Republik Tiongkok: Antara Nasionalis, Komunis, dan Jepang.

Minggu lalu saya sudah bercerita mengenai awal pendirian Republik Tiongkok. Kali ini cerita saya bersambung ke masa sesudahnya, ketika Tiongkok terpecah-belah antara warlord satu dengan lainnya dan harus menghadapi masuknya kekuasaan Jepang. Bahkan ketika Chiang kai Sek berhasil mempersatukan Republik ia harus menghadapi Komunis. Bagaimana konflik ini berjalan? Silahkan disimak.

1922293_10201676078163766_700382124_n

Latar Belakang

Republik Tiongkok memulai cerita sejarahnya dengan revolusi Xinhai yang berdarah, namun segera setelah itu ia menghadapi perebutan kekuasaan antara kalangan nasionalis yang berada dibelakang Sun Yat Sen dengan para autokrat.1

Kemunculan Autokrat ini ditandai dengan naiknya Yuan Shih Kai sebagai orang terkuat di Tiongkok. Namun hal ini tidak berjalan dengan mulus. Sifat otokratis Yuan Shih Kai menimbulkan tentangan dari segala arah karena amat bertentangan dengan cita-cita kalangan revolusioner.2 Jepang segera menolak memberi pengakuan padanya dan memberikan suaka kepada Sun Yat Sen.

Memanfaatkan kondisi Tiongkok yang terpecah dan lemah Jepang mengeluarkan 21 tuntutan pada tanggal 18 Januari 1915 M. Martinah meringkas dari 21 tuntutan Jepang kepada Cina ini terdapat6 point utama, yakni:

  1. Jepang menuntut agar Cina mengakui pengaruh Jepang di Manchuria dan Mongolia Timur;

  2. Jepang ingin memiliki tambang batu bara dan besi di Cina

  3. Jepang ingin mendapatkan hak-hak istimewa di Cina seperti orang-orang Jepang diikut sertakan dalam menjaga keamanan di kota-kota besar.

  4. Cina harus membeli senjata buatan Jepang, dan untuk melatih penggunaanya maka Jepang bersedia mengirimkan ahli-ahlinya ke Cina

  5. Cina harus menyerahkan Kiaochow dan Shantung kepada Jepang

  6. Cina tidak boleh membuka kota-kota pelabuhannya di sepanjang pantai Cina kepada siapapun kecuali Jepang.3

Pemerintahan Yuan Shih Kai terlalu sibuk menghadapi oposisinya sehingga tidak dapat berbuat banyak terhadap tuntutan ini. Dengan ini kehadiran Jepang di Tiongkok semakin kuat.

Sementara itu kondisi rakyat pedesaan masih amat menyedihkan. Kondisi mereka yang amat tertindas di bawah feodalisme pemerintahan Qing merupakan suatu kondisi pra-syarat terjadinya revolusi4 namun ternyata revolusi yang terjadi gagal merubah struktur masyarakat Tiongkok.5

Kekuasaan Yuan Shih Kai menitikberatkan pada kekuatan militer dan rekayasa politik daripada pembangunan institusi negara. Ia melakukan penyuapan pada politisi dan para panglima perang. Hal ini menyebabkan pemerintah pusat kehilangan wibawanya dan muncullah para panglima perang yang berkuasa di daerah-daerah.6

4thmayPara Panglima Perang, Intelektual Baru, dan Unifikasi (1917-1928)

Kematian Yuan Shih Kai meninggalkan satu warisan: tentara Beiyang yang kuat di ibukota (Beijing). Perdebatan mengenai masuk atau tidaknya Tiongkok dalam Perang Dunia pertama menyebabkan munculnya usaha merestorasi kekuasan Kaisar Manchu dengan dana dari Jerman. Jendral Tentara Beiyang, Duan Qirui (dari klik Anhui), berhasil mengalahkannya dengan segera.7

