Berdirinya Republik Rakyat Tiongkok

Saat ini kita mengenal negeri Tiongkok (China) dengan nama resmi Republik Rakyat Tiongkok (People’s Republic of China). Namun negeri Tiongkok ini tidak hanya diklaim oleh RRT, kalangan nasionalis yang berada di Taiwan juga mengklaim keseluruhan negeri Tiongkok daratan sebagai wilayah negara Republik Tiongkok (Republic of China). Kedua negara ini mewakili dua partai berbeda yang meperebutkan klaim atas satu Tiongkok, partai nasionalis Tiongkok (Kuomintang) dan Partai Komunis Tiongkok.

Japs gone, now what m8?

Japs gone, now what m8?

Sejak awal Partai Komunis Tiongkok harus terus-menerus menghadapi tekanan dari Kuomintang yang dipimpin Chiang Kai Sek. Pada tahun 1927 saat sedang melancarkan kampanye menyerang para panglima perang di utara tiba-tiba Chiang Kai Sek juga menyerang kader-kader komunis yang saat itu menjadi sekutunya.1

Pada saat ini Jepang melakukan berbagai agresi terhadap Tiongkok. Jepang melakukan pencaplokan Manchuria pada 1931 namun hal ini tidak menyebabkan Chiang Kai Sek bergeming. Para Jendralnya tidak sedang di Manchuria dan ia lebih memilih berkonsentrasi untuk menghancurkan komunis.2

Para kader komunis yang sebelumnya menyusup di Kuomintang lari dan mengkonsolidasikan kekuatan PKT di Jianxi, hingga membentuk Republik Soviet Jianxi pada 1931. Namun serangan Kuomintang yang dipimpin Chiang Kai Sek membuat para gerilyawan komunis yang dipimpin Mao Ze Dong melakukan Long March jauh ke pedalaman di daerah Timur Laut Tiongkok pada 1934.3

Terlepasnya PKC membuat Chiang Kai Sek memaksa Zhang Xue Liang, salah satu panglima terkuatnya dari Manchuria untuk melakukan kampanye pengejaran dan penghancuran komunis. Namun Jendral ini tidak sepakat dengan keputusan Chiang Kai Sek. Ia justru menahan Chiang Kai Sek dan memaksa Chiang kai Sek untuk menerima kaum komunis dalam front bersatu melawan Jepang. Insiden ini dikenal dengan sebutan insiden Xi’an (Xi’an Incident).4

Chiang Kai Sek lebih memilih membangun kekuatannya untuk menghabisi kaum komunis dan para panglima perang baru kemudian melawan Jepang.5 Namun sentimen Jepang kian memuncak. Insiden tembak-menembak antara pasukan Jepang dan Republik menyebabkan terjadinya perang terbuka antara Tiongkok dan Jepang pada 1937.6

Koalisi Mustahil Kuomintang dan PKT

Bagi Chiang Kai Sek, kaum komunis bukan sekedar kekuatan bersenjata seperti para panglima perang. Ketika Chiang Kai Sek melakukan kampanye unifikasi pada 1927 kaum komunis melakukan pemberontakan yang dikenal dengan sebutan Nanchan Uprising. Dengan tentara yang nantunya akan menjadi Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army) mereka berhasil merebut beberapa daerah di selatan.7 Aksi ini membuat takut anggota Kuomintang yang memiliki lahan dan konservatif, kalangan yang menjadi basis penukung Chiang Kai Sek. Hal ini dijadikan alasan oleh Chiang Kai Sek untuk menyerang komunis dan membersihkan Kuomintang dari unsur kiri.8

Ribuan gerilyawan Tentara Merah melakukan Long March. Dari sepulh yang pergi, hanya satu yang selamat.

Ribuan gerilyawan Tentara Merah melakukan Long March. Dari sepuluh yang pergi, hanya satu yang selamat.

Berbagai serangan Chiang Kai Sek kepada kaum komunis tentunya membuat Mao Ze Dong sadar bahwa Kuomintang tidak akan pernah dapat menerima ideologi komunis. Namun ketika tawaran damai dengan menempatkan Tentara Merah dibawah Kuomintang ia menerimanya. Dengan adanya koalisi ini Mao dapat menghilangkan satu masalah baginya, meski hanya sementara. Antara Mao dan Chiang Kai Sek tentunya tidak membayangkan koalisi ini akan kekal dan efektif.9

Segera setelah dimulainya invasi terbuka Jepang dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua pada tahun 1937 pasukan Tentara Revolusioner Nasional mengalami kekalahan beruntun. Dukungan Internasional terhadap perjuangan Republik Tiongkok dalam melawan Jepang meningkat setelah 3 bulan perlawanan di Shanghai. Segera setelah Jepang mencaplok Shanghai mereka segera merebut ibukota Republik (Nanjing), memaksa Chiang kai Sek mengevakuasi pemerintahannya ke Chongqing.10

china_peasant

Petani pedesaan adalah sasaran utama agitasi komunis.

