Menuju Tiongkok Modern

Proklamasi 1 Oktober 1949 menjadikan Tiongkok sebuah Republik baru yang bebas menentukan masa depannya. Keinginan untuk memperbaiki kehidupan dan melakukan modernisasi tidak lagi terhambat oleh imperialis asing ataupun pertentangan ideologis dan perang saudara antara Kuomintang dan Gongchangdang/PKT.

Sebagai kaum revolusioner, selama perjuangannya untuk mencapai kekuasaan, PKT dan Mao Zedong tidak memberikan gambaran jelas mengenai kebijakan yang akan diambilnya. Segera setelah berada di puncak, mereka lebih memperhatikan kebutuhan mendesak untuk mengintegrasikan otoritas politik pusat dan pembangunan kembali ekonomi.[1]

[лªÊӵ㡤ͼÎÄ»¥¶¯]£¨1£©¡°ÉñÆæÌì·¡±µÄµÚÒ»¸ö´ºÏÄÇﶬ Tentu saja tiap bangsa menginginkan modernisasi. Namun seperti apa langkah yang harus dilakukan untuk mencapainya? Kini Tiongkok telah mencapai hasil pembangunan yang luar biasa. Apa saja yang telah dilakukan Tiongkok untuk mencapai modernisasi ini?

Awal Pemerintahan Mao Zedong

Mao menyadari bahwa Tiongkok sedang berada dalam kelelahan setelah beberapa dasawarsa mengalami peperangan. Ia berulang kali menyatakan bahwa Tiongkok belum siap untuk menjalani suatu “revolusi kedua.[2] Dalam suatu tahap pemulihan ini Mao memilih mengutamakan menyelesaikan reforma agraria yang sudah dilakukan sejak masa perang saudara. Kampanye reforma agraria (1950-1952) dilakukan untuk mentransfer tanah dari para tuan tanah kepada para petani (basis massa PKT) dan menyingkirkan mereka yang dianggap menentangnya. Setidaknya 2 juta orang dihukum mati dalam kampanye ini.[3]

Kampanye-kampanye lain juga dilakukan untuk membentuk masyarakat yang diinginkan agar sesuai dengan komunisme. Implementasi hukum pernikahan (1950) untuk emansipasi wanita, reformasi pemikiran (1950 dan sesudahnya) untuk menyerang ide tradisional dan borjuis, pembersihan bandit (1951) untuk membersihkan sisa perlawanan Nasionalis, Kampanye Tiga-Anti (1951-1952) untuk meningkatkan kedisiplinan perilaku kader, dan Kampanye 5-Anti (1951-1952) diarahkan kepada wirausahawan menengah atas perilaku suap, mangkir pajak, pencurian aset negara, kecurangan kontrak, dan pencurian rahasia ekonomi negara.[4]

Pada masa ini tampak bahwa perhatian lebih banyak diarahkan pada penerapan ideologi komunis pada masyarakat daripada pembangunan. Pada akhir 1952 diumumkanlah Rencana Lima Tahun yang akan dilaksanakan pada 1953. Dalam rencana ini Tiongkok tampak mengikuti jejak Russia (Uni Soviet).[5] Rencana ini diajukan oleh Liu Shaoqi, Deng Xiaoping, dan kawan-kawan. Mereka menitik beratkan perhatian pada sektor industri, tanpa melupakan pertanian. Skema pembangunan ini amat membutuhkan tenaga-tenaga profesional dan amat diwarnai oleh kebijakan-kebijakan pragmatis.[6]

Meski dalam Rencana Lima Tahun ini industri mendapatkan perhatian lebih, bidang pertanian juga memberikan hasil. Musim panas 1955 memberikan hasil panen terbesar sejak 1949 dan seluruh lahan pertanian telah terkonsolidasikan dalam collective (suatu koperasi pertanian). Keberhasilan dalam bidang Industri juga lebih memukau.[7]