Duan segera membubarkan parlemen dan membentuk pemerintahan sipil baru. Dengan berada di bawah pemerintahan sipil baru ini pemerintahan Beiyang mendeklarasikan perang terhadap poros tengah (Jerman & Austria-Hungaria). Dengan menggunakan dana pinjaman dari Jepang mereka membentuk angkatan bersenjata modern yang mereka sebut akan digunakan dalam Perang Dunia, namun tidak pernah dikirim ke luar negeri. Dalam kondisi terikat hutang dengan Jepang ini pada saat akhir Perang Dunia dalam konferensi Paris pemerintahan Beiyang menawarkan konsesi Jerman di Shandong (Shantung) kepada Jepang.8

Hal ini memicu munculnya gerakan 4 Mei 1919. Dalam gerakan ini pemerintahan Beiyang mendapat kecaman dari kalangan intelektual yang beru muncul. Pamflet-pamflet dan demonstrasi tersebar ke mana-mana, menggerogoti wibawa pemerintah di mata masyarakat. Tidak hanya mahasiswa dan pelajar yang ikut serta, kalangan buruh juga muncul dalam gerakan yang meluas di seluruh negeri ini.9

Gerakan 4 Mei ini memunculkan berbagai kalangan intelektual. Tidak hanya para aktivis anti-Jepang, namun muncul pula aktivis dengan paham baru seperti Marxisme dan Anarkisme. Li Dazhao adalah salah satu intelektual Tiongkok pertama yang mendukung Marxisme dan Leninisme dan mengambil inspirasi dari Revolusi Oktober di Russia.10

Iklim aktivisme ini menguntungkan Kuomintang dan Sun Yat Sen. Ratusan aktivis yang menginginkan persatuan nasional dan pemerintah yang mampu menjawab tantangan luar berpaling pda ide-ide nasionalis Sun Yat Sen. Sementara itu kalangan kiri, terutama Partai Komunis Tiongkon mulai mendapatkan traksi di kalangan rakyat.11

Gerakan 4 Mei adalah satu kejadian dalam revolusi intelektual dan gerakan budaya baru yang terjadi kira-kira antara 1917-1923. Dalam kurun waktu yang singkat ini Tiongkok mengalami akselarasi pemikiran di ranah publik, memperkuat sentimen nasionalis dan menumbuhkan kesadaran akan kemajuan, dmokrasi, kebebasan, dan individualisme. Hal ini terjadi melalui majalah-majalah yang menggunakan bahasa populer (pai hua), meninggalkan bahasa klasik.12

Sementara itu Duan menggunakan tentara yang dibangunnya dengan pinjaman Jepang untuk melawan klik-klik Panglima Perang lainnya. Namun akhirnya dominasi klik Anhui segera dikalahkan. Setelah Duan muncul klik Zhili yang menguasai pemerintahan Beiyang. Cao Kun naik sebagai Presiden dengan menyuap anggota parlemen.13

Pada masa ini para Panglima Perang muncul sebagai akibat dari terdesentralisasinya sistem pemasukan negara (pajak) Tiongkok yang merupakan warisan dari administrasi feodal. Pendapatan dari pajak yang diambil oleh administrator daerah tidak sampain ke ibukota tetapi masuk ke pundi-pundi Panglima Perang yang menggunakannnya untuk membiayai pasukannya.14

Sun Yat Sen dan kalangan Nasionalis memiliki pusat kekuasaan di Selatan. Mereka tidak lain adalah salah satu diantara sekian klik Panglima Perang. Ia tidak memiliki dukungan yang kuat dari luar negeri yang memberikan pengakuan pada pemerintahan manapun yang menguasai Beijing (saat itu dikuasai Beiyang). Maka pada 1921 ia beralih ke Uni Soviet. Untuk bantuan keuangan dan teknis, Uni Soviet memaksa Sun Yat Sen untuk menerima Partai Komunis dalam satu front bersama. Hal ini membuat Kuomintang dimasuki unsur komunis.15

Dari kalangan nasionalis muncul Chiang Kai Sek, seorang perwira militer yang mengelola Akademi Wampoa. Ia adalah memegang teguh ajaran Sun Yat Sen. Segera setelah kematian Sun Yat Sen pada 1925 ia mengambil alih kepemimpinan Kuomintang dengan visi menyatukan Tiongkok yang terpecah-pecah oleh kekuasaan Panglima Perang.

