affairs, Volume 7, Nomor 4 (Desember, 1934), halaman 430.

8George T Yu, halaman 897-898

9George T Yu, halaman 899

10Idem

11J Kim Munholland, “The French Connection that Failed: France and Sun Yat-Sen, 1900-1908,” The Journal of Asian Studies, Volume 32, Nomor 1 (November, 1972), halaman. 77-95

12Gilbert Reid, “Autocracies and Revolutions in China,” The Journal of International Relations, Volume 10, Nomor 2 (Oktober, 1919), halaman 198

13Young-Tsu Wong, halaman 322.

14Leo Agung, halaman 80.

15Idem

16Yong Tsu-wong, halaman 325.

17Idem, halaman 326-328

18Leo Agung, halaman 80.

19Leo Agung, halaman 82

20Yuan Shih kai, en.wikipedia.org/wiki/Yuan_Shih_Kai, diunduh 17 September 2015

21Leo Agung, halaman 82-83

22Gilbert Reid, halaman 200

23 Idem

24Idem, halaman 200-201

25Peter Lowe, “Great Britain, Japan and the Fall of Yuan Shih-K’ai, 1915-1916,” The Historical Journal, Volume 13, Nomor 4 (Desember, 1970), halaman 707

26Gilbert Reid, halaman 201-202

27Peter Lowe, halaman 708-716

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s