Namun kalangan kiri garis keras tidak puas dengan hal ini. Mao meluncurkan kampanye ratusan bunga pada mei-juni 1957, memberi kesempatan bagi semua orang untuk mengemukakan pendapatnya. Segera muncul pendapat-pendapat yang menentang kemajuan hasil program lima tahun ini. Namun juga muncul suara penentang partai dan komunisme. Menggunakan dalih mengembalikan ketertiban dan membersihkan pengaruh kanan, Mao mendapatkan kembali pengaruh di partai.[8]

Dalam "Lompatan Jauh ke Depan" rakyat pedesaan diwajibkan memproduksi besi di tanur-tanur buatan rumah.

Dalam “Lompatan Jauh ke Depan” rakyat pedesaan diwajibkan memproduksi besi di tanur-tanur buatan rumah.

Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan

Mao mengeluhkan munculnya teknokrat yang menjadi suatu kelas baru dalam masyarakat teknostruktur di Uni Soviet. Ia kahwatir ini akan membawa revisionisme ideologi. Ia lebih memilih idealisme gerilywan yang serba bisa daripada kalangan profesional yang terpaku pada satu profesi saja. Untuk mencapai kemajuan tanpa mengalami ekses yang terjadi di Uni Soviet ia mengemukakan rencana Lompatan Jauh ke Depan (Great Leap Forward) untuk mengejar a)produksi besi Amerika; b) produksi industri berat Inggris; dan c) menyusul Uni Soviet.[9]

Namun pelaksanaan gerakan ini justru menimbulkan bencana. Produksi pangan 1958 dirncanakan meningkat dua kali dari tahun sebelumnya, hasil dari pembangunan dalam rencana lima tahun dan pengerahan tenaga untuk pertanian.[10] Namun tahun selanjutnya hasil setara tidak dapat dicapai dan malah terjadi kelaparan.

Wei Li dan Dennis Tao Yang mengungkapkan bahwa penyebab terjadinya kegagalan panen adalah karena ketidaksabaran perencana pusat untuk segera mengalokasikan sumber daya manusia dan pangan ke sektor industri dan kesalahan manajemen komune. Dua hal ini menyebabkan produksi pertanian menurun drastis dan perencana pusat tidak melakukan apa-apa untuk mengatasinya.[11]

Kegagalan Lompatan Jauh ke Depan memaksa Mao untuk mengundurkan diri dari jabatan ketua Partai. Kebijakan ekonomi beralih pada Zhou Enlai dan Deng Xiaoping yang membalikkan kebijakan yang dibuat Mao.[12] Terjadi perbaikan ekonomi dan kesejahteraan, namun sekali lagi Mao melihat bahwa ini akan menyebabkan hegemoni partai dan kemunculan kalangan borjuasi yang berpura-pura mendukung revolusi untuk kepentingannya.[13] Maka Mao melancarkan apa yang disebut sebagai revolusi kebudayaan.

Garda Merah menyerang meraka yang dianggap musuh revolusi.

Garda Merah menyerang meraka yang dianggap musuh revolusi.

Dalam Revolusi Kebudayaan Mao melancarkan serangan kepada kalangan intelektual yang ia anggap tidak sejalan dengan cita-cita revolusi. Rakyat dan masssa ia undang untuk menyerbu kantor pusat partai Liu Shaoqi, Deng Xiaoping, dan Peng Chen disingkirkan olehnya. Sementara itu di para Maois fanatis yang disebut Garda Merah (Red Guards) menyerbu berbagai kantor partai dan pemerintah. Revolusi kebudayaan ini berjalan sejak 1966 hingga kematian Mao pada 1976, dijalankan oleh Jiang Qiang (istri Mao) bersama rekannya yang disebut “Geng Empat” (Gang of Four).[14]