Pada 1926 Chiang Kai Sek cukup percaya diri untuk melakukan ekspedisi penyatuan ke utara. Namun terjadi kerusuhan dan kecauan di wlayah yang baru dibebaskan pasukannya. Hal ini diakibatkan oleh agitasi komunis dan anggota radikal Kuomintang. Hal ini menimbulkan perpecahan antara anggota konservatif dan radikal Kuomintang. Segera setelah mengambil alih Shanghai ia menyerang semua sel komunis di dalam Kuomintang. Mao Zedong membawa pengikutnya mengungsi ke Jiangxi dan menjadikannya pusat kekuatan komunis.16

Dengan hilangnya unsur komunis di dalam Kuomintang maka Chiang Kai Sek dapat berkonsentrasi melakukan unifikasi Tiongkok. Pada akhir 1928 pasukannya berhasil mendapat kontrol atas Beijing dan banyak daerah lain, meski sebagian besar Panglima Perang tidak mengacuhkannya.17

Pada saat usaha unifikasi berjalan Manchuria masih dipegang oleh klik Fengtian yang merupakan bagian dari tentara Beiyang dan menggunakan bendera lima warna Republik lama. Namun komandannya, Zhang Xueliang menyatakan dirinya tidak akan mengganggu unifikasi yang menyebabkan Jepang gusar. Dengan dukungan diplomatik dari Amerika dan Inggirs akhirnya Czhang Xueliang menerima jurisdiksi pemerintah nasionalis pada 29 Desember 1928.18

Chiang Kai Sek dan Zhang Xue Liang. Zhang adalah panglima perang besar yang menerima usaha unifikasi Kuomintang.

Chiang Kai Sek dan Zhang Xue Liang. Zhang adalah panglima perang besar yang menerima usaha unifikasi Kuomintang.

Awal Perang Saudara Nasionalis-Komunis (1927-1937)

Pembersihan Kuomintang dari pengaruh komunis adalah pukulan hebat bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT). Namun evakuasi mereka ke Jiangxi memberi kesempatan bagi mereka untuk membangun basis populer dengan memanfaatkan keresahan umum. Hasilnya adalah Tentara Merah yang merupakan kekuatan gerilya yang kuat. Selagi membangun sel-sel lokal di seluruh negeri, Republik Soviet Tiongkok juga didirikan di Jiangxi pada 1931.19

Tokoh sentral dalam evakuasi dan pembentukan Republik Soviet ini adalah Mao Zedong. Ia berpengalaman mengorganisasikan petani sejak front bersama 1921. Dari sana ia berusaha mengalihkan perhatian PKT dari intelektual dan proletariat urban kepada petani pedesaan. Ia berpendapat siapapun yang berhasilmemenangkan hati para petani akan dapat memenangkan seluruh Tiongkok.20

Chiang Kai Sek melakukan kampanye terhadap komunis pada 1930 yang dinamai “Ofensif Pembersihan Bandit” untuk mengepung wilayah Jiangxi-Hunan. Bukannya menemui gerombolan pasukan yang tidak teratur ia justru menemui pasukan yang lincah dan terampil dalam gerilya sehingga pasukannya terpukul mundur. Ia mengulang lagi serangan pada 1931, namun aneksasi Manchuria oleh Jepang membuyarkan konsentrasinya. Kampanye keempat melawan komunis dilakukan lagi pada 1932-1933 namun berakhir imbang. Pada 1934 Chiang Kai Sek menyiapkan benteng-benteng di sekeliling wilayah PKT, bersiap memberikan pukulan terakhir.21

Menghadapi ancaman perang konvensional dan terbuka para pimpinan Komunis memilih meninggalkan Jiangxi. Maka dimulailah Long March dari wilayah pedalaman Timur Tiongkok menuju perbatasan wilayah barat, hingga mencapai Tibet, kemudian ke arah utara. Setelah berjalan kaki lebih dari lima ribu mil selama tiga ratus dan enampuluh hari sampailah rombongan PKT di Yenan.22

Ribuan gerilyawan Tentara Merah melakukan Long March. Dari sepulh yang pergi, hanya satu yang selamat.

