Mitos-Mitos Sumpah Pemuda

Tanggal 28 Oktober dua tahun lalu saya menulis mengenai Sumpah Pemuda yang dulu merupakan inisiatif, eh tahun 2013 berubah jadi hal lain lagi. Dua tahun sesudahnya, saya membaca kian banyak artikel yang spiltting hair mencoba menemukan hal-hal yang salah di dalamnya. Nah, mari kita bahas dalam kerangka “dongeng.”

sumpah-pemuda2Pertama-tama mari kita lihat dulu isi “Poetoesan Congres Pemoeda Indonesia“:

Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Merasa ada yang janggal? Tahan dulu nafas anda kerana kita akan membahas beberapa hal yang mungkin mengusik anda.

1. Satu bahasa Indonesia

Nah, ini penting sekali untuk kita tekankan. Dalam putusan kongres pemuda 1928 tersebut bahasa Indonesia adalah disebut sebagai bahasa persatuan, bukan seperti dalam lagu wajib “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita…” Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai suatu pemersatu bagi bangsa kita yang memiliki bahasa ibu amat beragam.

Mbak Retno Iswandari mensinyalir bahwa dalam kesadaran kita justru jamak ditemui yang diingat justru kata-kata “…berbahasa satu, bahasa Indonesia.” Entah mengapa hal ini terjadi, adakah yang mendorong ini terjadi atau tidak. Namun ia mengutip Benedict Anderson yang mengatakan bahwa terjadi amnesia atas literatur dan alam pikir pra-Ejaan Yang Disempurnakan (1972).

Perlu kita sadari bahwa status Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan tentunya tidak berarti memangkas hak hidup ratusan bahasa lokal yang ada di Indonesia. Berbagai bahasa lokal adalah kekayaan bangsa ini yang ngakunya unity in diversity (bhineka tunggal ika).

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Borden_met_mededelingen_van_de_Dienst_voor_Legercontacten_(DLC)_in_het_Nederlands_en_het_Maleis_TMnr_10029532

Maleis = Bahasa Melayu

Omong-omong soal bahasa persatuan, banyak diantara kita tidak menginsyafi bahwa bahasa Indonesia adalah bentuk baku dari bahasa Melayu yang beraneka ragam. Rakyat negeri ini banyak yang lupa hubungan kerabat dengan jiran kita berbahasa sama, terutama penduduk Jawa yang sama sekali lupa bahwa bahasa yang mereka gunakan sekitar seratus tahun lalu masih disebut bahasa Melayu. Semua gara-gara seorang peserta kongres yang ndak mau mengakui nama “Melayu” itu (tentunya dia adalah orang Jawa).

2. Sumpah Pemuda mempersatukan kita

Ada artikel lumayan asyik yang mempersoalkan: “seberapa jauh anggota kongres mewakili daerah-daerah?” Rupa-rupanya para peserta kongres tersebut tidak lain adalah anak muda yang sedang belajar di Jakarta. Bahkan bila kita teliti lagi jarang diantara mereka yang kembali memajukan daerahnya. Terlalu nyaman mereka dengan Jawa. Kondisi ini mungkin seperti para mahasiswa jaman sekarang yang kerap melakukan demonstrasi mengatasnamakan rakyat, namun benarkah mereka mewakili seluruh rakyat Indonesia?

Artikel lebih nyelekit saya demui dari situs berita Internasional yang juga membuat artikel dalam bahasa Indonesia. Coba anda tanya pada diri sendiri “apa tempat Papua dalam kongres 1928?” Bila anda berpikir pada masa itu belum ada pelajar dari Papua maka anda tidak sendirian. Namun kini ada yang menyebutkan dua orang utusan yang berasal dari Papua.

Sumpah-Pemuda-3Tentu saja ini menggambarkan kekonyolan kita dalam membayangkan Indonesia. Kesadaran akan kesatuan Indonesia dibayangkan dimulai serentak pada Sumpah Pemuda, namun ada bagian yang belum dapat ikut serta dalam Sumpah Pemuda ini. Pertanyaannya adalah apakah Papua adalah Indonesia dengan atau tanpa keikutsertaan dalam Sumpah pemuda? Sudahkah kita berhasil mengintegrasikan Papua (tanpa moncong bedil) ke dalam Indonesia?

Jangan tanya pula mengenai legitimasi integrasi timor Leste dalam hal ini.

3. Sumpah Pemuda memang tidak ada (cuma mitos)

Nah pada akhirnya Sumpah Pemuda yang membentuk berbagai mitos itu adalah cuma mitos! Lha kok bisa? Coba teliti lagi judul dari keputusan Kongres tersebut apakah menggunakan kata sumpah? Adakah di dalamnya menggunakan kata sumpah? Tentu tidak! Putusan kongres 1928 ini diulang-ulang sebagai Sumpah Pemuda oleh Muhammad Yamin dan kemudian diterima oleh khalayak ramai.

Inilah hebatnya pengulangan, setelah 87 tahun sesudahnya hanya segelintir orang yang mengungkit-ungkit tentang hal ini. Maka Sumpah Pemuda tidak lain adalah suatu mitos yang ada di dalam benak rakyat Indonesia yang membayangkan masa lalu dan persatuannya. Ia adalah mitologi nasional kita, boleh saya katakan sebuah meme sejarah.

Is this another meme?

Is this another meme?

Itulah hebatnya Muhammad Yamin, ia adalah yang membentuk mitologi nasional bangsa ini. Mengenai Majapahit, Gadjah Mada, hingga Sumpah Pemuda adalah meme buatannya.

Nah, sekarang setelah kita bongkar apa-apa yang kita bayangkan mengenai Sumpah Pemuda adakah kita harus mencampakkannya? Tentu tidak! Sebagai insan sadar yang bermasyarakat dalam Indonesia tentulah kita harus merayakan dan menikmati alam mitologis kebangsaan ini!

____________________

Just to ruin your day, I’m posting this last picture.

281013_RHN-BISNIS-02-TOLAK-SUMPAH-PEMUDA1

Advertisements

2 thoughts on “Mitos-Mitos Sumpah Pemuda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s