Kematian Mao dan Naiknya Deng Xiaoping

Dengan kematian Mao (beberapa bulan setelah kematian Zhou Enlai) maka terjadi kekosongan figur di Partai. Mao telah menetapkan Hua Gaofeng sebagai penggantinya, namun ia adalah pribadi yang tidak kharismatis. Pilihannya untuk meneruskan kebijakan Mao yang tidak populer menyebabkan ia harus turun dari jabatannya sebagai Sekjen PKT.[15] Deng segera membersihkan pengaruh-pengaruh Revolusi Kebudayaan dari Tiongkok. Untuk menghindari agar PKT dan penyelenggara negara tidak terkena imbas dari ketidakpopuleran Revolusi Kebudayaan, ia menimpakan kesalahan pada Geng Empat yang telah Revolusi Kebudayaan.[16]

Deng Xiaoping memperoleh kekuasaan setelah menyingkirkan Hua Guofeng.

Deng Xiaoping memperoleh kekuasaan setelah menyingkirkan Hua Guofeng.

Setelah mengkonsolidasikan kekuasaan pada dirinya ia menetapkan jalan baru bagi Tiongkok yaitu modernisasi ekonomi. Ia menerapkan pintu terbuka, (kaifang) untuk menarik modal dan keahlian asing. Di sinilah ia menerapkan one country two system (satu negara, dua sistem), merujuk pada diterapkannya sosialisme dan kapitalisme secara berbarengan.[17]

Pada sidang Komite Sentral PKT Desember 1978 ia mengemukakan rencananya melakukan pengembangan pada bidang pertanian dan industri yang mendukungnya sebagai langkah awal melakukan modernisasi. Hal ini secara resmi diterima dan dijadikan sebagai kebijakan partai, bersamaan dengan dihentikannya Revolusi Kebudayaan.[18]

Dalam melakukan modernisasi Deng mengarahkan perhatian pada Empat Modernisasi, yaitu adalah empat bidang yang harus dimodernisasi oleh Tiongkok yaitu, pertanian, industri, angkatan bersenjata, dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keempat poin ini dibuat Zhou Enlai sejak 1965, merencanakan pembangunan dalam dua tahap hingga menuju Tiongkok modern yang mandiri. Penggunaan empat modernisasi oleh Deng Xiaoping menunjukkan hasrat Deng akan pertumbuhan ekonomi Tiongkok.[19]

Sukisman, sebagaimana dikutip oleh Leo Agung, menyebutkan bahwa dalam menjalankan modernisasi ini Deng Xiaoping menekankan pedoman:

  1. Menganut jalan sosialis dengan PKT sebagai pemimpinnya;
  2. Menguasai ketrampilan profesional, seorang kader PKT selain menjadi “merah” juga harus memiliki keahlian;
  3. Pemberlakuan prinsip “merah” dan ahli.[20]

Di sini tampak bahwa dalam melakukan modernisasi Deng tidak meninggalkan ajaran komunisme tetapi ia melakukan kompromi kepada prinsip-prinsip komunisme dan urgensi atas profesionalitas.

Setelah sidang PKT 1978 ini Deng tidaklah memegang jabatan puncak di PKT maupun pemerintahan, namun ia adalah paramount leader (pemimpin tertinggi) yang secara de facto memegang kekuasaan. Semua keputusan ekonomi haruslah melewati pertimbangannya, namun ia memberikan kesempatan pada para pejabat untuk memberikan keputusan mendetil.[21]

Photograph by James C. Schneider summer,  1997, Jiayuguan area, Gansu province

Kemajuan Memanggil! Photograph by James C. Schneider summer, 1997, Jiayuguan area, Gansu province

Deng tidak banyak melakukan intervensi terhadap kebijakan para pejabatnya. Namun bla Deng terlibat langsung kebijakannya membuat perubahan besar. Pada 1978 ia membawa Chen Yun dan Li Xiannian untuk melakukan reformasi dan penyesuaian ekonomi. Pada Oktober 1984 ia menyegerakan perbaikan kebijakan urban yang mandek, dan pada 1987-88 ia banyak memberi komentar untuk mempercepat proses ini. Pada Desember 1990 ia banyak melakukan komunikasi kembali untuk menguatkan kebijakan ekonomi. Yang paling fenomenal adalah kunjungannya ke Zona Ekonomi Khusus Shenzen pada 1992 untuk meninjau dan mempromosikan perbaikan ekonomi.[22]