Ribuan gerilyawan Tentara Merah melakukan Long March. Dari sepulh yang pergi, hanya satu yang selamat.

PKT telah menjadi amat lemah. Namun di Kuomintang sendiri muncul perbedaan pendapat. Zhang Xue Liang, Panglima perang Machuria yang ditugasi oleh Chiang Kai Sek menghancurkan komunis justru menentang perintah ini. Justru Chiang kai Sek disandera oleh Zhang dan dipaksa membuka front bersatu yang kedua. Chiang akhirnya menyetujui hal ini, namun ia dan Mao tahu front ini takkkan bertahan lama. Insiden ini kini dikenal dengan sebutan insiden Xian.23

Petualangan Jepang: Dari Aneksasi hingga Perang (1931-1945)

Jepang yang telah memodernisasi dirinya memiliki pengalaman panjang dalam sejarah Tiongkok modern. Mereka adalah salah satu kekuatan asing yang memadamkan pemebrontakan Boxer tahun 1900. Presensi mereka di Tiongkok lebih kuat daripada negara barat manapun sejak itu. Rupanya kondisi ini membuat mereka terus melakukan aneksasi wilayah Tiongkok yang kaya bahan mentah untuk pertumbuhan ekonomi Jepang.

Pada 18 September 1931 sekelompok orang dibawah Letnan Suemori Kawamoto menanam dinamit di rel. Ledakan dinamit ini amatlah kecil, tidak ada kerusakan rel dan kereta segera lewat beberapa menit kemudian. Namun insiden ini disalahkan pada aktivis Tiongkok dan dijadikan alasan pembuka perang oleh Jepang. Ledakan bom ini dijadikan alasan untuk segera mengirimkan pasukan keesokan harinya. 7000 pasukan Zhang Xue Liang bukan tandingan 500 pasukan Kwantung Jepang yang amat terlatih. Segera garnisun ini dikalahkan Jepang. Insiden ini dikenal dengan nama Insiden Mukden.24

Infantri Jepang dalam aneksasi Manchuria

Infantri Jepang dalam aneksasi Manchuria

Zhang Xue Liang memiliki seperempat juta pasukan yang dianggap terbaik di Tiongkok, namun ia tidak melakukan perlawanan terhadap pasukan Tentara Kwantung yang hanya berjumlah 11 ribu orang saja. Hal ini dikarenakan kebijakan Kuomintang untuk berkonsentrasi terhadap ancaman komunis dan lemahnya moral pasukannya. Dalam 5 bulan setelah insiden di Mukden pasukan Jepang sudah menguasai seluruh Manchuria tanpa perlawanan berarti.25

Seluruh Tiongkok bereaksi keras akan hal ini. Di Tianjin terjadi kerusuhan antara preman bayaran Jepang dengan polisi Tiongkok setempat.26 Muncul pula kecaman terhadap Zhang Xue Liang meski kebijakan Kuomintang juga turut bersalah. Pada saat itu ia sendiri berada di Beijing untuk mengumpulkan dana bagi korban bencana banjir di Selatan, namun oleh pers Tiongkok ia diledek sebagai Jendral Tidak Melawan (不抵抗將軍).27

Di Manchuria Jepang mendirikan negara boneka yang olehnya disebut Manchukuo. Setelah mencari kolaborator yang dapat digunakan akhirnya mereka menempatkan (Kaisar) Puyi sebagai kepala negara boneka ini. Meski dikepalai oleh orang Tiongkok dan mentri-mentrinya adalah orang Tiongkok, namun pemerintahan ini berada di tangan Jepang. Tiap keputusan mentri harus melalui wakil mentri yang merupakan anggota militer Jepang.28

Kebijakan Chiang Kai Sek untuk tidak melawan Jepang secara langsung membuat nafsu Jepang militerisme tidak terbendung. Jepang terus melakukan penyelundupan dan intrusi ke wilayah Tiongkok. Percaya diri dengan keengganan Chiang Kai Sek untuk melakukan perang total terhadap Jepang, mereka berniat mengulang insiden Mukden. Maka terjadilah insiden di jembatan Marco Polo di Peiping (Beijing).