Sementara itu kaum komunis selalu menghindar dari perang terbuka dengan Jepang, memilih untuk melakukan gerilya dan sabotase terhadap Tentara Kekaisaran Jepang.11 Hal ini amat menguntungkan PKT yang dapat “menghilang dari pandangan” sementara Kuomintang yang mewakili negara Tiongkok secara resmi harus melawan Jepang secara frontal untuk mempertahankan wilayahnya.12

Wilayah yang ditinggalkan Kuomintang secara resmi diduduki oleh Jepang, namun pasukan Jepang tidak memiliki kekuatan untuk memerintah wilayah pedesaan. Rakyat yang menghadapi brutalitas tentara Jepang terpaksa beralih kepada gerilyawan komunis untuk meminta perlindungan.13

Secara resmi Kuomintang dan PKT berada dalam koalisi front bersama melawan Jepang. Namun pada kenyataannya sama sekali tidak terjadi kerja sama di antara keduanya. Bahkan pada akhir 1940 hingga awal 1941 terjadi berbagai konflik antara pasukan pemerintah dan gerilayawan komunis. Pasukan ke-4 diperintahkan pergi dari Anhui dan Jiangsu karena mengganggu pasukan Kuomintang. Namun saat sedang evakuasi mereka justru diserang Kuomintang.14

Insiden ini mengkhawatirkan Amerika dan Uni Soviet sehingga mereka memaksa Chiang Kai Sek dan Mao Ze Dong untuk melakukan gencatan senjata dan perdamaian di antara keduanya. Namun pada 1943 Kuomintang menyebarkan propaganda yang mempertanyakan status PKT di masa yang akan datang. PKT membalas dengan menyebut rezim Kuomintang sebagai fasis.15 Amat jelas bahwa meski tidak ada pertempuran diantara keduanya, baik PKT maupun Kuomintang sedang bersiap untuk saling menghabisi setelah Jepang pergi.

Mao membuat Doktrin bagi PKT yang mengutamakan penguasaan masyarakat pedesaan untuk kemudian memenangkan perkotaan.16 Perlahan-lahan PKT membangun basis di pedesaan tidak melalui perjuangan bersenjata tetapi mengirimkan kader-kadernya ke pedesaan (1941-1942), kampanye pengurangan sewa tanah (1942-1944), gerakan koperasi (1942-1944), dan gerakan pendidikan(1944). Kesabaran kaum komunis untuk membangun basisnya di pedesaan dan bersembunyi dari pasukan Jepang maupun Republik membuahkan hasil. Menjelang akhir perang dengan Jepang, keanggotaan partai komunis mencapai 1,2 juta orang dengan pasukan Tentara Merah berjumlah sekitar satu juta orang.17

Kekalahan Jepang, Perlombaan Menguasai Tiongkok

Setelah 1939 tidak banyak perubahan wilayah yang terjadi antara Republik Tiongkok dan Jepang. Kondisi jenuh ini semakin lama semakin buntu membuat sekutu lebih memilih menyerang langsung daripada membantu usaha perang Tiongkok.18 Sementara itu blokade Kuomintang atas wilayah yang dikuasai komunis dan blokade Jepang terhadapnya menyebabkan pemerintahan Chiang Kai Sek di pedalaman Chongqing terisolir dan menyebabkannya harus bergantung pada kelas tuan tanah.19 Dengan kata lain pada penghujung perang dunia kedua pada saat Jepang akan kalah Kuomintang justru pada posisi lemah.

Jepang menyatakan kalah perang setelah Amerika membom Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus 1945. Segera Kuomintang dan PKT berlomba-lomba mengamankan teritorialnya dari saingan ideologisnya. Diadakan perundingan antara Kuomintand dan PKT dengan difasilitasi oleh Amerika.20 Mao menggunakan kesempatan ini dengan harapan kesepakatan yang didapat akan mencegah pertempuran antara KMT dan Kuomintang dan menjamin keselamatan gerakan komunis.21

Jepang diperintahkan oleh Amerika untuk menyerahkan kekuasaan kepada pasukan Kuomintang pada 9 September 1945 pukul 09.00.22 Sementara itu di Manchuria wilayah pendudukan Jepang sudah direbut oleh Uni Soviet. Untuk mencegah Komunis mengambil alih wilayah-wilayah ini Kuomintang memerintahkan pasukan Jepang tetap berjaga sampai pasukan mereka datang, sementara Manchuria diamankan melalui Perjanjian Persahabatan Tiongkok-Soviet bahwa wilayah tersebut akan diberikan kepada Kuomintang.23

Masuknya Russia ke Manchuria menambah rumit perang saudara.

