Konflik Nelayan oleh Rilus A. Kinseng

Sempat tersiar kabar mengenai konflik nelayan antar-propinsi yang berujung dibakarnya kapal dari satu daerah. Hal ini kemudian menjadi bagian dari diskursus mengenai otonomi daerah. Namun benarkah ini yang terjadi? Rilus A Kinseng membahasnya dalam disertasi yang diterbitkan menjadi buku ini.

konflik_nelayanDominasi, bukan eksploitasi. Itu adalah isu yang menurut penulis menjadi isu utama di kalangan nelayan. Dominasi ini terjadi antara pemilik modal (pemilik kapal) terhadap anak buah kapal, juga terjadi antara pemilik modal yang lebih besar (teknologi lebih tinggi) dengan mereka yang menggunakan teknologi lebih sederhana. Memang Rilus dalam buku ini menggunakan analisis marxist untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat nelayan Balikpapan, namun dalam analisis ini Rilus berkesimpulan bahwa konflik dan penyederhanaan kelas (kapitalis vs proletar) tidaklah terjadi di masyarakat nelayan Balikpapan.

Mengenai konflik antar-nelayan di daerah Rilus menunjukkan bahwa konflik yang terjadi bukanlah konflik yang bersifat kedaerahan tetapi konflik antara nelayan “tradisional” dengan nelayan modern. Nelayan dari Jawa menggunakan teknologi purse seine, yang menggunakan lampu untuk menarik ikan-ikan. Hal ini ditentang oleh nelayan kecil karena menyebabkan semua ikan tertarik ke kapal-kapal purseseine.

Konflik antar-nelayan dalam penggunaan teknologi sebenarnya pernah terjadi antara sesama nelayan Balikpapan. Oleh karena itu framing bahwa ini adalah konflik kedaerahan tidaklah tepat. Penyebutan bahwa ini adalah konflik teknologi juga bisa berdampak kurang baik. Bila keinginan pemerintah pusat untuk melakukan transfer teknologi dilakukan hal ini justru akan meneguhkan dominasi pemilik modal besar (yang mampu melakukan alih teknologi) dan menghilangkan nelayan kecil.

Penulis menggambarkan kondisi sosial nelayan Balikpapan dengan cukup baik. Hubungan patron-klien antara punggawa (pengumpul ikan dan pemodal) dengan nelayannya atau antara pemilik kapal dan sawi (buruh nelayan) tidaklah menjadi hubungan yang menimbulkan konflik kelas karena menurut penulis para nelayan ini menganggap mereka yang satu perahu adalah satu tim. Meski kecil, kemungkinan bagi buruh nelayan menjadi pemilik kecil juga membuat mereka mengidentifikasi diri sebagai satu bagian masyarakat.

Buku karya Rilus A. Kinseng ini menjadi contoh bahwa analisis marxist mengenai kelas dapat berguna untuk menjelaskan kondisi sosial masyarakat. Namun pertentangan antar-kelas dan perjuangan kelas yang merupakan ranah ideologis tidak menjadi perhatian penulis. Dengan membaca buku ini kita dapat melihat alternatif dalam pengelolaan konflik antar-lapisan masyarakat dapat dilakukan tanpa harus membenturkan kepentingan kedua kelas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s