Babibu Bela Negara

Pemerintahan Jokowi memang hebat dan diisi oleh orang-orang hebat. Bahkan menteri pertahanan yang dari dulu doyan mengeluarkan pernyataan keras membuat program baru: dari TK sampai kantoran wajib namanya bela negara.

DSCI0204Saya nyruput air putih dulu.

Sekitar dua tahun lalu keluar konsep komponen cadangan (yang katanya bukan wajib militer) dari kementrian pertahanan. Berbeda dengan negara lain, komponen cadangan ini tidak berstatus sebagai anggota angkatan bersenjata namun di bawah komando angkatan bersenjata, membuat saya curiga bahwa ini sekedar alasan bagi bapak-bapak berseragam untuk tetap dapat  mengomandoi sipil.

Jumlah personel yang direncanakan juga sedikit, hanya 60 ribu orang untuk AD, 20 ribu untuk AL, dan 10 ribu untuk AU. Jelas bahwa di kondisi ekonomi yang meroket ini kemampuan negara membiayai pertahanan macam ini amat dipertanyakan, toh untuk TNI dan Polri saja masih dibiarkan foraging untuk membiayai tiap satuan-satuan di daerahnya. Ndak heran kalo Koramil menerima setoran dari petambang ilegal di Lumajang adalah hal jamak ditemui di daerah lainnya.

Nah, UU komponen cadangan ini ndak tembus-tembus di DPR. Entah ini bukti kalau skema komponen cadangan ini kurang matang, tidak dirasakan perlu oleh masyarakat, atau DPRnya yang kelewat sibuk.

2302fa45-e77c-49f9-88a8-50fee57d22ed_169Kini kementrian pertahanan malah membuka ide baru untuk membuat program Bela Negara, targetnya fantastis: 100 juta warga negara Indonesia! Entah dari mana dana untuk membiayainya. Seperti merapal mantra, para pengusungnya mengulang-ulang frasa “bukan wajib militer.” Berulang kali Ryamizard mengulang-ulang bahwasanya bela negara wajib, namun ajaibnya keprajuritan disebut bukan kemiliteran sehingga ini tidak disebut wajib militer.

Ah, mau ketawa kok susah melihat logika jungkir balik macam ini.

Yang ditawarkan dalam program inipun sesuatu yang secara normatif seharusnya sudah menjadi bagian pendidikan nasional menanamkan patriotisme, kecintaan pada tanah air, kedisiplinan, solidaritas, dan kebersamaan.Apakah bapak mentri pertahanan yang terhormat sudah memberikan pengukuran bahwasanya hal-hal ini amat dikurang dimiliki warga negara kita? Bila kurang tidakkah dapat dikembalikan kepada Kementrian Pendidikan untuk memperbaiki ini?

Atau jangan-jangan seperti biasa, program ini hanya akan jadi latihan baris-berbaris dan main tentara-tentaraan saja. Sebab sudah jamak diketahui, ini adalah solusi paling baik atas semua masalah bangsa.

coba mereka diajar baris-berbaris.

masalah bangsa.

Coba lihat warga yang tawuran di atas. Andaikan kesadaran bahwa mereka adalah saudara sebangsa yang harusnya hidup rukun dan saling toleran ditanamkan pada mereka, tentu tawuran macam ini tidak akan terjadi. Maka tentu pendidikan keprajuritan akan dapat mencegah semua ini.

Ada yang bilang kalau usaha men-tentara-tentaraan-kan rakyat ini mengingatkan pada pengalaman Jepang ketika mengalami militerisasi, yang berakhir dengan dipecundanginya negara itu. Tapi mungkin ada bedanya. Bila Jepang mengarahkan agresi militernya ke arah luar dalam bentuk kolonialisme, kemana “bela negara” ini diarahkan?

Jangan-jangan ini hanyalah usaha untuk menyelubungi supremasi militer di Indonesia. TNI manunggal dengan rakyat, syaratnya TNI kassi perintah dan rakyat kassi duit.

Advertisements

One thought on “Babibu Bela Negara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s