Kisah Nabi Yunus dan Relief Borobudur

Salah satu tulisan saya yang laris dikomentari adalah tulisan saya membahas yang menyanggah cocoklogi Borobudur, Sulaiman, dan Atlantis. Memang sayah ndak bahas langsung bukunya Fahmi Basya kerna buat sayah terlalu mahal dan ndak guna, tapi anda sudah bisa baca kekonyolan Fahmi Basya di sana. Tak saya kira setelah hampir dua tahun rupanya sayah masih menemui kawula gumunan yang terpesona dongeng itu.

ss

Mari kita kutip dulu postingan lengkapnyah:

NABI YUNUS, TANAH SURGA, DAN BOROBUDUR

Perjalanan Nabi Yunus menjadi salah satu kisah penuh hikmah dan harus menjadi teladan bagi manusia karena abadi tercantum dalam Alquran.
Dalam kisah itu, Nabi Yunus mendapat perintah mengajak penduduk NIWANA yang lebih memilih menyembah berhala.
Para ahli tafsir menyebut Yunus bin Mata berdakwah di kota Ninawa, wilayah di Mosul, Irak.
Awalnya penduduk wilayah itu menolak ajakan beriman kepada Allah dan justru mengolok dan menghina Nabi Yunus. Maka, turunlah wahyu yang menyatakan Allah akan menurunkan azab apabila penduduk wilayah itu tak beriman. Dan Nabi Yunus menyampaikan wahyu itu kepada penduduk kota itu. Namun tetap saja, mereka memilih menyembah berhala.
Nabi Yunus kemudian marah. Dia lantas pergi dari kota itu. Penduduk menyadari kesalahan mereka dan yakin azab akan segera turun. Oleh karena itu, mereka kemudian bertobat, memohon ampun kepadaTuhan. Sehingga azab pun batal diturunkan.
“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)
Nabi Yunus terus saja meninggalkan kota dalam keadaan marah. Padahal Allah belum mengizinkannya pergi. Dia menuju ke arah pantai dan kemudian menaiki kapal. Namun, sebuah badai datang. Ombak lautan menjadi sangat dahsyat, angin berhembus begitu kencang. Penumpang kapal kemudian membuang muatan untuk meringankan beban. Namun tetap saja. Kapal itu masih oleng dan hampir tenggelam. Sehingga para penumpang berunding untuk menentukan salah satu dari mereka untuk dibuang ke lautan.
Undian itu dilakukan. Ternyata jatuh pada Nabi Yunus. Namun penumpang lain tak mau Nabi Yunus yang harus dibuang ke laut. Sehingga undian dilakukan untuk kedua kali. Namun hasilnya sama. Dan sampai undian ke tiga, hasilnya juga sama. Sehingga kemudian Nabi Yunus memutuskan menceburkan diri ke lautan.
Saat itu, Allah mengirimkan ikan Nun (paus) untuk menelan Nabi Yunus bulat-bulat. Nabi Yunus pun tinggal di perut ikan itu dalam beberapa waktu dan dibawa mengarungi lautan ke suatu tempat.
Di dalam perut ikan, Nabi Yunus terus berzikir dan memohon ampun kepada Allah. Semua kisah itu terekam dalam ayat-ayat Alquran. Yaitu Surat Al-Anbiyaa Ayat 87-88.
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88)
Doa Nabi Yunus dalam ayat itu hingga kini diamalkan banyak orang. “Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin.”
Kisah Nabi Yunus itu juga terekam dalam Surat Ash- Shaaffaat Ayat 139-148. “Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian Maka ia ditelan oleh ikan yang besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.
Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu.” (QS.Ash- Shaaffaat:139-148)
Kisah Nabi Yunus ini memang penuh hikmah, namun benarkah kota NIWANA yang dimaksud itu ada di Irak?
Lalu kemana Nabi Yunus pergi yg dalam ayat itu disebut “Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus.”? yang penduduknya jauh lebih sedikit dari kota sebelumnya “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih (masih bisa dihitung berarti sedikit).”
.
Daerah Mosul Irak mungkin lebih masuk akal disebut sebagai “daerah yang tandus” yg penduduknya lebih sedikit dari kota NIWANA.
.
Lalu dimana kota NIWANA tempat Nabi Yunus berdakwah itu?
Negeri yg penduduknya sudah bertaubat sehingga BATAL diadzab itu?
.
Mingkin kita perlu bertanya pada relief relief di Borobudur. Sebuah candi yang berdiri di tanah “penggalan Surga di Dunia”, Eden in the East, Firdaus, atau NIRWANA.
.
#maiyahblambangan

Langsung saja, ada dua hal akan sayah bahas, pertama benarkah para pemahat relief bermaksud bercerita kisah nabi Yunus? Kedua mengapa si penulis bingung antara Ninawa, Niwana, dan Nirwana? (perhatikan bold yang saya tambahkan di kutipan di atas)

Saya bahas yang ke dua dulu. Di kutipan di atas amat terlihat bahwa penulisnya tidak konsisten menyebut tempat nabi Yunus pernah berada. Tempat ini dikenal dengan sebutan Nineveh dalam bahasa Inggris, untuk tahu sebutan lain tempat ini mari tengok wikipedia:

The English placename Nineveh comes from LatinNinive and SeptuagintGreekNineyḗ (Νινευή) under influence of the BiblicalHebrewNīnewēh (נִינְוֶה),[2] itself from the AkkadianNinua (var.Ninâ)[3] or Old BabylonianNinuwā.[2] The original meaning of the name is unclear, but may have referred to a patron goddess. The cuneiform for Ninâ is a fish within a house (cf. Aramaicnuna, “fish”). This may have simply intended “Place of Fish” or may have indicated a goddess associated with fish or the river itself, possibly originally of Hurrian origin.[3] The city was later said to be devoted to “the Ishtar of Nineveh” and Nina was one of the Babylonian names of that goddess.[3]

The city was also known as Ninii[4] or Ni[5] in Ancient Egyptian; Ninuwa in Mari;[3]Ninawa in Aramaic;[3]ܢܸܢܘܵܐ[clarification needed] in Syriac;[citation needed] and Nainavā (نینوا) in Persian.

Jelaslah ndak ada sebutan Niwana. Dari mana penulis menemukan istilah? Apakah penulisnya sengaja membuat kita bingung antara NInawa dengan NIwana untuk mengubung-hubungkan dengan Nirwana?

SEkarang kita beralih ke masalah utama.

reliefTak perlu lama-lama, saya langsung membuka buku koleksi saya. Seno Panyadewa menerangkan bahwa relief ini adalah bagian dari rangkaian relief yang bercerita tentang kehidupan Buddha sebelum lahir sebagai Siddarta Gautama. Relief ini menceritakan tentang pedagang-pedagang yang berada di sebuah kapal yang nyaris tenggelam sementara ikan ganas sudah menunggu di lautan. Mereka kemudian ditolong oleh kura-kura raksasa yang merupakan kehidupan Buddha sebelum lahir sebagai Siddarta Gautama. Silahkan tengok blog ini untuk melihat rangkaian relief terkait.

Begitulah kebiasaan cocoklogiers. Mengambil satu fakta, memisahkannya dari konteks dan kemudian menyajikannya sekehendak hati.

Kini adakah anda masih ingin mencocokkan cerita Al-Qur’an dengan Borobudur?

_______________

Bacaan lanjutan:

Seno Panyadewa. Misteri Borobudur.

Sally Melick. Pali Apadana Collection

Advertisements

One thought on “Kisah Nabi Yunus dan Relief Borobudur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s