Masuknya Russia ke Manchuria menambah rumit perang saudara.

Namun Joseph Stalin cukup lihai untuk membuka kesempatan bagi pihak yang dapat menjadi sekutunya di masa depan. Mao Ze Dong menginginkan Manchuria sebagai basis komunis karena adanya industri yang dibangun Jepang. Russia dan PKT sepakat menyamarkan kehadiran Tentara Pembebasan Rakyat di kota-kota besar untuk mencegah perang dengan Kuomintang.24

Namun kemudian Uni Soviet melarang Kuomintang membawa pasukannya memasuki wilayah yang dikuasainya. Untuk itu Amerika mengangkut pasukan Kuomintang melalui udara ke kota-kota di Manchuria, padahal wilayah pedalamannya sudah dikuasai oleh pasukan komunis. Dalam menguasai wilayah-wilayah lainnya yang sebelumnya dikuasai Jepang pada akhirnya Kuomintang terpaksa menggunakan angkutan udara Amerika.25

Hal inilah yang menjadi kesalahan fatal Chiang Kai Sek. Dengan mengirimkan pasukannya jauh ke utara dan menyebarkannya ke kota-kota maka pasukan Kuomintang menjadi terpencar-pencar. Hal ini memudahkan pasukan komunis untuk memutus jalur suplai pasukan Kuomintang dan mengepungnya satu-persatu.26

Meskipun PKT sedang dalam keadaan prima namun PKT memilih menghindari pertempuran frontal dengan Kuomintang.27 Hal ini bukanlah karena Mao lebih memilih peperangan bergerak (mobil) namun karena dalam prinsip gerilya, Mao memilih menghindari pertempuran frontal kecuali supremasi atas lawan telah dapat dipastikan.28

Pada Maret 1947 Kuomintang berhasil merebut ibukota PKT di Yan’an, namun dengan segera PKT melakukan serangan balik dan pada 30 Juni merebut dataran tengah. Sementara itu kekuatan komunis di Tiongkok Timur dan Tiongkok Utara juga mulai melakukan serangan terhadap Kuomintang.29

Pasukan PKT tidak mendapatkan suplai persenjataan berat, tulang punggang Tentara Pembebasan Rakyat adalah infantri ringan. Di sisi lain pasukan Kuomintang mendapat bantuan artileri dan kendaraan lapis baja dari Amerika. Meski PKT mendapatkan persenjataan Jepang, namun mereka tidak memiliki personel untuk menggunakannya. Untuk itu PKT memberikan kesempatan pada tawanan perang dari Kuomintang untuk menjadi pasukan Tentara Pembebasan Rakyat dan mengoperasikan persenjataan berat untuk pasukan komunis.30

Pada November 1948 PKT melakukan ofensif kepada Kuomintang dalam Kampanye Pingjin. Dengan 890.000 pasukan mereka melawan 600.000 psukan Kuomintang. Pada April 1949 PKT telah menghabisi 1,54 juta pasukan Kuomintang, menyebabkan pemerintah nasionalis kehilangan tulang punggung tentaranya. Pada 23 April Nanjing jatuh, membuat Kuomintang lari ke Kanton sampai 15 Oktober, kemudian ke Chongqing sampai 25 November, lari lagi ke Chengdu hingga akhirnya 10 Desember dievakuasi ke Taiwan.31

Kuomintang mengkonsentrasikan kekuatannya di kota-kota, namun akhirnya gagal mempertahankannya.

Kuomintang mengkonsentrasikan kekuatannya di kota-kota, namun akhirnya gagal mempertahankannya.

Pendirian Republik Rakyat Tiongkok dan Kelanjutan Taiwan

Dengan direbutnya Nanjing dan Beiping (kemudian namanya dikembalikan menjadi Beijing) maka PKT sudah merebut kota-kota yang pernah menjadi ibukota. Maka Mao Ze Dong segera mengorganisasikan Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok. Pada 29 September diumumkan Program Bersama Rakyat yang pada pokoknya:

  1. Pendirian Republik Rakyat Tiongkok yang menempatkan rakyat sebagai tua dalam kediktatoran demokrasi rakyat, menggantikan struktur feodal, komprador, dan fasis Kuomintang;

  2. Majelis Permusyawaratan Rakyat Tiongkok terdiri atas perwakilan dari Partai Komunis Tiongkok yang mewakili segenap rakyat;

  3. Modal dan sumber daya akan dinasionalisasi dan menjadi milik rakyat;

  4. Persamaan hak pria dan wanita;

  5. Republik Rakyat Tiongkok akan bersatu dengan semua negara dan rakyat cinta perdamaian, terutama dengan Uni Soviet, dengan bersandar pada prinsip melindungi kemerdekaan dan anti-imperialis.