Dalam produksi, Tiongkok meninggalkan moda komunisme berupa komune dan brigade produksi. Mekanisme baru yang dilakukan adalah tiap keluarga membuat perjanjian dengan pemerintah lokal untuk mengerjakan tanah, tiap keluarga harus mencukupi kuota produksi. Kelebihan kuota produksi ini dapat dinikmati oleh masing-masing keluarga. Komite Sentral juga membuka izin atas pasar bebas dan menghapus monopoli negara.[23] Dengan adanya kebebasan atas surplus produksi ini maka pasar bebas dapat menggantikan pasar gelap.

Salah satu bagian dari modernisasi ini adalah bagaimana pembagian tanggung jawab dilakukan di unit-unit ekonomi (baik industri maupun pertanian). Deng amat memperhatikan bagaimana personel pabrik dapat berfungsi. Sema dimana manajer bertanggung jawab kepada fungsionaris partai digantikan dengan sistem direksi dan dewan direksi. Sebagaimana telah disebutkan sebelumya, kepada para petani ia menyerahkan tanggung jawab langsung dan menyebut hal inilah yang mendorong keberhasilan modernisasi pedesaan.[24]

Dalam bidang industri modernisasi dilakukan dengan melarang instansi pemerintah untuk melakukan pengelolaan dan pengoperasian unit usaha. Kepada usaha kecil dan menengah diberikan insentif untuk melakukan produksi. Di bidang pengetahuan terjadi perluasan kurikulum. Materi pengajaran di sekolah tidak lagi berkutat pada penghafalan pesan-pesan Mao. Sementara itu di bidang pertahanan dilakukan pengurangan personel Tentara Pembebasan Rakyat dan dilakukan fokus untuk memodernisasinya.[25]

Melalui keterbukaan (kaifang) Tiongkok berhasil memperoleh industri modern.

Melalui keterbukaan (kaifang) Tiongkok berhasil memperoleh industri modern.

Hasil dan Dampak Kemajuan Tiogkok

Modernisasi yang dilakukan oleh Deng amat berhasil, dalam bidang ekonomi Tiongkok mengalami pertumbuhan rata-rata 9% tiap tahunnya sehingga terjadi peningkatan kesejahteraan rakyat Tiongkok.[26] Namun Deng Xiaoping menghendaki modernisasi ekonomi tanpa adanya liberalisasi politik,[27] hal ini tercermin ketika demonstrasi yang memprotes korupsi dan klik politik merebak pada 1989 dijawab dengan represi.

Namun selain hasil di bidang ekonomi kemajuan ini membawa dampak sebagai berikut:

  1. Ketimpangan yang muncul karena modernisasi tidak merata;
  2. Inflasi yang tinggi;
  3. Kemunculan konsumerisme, dan ekses sosial lain;
  4. Terjadinya penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, kolusi, dan nepotisme terjadi di berbagai tingkat masyarakat;
  5. Terjadinya mismanagement sumber daya negara oleh pejabat negara.[28]

Tentu saja untuk memperbaik hal-hal diatas diperlukan kebabasan untuk melakukan kritik agar akuntabilitas pejabat dapat dijaga dan ekses-ekses sosial pembangunan dapat dicegah, namun hal ini tidak diperhatikan oleh Deng.

Ketidakmerataan pembangunan menyebabkan terjadinya arus migrasi penduduk pedesaan untuk menjadi buruh migran. Kehadiran mereka diperkotaan menambah beban perkotaan, namun pemerintah lebih sering menyalahkan mereka atas timbulnya masalah urban (transportasi, kekurangan fasilitas, dan kriminalitas) maupun masalah pekerjaan (pemogokan).[29]

Para pekerja migran melakukan mudik menjelang tahun baru Tionghoa.