Jepang tidak berniat menjadikan ini perang, namun Chiang Kai Sek tidak memiliki pilihan lain. Opini publik atas aksi-aksi Jepang menimbulkan kemarahan rakyat Tiongkok. Untuk menggertak Chiang, Jepang menempatkan pasukan di Beijing dan menambah kapal perang di Shanghai. Namun gertakan ini berbalik dengan Chiang menempatkan pasukannya di Shanghai sehingga terjadi pertempuran sengit.29

Pada awalnya Tentara Revolusioner nasional yang ditempatkan oleh Chiang Kai Sek berjumlah 70.000 orang sementara marinir Jepang berjumlah 6300 orang. Pada akhirnya Jepang harus mengerahkan 200.000 orang dibantu kapal-kapal perang untuk merebut Shanghai dalam 3 bulan. Segera setelah mencaplok Shanghai mereka mengambil alih ibukota Nanjing, di sinilah terjadi pembantaian besar-besaran yang dikenal dengan sebutan Rape of Nanking.30

Menghadapi invasi cepat Jepang Chiang Kai Sek melakukan strategi bumi hangus untuk memperlambat laju Jepang. Pada Juni 1938 dinding Sungai Kuning di Henan dijebol untuk memperlambat laju tentara Jepang. Namun ini hanya menunda kedatangan Juggernaut saja. Pada bulan Oktober kota Hankou (kini disebut Wuhan) jatuh ke tangan Jepang sementara pemerintahan Chiang Kai Sek lari ke Chongqing.31

Komandan militer Jepang menjanjikan operasi singkat selama dua bulan pada Kaisar jepang. Speerti disebutkan sebelumnya, hal ini tidak tercapat. Jepang justru terbawa dalam perang berkepanjangan. Jauh di pedalaman barat, Chiang menolak semua tawaran damai jepang selagi mendesak bantuan dan keterlibatan Amerika dalam perang ini.32

Namun pilihan Chiang untuk membangun basisnya di pedalaman menjadikan ia justru terpisah dari rakyatnya. Sementara pusat industri urban dan perbankan di pesisir sudah diambil alih Jepang di sekeliling Chiang Kai Sek suara kalangan elite lebih dominan, menjadikan kepentingan tuan tanah yang bertahan dalam struktur feodal lama. Ini menimbulkan para petani beralih pada agen-agen komunis. Hal ini amat menguntungkan PKT yang membangun lagi kekuatannya di Shanxi.33

Namun pilihan Chiang untuk membangun basisnya di pedalaman menjadikan ia justru terpisah dari rakyatnya. Sementara pusat industri urban dan perbankan di pesisir sudah diambil alih Jepang di sekeliling Chiang Kai Sek suara kalangan elite lebih dominan, menjadikan kepentingan tuan tanah yang bertahan dalam struktur feodal lama. Ini menimbulkan para petani beralih pada agen-agen komunis. Hal ini amat menguntungkan PKT yang membangun lagi kekuatannya di Shanxi.33

Anak-anak yang ikut serat dalam pelatihan kader komunis. Partai Komunis meraih popularitas tinggi di pedesaan karena janjinya untuk melakukan reforma agraria.

Anak-anak yang ikut serat dalam pelatihan kader komunis. Partai Komunis meraih popularitas tinggi di pedesaan karena janjinya untuk melakukan reforma agraria.

Perang berkepanjangan ini membuat Jepang makin haus sumber daya. Untuk mengatasinya Jepang malah memperluas perang dengan menyatakan perang terhadap Amerika dan sekutu, menjadikan Jepang bagian dari Perang Dunia II pada 1941. Pada saat inilah secara resmi perang Tiongkok-Jepang menjadi perang terdeklarasi. Justru pada saat inilah pertentangan antara Kuomintang dan PKT semakin meruncing.