  6. Republic Rakyat Tiongkok akan melindungi ha-haklegal warga negara Tiongkok di luar neger, dan juga memberi suaka kepada mereka yang mengungsi ke Tiongkok demi perjuangannya.32

Pada 1 Oktober Mao Ze Dong memproklamasikan berdirinya RRT, segera negara-negara komunis yang berada di bawah pengaruh Soviet mengakui kedaulatan RRT.

Mao_proclaimSementara itu Chiang Kai Sek dan Kuomintang terdampar di Taiwan. Di sini ia memperkuat basis kekuasan Kuomintang dan mulai melaksanakan reformasi agraria. Bila umumnya reformasi agraria dilakukan dengan mengambil alih lahan dari pemilik lahan untuk diberikan ke petani, Chiang Kai Sek membatasi sewa tanah dan memberikan bantuan pinjaman untuk membeli tanah. Dengan ini Chiang Kai Sek menjamin tidak terjadi ketimpangan seperti di Tiongkok Daratan sebelumnya. Sementara itu Amerika dan negara-negara barat lainnya tetap mengakui Republik Tiongkok yang beribukota di Taipei sebagai pemerintah sah Tiongkok sampai sekitar tiga dasawarsa selanjutnya.33

_______________________________

1Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. (Saint Louis: Forum Press, 1978) halaman 49-50

2“Mukden Incident,” wikipedia the free encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Mukden_Incident. Diakses 23 Sepetember 2015.

3Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World., halaman 52-53.

4Ibidem.

5So Wai Chor, “The Making of the Guomindang’s Japan Policy, 1932-1937: The Roles of Chiang Kai-Shek and Wang Jingwei,” Modern China,Volume. 28, Nomor 2 (April, 2002)

6Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 54-55.

7“Chinese Civil War,” Wikipedia the free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Chinese_Civil_War diakses 20 September 2015

8Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 50.

9Ibidem. Halaman 54.

10Ibidem. Halaman 55-56.

11“Chinese Civil War,” Wikipedia the free Encyclopedia.

12“Second Sino-Japanese War,” Wikipedia the Free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Second_Sino-Japanese_War. Diakses 20 Sepetember 2015

13Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 56.

14“Chinese Civil War,” Wikipedia the free Encyclopedia.

15Ibidem

16Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 56.

17Ibidem. Halaman 58-59.

18“Chinese Civil War,” Wikipedia the free Encyclopedia.

19Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 58.

20“Chinese Civil War,” Wikipedia the free Encyclopedia.

21Victor Shiu Chiang Cheng, “Imagining China’s Madrid in Manchuria: The Communist Military Strategy at the Onset of the Chinese Civil War, 1945-1946,” Modern China, Volume 31, Nomor 1 (Jan., 2005) halaman 76.

22“Second Sino-Japanese War,” Wikipedia the Free Encyclopedia

23Victor Shiu Chiang Cheng, “Imagining China’s Madrid in Manchuria: The Communist Military Strategy at the Onset of the Chinese Civil War, 1945-1946,” halaman 77.

24Ibidem 78-79

25“Chinese Civil War,” Wikipedia the free Encyclopedia.

26Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 61.

27“Chinese Civil War,” Wikipedia the free Encyclopedia.

28Victor Shiu Chiang Cheng, “Imagining China’s Madrid in Manchuria: The Communist Military Strategy at the Onset of the Chinese Civil War, 1945-1946,” halaman 74.

29“Chinese Civil War,” Wikipedia the free Encyclopedia.

30Victor Shiu Chiang Cheng, “Modern War on an Ancient Battlefield: The Diffusion of American Military Technology and Ideas in the Chinese Civil War, 1946-1949,” Modern China, Volume 35, Nomor 1 (Januari, 2009). Halaman 50-51.

31“Chinese Civil War,” Wikipedia the free Encyclopedia.

32FX Sutopo, China Sejarah Singkat. (Garasi: Yogyakarta, 2009)

33Richard Yang & Edward J Lazzerini, The Chinese World. Halaman 63.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s