Para pekerja migran melakukan mudik menjelang tahun baru Tionghoa.

Kesimpulan

Tiongkok sudah berusaha melakukan modernisasi sejak masa Mao Zedong. Rencana lima tahun berhasil memperbaiki kehidupan dan memulai modernisasi, namun kesalahan program Lompatan Jauh ke Depan menyebabkan Tiongkok mundur lagi. Kepemimpinan Mao gagal melakukan modernisasi Tiongkok dan lebih tertarik melakukan revolusi politik. Pemerintahan Deng Xiaoping ditandai dengan banyak perubahan. Untuk melakukan modernisasi Deng memperbuat basis ekonomi Tiongkok dengan membuka diri (kaifeng). Bidang yang dimodernisasi ini ada 4 yaitu pertanian, industri, pertahanan, dan sains dan teknologi.

______________

Catatan Akhir

[1]Edward J Lazzerini dan Richard Yang, The Chinese World. (Saint Louis: Forum Press, 1978) halaman 67-68.

[2]Edward J Lazzerini dan Richard Yang, The Chinese World. Halaman 68.

[3]Leo Agung S, Sejarah Asia Timur 2. (Yogyakarta: Ombak, 2012). Halaman 38-39.

[4]Edward J Lazzerini dan Richard Yang, The Chinese World. Halaman 69.

[5]Ibidem

[6]Leo Agus S. Sejarah Asia Timur 2. Halaman 43-44.

[7]Edward J Lazzerini dan Richard Yang, The Chinese World. Halaman 70.

[8]Ibidem. Halaman 71

[9]Leo Agus S. Sejarah Asia Timur 2. Halaman 43-44.

[10]Theodore Shabad, “China’s ‘Great Leap Forward,’” Far Eastern Survey, Volume 28, Nomor 7 (Juli, 1959), halaman 105-107

[11]Wei Li dan Dennis Tao, “The Great Leap Forward: Anatomy of a Central Planning Disaster,” Journal of Political Economy, Volume 113, Nomor 4 (Agustus 2005). Halaman840-877.

[12]“Cultural Revolution,” Wikipedia the Free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Cultural_Revolution. Diakses 8 Oktober 2015.

[13]Xing LI, “The Chinese Cultural Revolution Revisited,” China Review, Vol. 1, No. 1 (Musim Gugur 2001) 145-148

[14]Harry Harding, “Reappraising the Cultural Revolution,” The Wilson Quarterly, Volume 4, Nomor 4 (Musim Gugur, 1980) Halaman 132-137.

[15]“Deng Xiaoping,” Wikipedia the Free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Deng_Xiaoping. Diakses 7 Oktober 2015.

[16]Lucian W Pye, “An Introductory Profile: Deng Xiaoping and China’s Political Culture,” The China Quarterly, Nomor 135, Special Issue: Deng Xiaoping: An Assessment (September, 1993) halaman 442.

[17]Leo Agung S, Sejarah Asia Timur 2. Halaman 60.

[18]Ibidem. Halaman 70-71.

[19]Barry Naughton, “Deng Xiaopeng: The Economist,” The China Quarterly, No. 135, Special Issue: Deng Xiaoping: An Assessment (Sep., 1993), halaman 499.

[20]Leo Agung S, Sejarah Asia Timur 2, halaman 72.

[21]Barry Naughton, The China Quarterly (September, 1993), halaman 500.

[22]Ibidem.

[23]Leo Agung S, Sejarah Asia Timur, halaman 73-74.

[24]Barry Naughton, The China Quarterly (September, 1993) halaman 503.

[25]Leo Agung S, Sejarah Asia Timur 2, halaman 74-75.

[26]Ibidem, halaman 77.

[27]Lucian W Pye, The China Quarterly (September, 1993), halaman 443.

[28]Leo Agung S, Sejarah Asia Timur 2. Halaman 77.

[29]Ibidem, halaman 78.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s