Epilog dan Kesimpulan

Dalam menghadapi Jepang Chiang Kai Sek memperoleh dukungan dana dan senjata dari Amerika. Ia tidak ragu melakukan perang terbuka terhadap pasukan Jepang, namun kondisinya yang terisolir membuat pasukannya tidak membuat kemenangan berarti. Sementara itu Tentara Merah dibwah PKT selalu menghindari pertempuran terbuka, memilih mendekati petani dan melakukan gerilya. Hal ini membuat mereka menghabiskan sumber daya Jepang dan mampu menarik dukungan rakyat banyak. Pada akhirnya Jepang menyerah setelah kampanye pemboman besar-besaran di tanah Jepang oleh Amerika. Setelah Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II terjadi, konfrontasi

Revolusi Tiongkok yang didorong oleh kalangan nasionalis revolusioner gagal mendirikan Republik yang stabil. Para Panglima Perang berebut kekuasaan dan malah bekerja sama dengan kekuatan asing (Jepang) untuk kepentingan pribadinya. Hal ini semakin menambah penderitaan rakyat dan menjadikan reformasi agraria yang dibutuhkan rakyat terlupakan. Upaya-upaya militer Chiang Kai Sek berhasil menyatukan sebagian besar wilayah Tiongkok, namun karena jarak antara elite dengan rakyat amat jauh pada akhirnya dukungan rakyat banyak lepas darinya. Partai Komunis berhasil memanfaatkan ini dan mendapat dukungan dari rakyat banyak.

_____________

Catatan Kaki

1“Xinhai Revolution,” wikipedia free encyclopedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Xinhai_Revolution. Diakses 12 September 2015

2Leo Agung, Sejarah Asia Timur 1 (Yogyakarta: Ombak, 2012), halaman 85

3Ibidem

4Young-Tsu Wong, “Popular Unrest and the 1911 Revolution in Jiangsu,” Modern China Volume 3, Nomor 3 (Juli 1977), halaman 322.

5“Xinhai Revolution”, Wikipedia Free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Xinhai_Revolution. Diakses 12 September 2015

6“Yuan Shih Kai,” Wikipedia Free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Yuan_Shih_Kai. Diakses 17 September 2015

7“Beiyang Government,” Wikipedia Free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Beiyang_Government. Diakses 12 September 2015

8Ibidem

9Leo Agung, Sejarah Asia timur 1, halaman 86

10“Communist Party of China,” Wikipedia the Free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Communist_Party_of_China. Diakses 20 Sepetember 2015

11Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. (Saint Louis: Forum Press, 1978) halaman 49

12Ibidem, halaman 48.

13“Beiyang Government,” Wikipedia Free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Beiyang_Government. Diakses 12 September 2015

14Hans J van deVen. Public Finance and the Rise of Warlordism. Modern Asian Studies, Volume 30, Nomor 4, Special Issue: War in Modern China (Oktober, 1996). Halaman 830-831

15Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 49

16Ibidem, halaman 50

17Ibidem, halaman 51

18“Chinese Reunification (1928),” Wikipedia the free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_reunification_(1928). Diakses 21 Sepetember 2015

19Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 52

20Ibidem, halaman 53

21Ibidem halaman 53

22Ibidem, halaman 53-54

23Ibidem.

24“Mukden Incident,” wikipedia the free encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Mukden_Incident. Diakses 23 Sepetember 2015.

25Ibidem.

26Brett Sheehan, “An Awkward, but Potent, Fit Photographs and Political Narratives of the Tianjin Incidents During the Sino-Japanese Conflict, November 1931,” European Journal of East Asian Studies, Volume 7, Nomor 2 (2008).

27“Mukden Incident,” Wikipedia the Free Encyclopedia.

28“Manchukuo,” Wikipedia the Free Encyclopedia , https://en.wikipedia.org/wiki/Manchukuo. Diakses 24 Sepetember 2015

29Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 54-55.

30“Secon Sino-Japanese War,” Wikipedia the Free Encyclopedia , https://en.wikipedia.org/wiki/Second_Sino-Japanese_War. Diakses 20 Sepetember 2015

31Stephen Mackinnon, “The Tragedy of Wuhan, 1938,” Modern Asian Studies, Volume 30, Nomor 4, Special Issue: War in Modern China (Oktober, 1996)

32Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 56.

33Ibidem.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s