Burma di Bawah Kekuasaan Ne Win

            Burma atau Myanmar adalah negeri yang sempat dijajah Inggris dan disatukan dengan India dalam satu entitas politik yang dikenal dengan nama British Raj. Era kolonial Inggris ini membawa perubahan amat besar bagi masyarakat Myanmar, terutama perbedaan antar-etnis negeri multikultural ini menjadi semakin kentara.[1]

burma-encounter-hero            Sebelum dikuasai oleh Inggris wilayah ini pernah beberapa kali disatukan oleh kerajaan-kerajaan. Kerajaan pertama yang pernah muncul adalah kerajaan Pyu yang merupakan kerajaan terindianisasi tertua di Asia Tenggara. Adapula Kerajaan Mon yang saat ini sudah wilayah dan keturunannya terserap oleh Thailand.[2] Kerajaan penting yang muncul sesudahnya adalah kerajaan Pagan yang wilayahnya meluas sampai Burma bagian bawah. Ia bertahan hingga abad 13 Masehi sebelum hancur karena serangan Mongol.[3]

            Pada masa selanjutnya negeri ini mengalami perluasan sampai menaklukkan Siam (Thailand) pada era Bayinnaung (1580) namun wilayah luas ini tidak dapat dipertahankan. Pada abad 18 kekuatan Eropa mulai masuk wilayah Burma rentan dimasuki perampok yang berasal dari wilayah Inggris. Hal ini akhirnya memicu perang Inggris-Burma pada 1824-1826 yang menjadikan Burma sebagai bagian dari British Raj.[4]

            Kemunculan kelas sosial yang memiliki kesadaran kebangsaan pada abad selanjutnya dan Perang Dunia II akhirnya membuat Inggris melepaskan Burma. Kaum nasionalis yang memiliki militer yang mengingatkan Inggris pada pengalaman pertempuran Surabaya. Pada akhirnya Anti-Fascist People’s Freedom League yang dipimpin Aung San menjadi organisasi kemerdekaan paling populer.[5]

            Sebelum Burma menerima kemerdekaanya dari Inggris, Aung San dibunuh pada tanggal 19 Juli 1947 oleh pembunuh yang dipesan oleh U Saw. Tanpa ingin menunggu hilangnya momentum, Gubernur Rance meminta AFPFL membuat konstitusi. Setelah disahkannya UU kemerdekaan Burma oleh Inggris, secara resmi Burma memperoleh kemerdekaannnya pada 4 Januari 1948.

U Aung San adalah pahlawan kemerdekaan Burma

U Aung San adalah pahlawan kemerdekaan Burma

            Namun setelah kematian Aung San, Burma menghadapi ketidakpastian. Namun pluralitas etnis Burma menyebabkan kerentanan didalam AFPFL. Antara etnis mayoritas Bamar dengan etnis-etnis minoritas terdapat saling tidak percaya, apalagi militer AFPFL dibagi berdasarkan garis etnis ini. Maka sepuluh tahun setelah kemerdekaan Burma AFPFL dilanda perpecahan. Pendirian negara bagian Mon dan Arakan dicurigai sebagai awal separatisme.[6]

            Bagaimana Burma menghadapi perpecahan ini?

1958: Militer Mengambil Alih

            Setelah kemerdekaan Burma, terdapat banyak pemberontakan yang terjadi yaitu Komunis Bendera Mera, Komunis Bendera Putih, Pemberontak Ikat Putih, Mujahid Arakan, dan Persatuan Nasional Karen. Sementara itu di pegunungan utara terdapat pasukan Guomindang yang mengungsi dari kejaran komunis.[7] Berbagai kekuatan bersenjatan ini tentunya melemahkan kewibawaan pemerintah Rangoon. Pada awalnya pembangunan nasional dilakukan dengan menggunakan bantuan asing. Namun kehadiran pasukan Guomindang yang terus disokong oleh Amerika menyebakan Burma menolak antuan Amerika dan mendukung KAA di Bandung (1955).[8]

            Selama 10 tahun setelah kemerdekaannya Burma dipimpin oleh U Nu. Menghadapi berbagai tantangan pemberontakan dan oposisi ia cukup tangguh sampai pada Oktober 1958 AFPFL mengalami perpecahan. Pemerintahan U Nu menghadapi tantangan oposisi National United Front yang dicurigai militer disusupi oleh komunis. Akhirnya U Nu mengundang Jendral Ne Win untuk memulihkan kondisi keamanan. Setelah 18 bulan memimpin Burma secara efektif Ne Win mengembalikan kekuasaan pada pemerintahan sipil dan setelah diadakan pemilu U Nu kembali berkuasa.[9] Pengalaman pemerintahan sementara ini dalam memulihkan ketertiban adalah basis kepercayaan diri kalangan militer akan kemampuan mereka dalam mengurus bangsa.[10]

            Namun setelah U Nu kembali memerintah ia seperti kehilangan sentuhan dalam mempimpin. Ia memaksakan untuk menempatkan Buddha sebagai agama nasional dan membiarkan federalisme yang dilakukan mengarah pada separatisme. Akhirnya pada 2 Maret 1962 kalangan militer melakukan kudeta atas nama Jendral Ne Win. Hugh Tinker menyebut bahwa kemungkinan Jendral Ne Win sendiri bukanlah yang melakukan kudeta ini, namun popularitasnya menjadikan kudeta ini berjalan lancar.[11]

Jendral Ne Win kembali mengambil kekuasaan pada 1962.

Jendral Ne Win kembali mengambil kekuasaan pada 1962.

            Dalam pemerintahan Ne Win kebebasan mulai dikekang. Aktivitas-aktivitas yang sebelumnya dianggap privat seperti perjudian, kontes kecantikan, dan kompetisis seni dilarang.[12] Pada pemerintahan Ne Win di Burma terjadi pengekangan kebebasan berpendapat dan berkumpul. Partai yang merupakan saluran politik digantikan oleh partai tunggal, Burma Socialist Programme Party.[13]

            Salah satu represi yang dilakukan pemerintahan Ne Win adalah pada Juli 1962 terjadi kerusuhan dan demonstrasi mahasiswa besar menentang kudeta yang dilakukan Ne Win. Represi yang dilakukan menyebabkan terbunuhnya 100 mahasiswa. Bahkan gedung ikatan mahasiswa diledakkan oleh tentara.[14]

 

Ekonomi dalam Jalan Sosialisme Burma

            Ne Win mengemukakan konsep yang disebutnya “Jalan Sosialisme Burma.” Ne Win mengemukakan bahwa konsep ini adalah suatu sintesa dari Marxisme, Buddhisme, dan karakteristik nasional Burma. Dasar-dasar Jalan Sosialisme Burma sebagaimana dirumuskan pada 1963 adalah:[15]

  1. Dalam merencanakan dan menjalankan programnya, Dewan revolusioner akan menyelidiki dan mengapresiasi keadaan nyata dan kondisi alami Burma seobjektif mungkin.
  2. Dalam aktivitasnya Dewan Revolusioner akan mengusahakan perbaikan diri melalui kritik diri.
  3. Dalam situasi dan kesulitan apapun Dewan revolusi akan memperjuangkan kemajuan sesuai dengan waktu, kondisi, lingkungan, dan keadaan yang terus berubah.
  4. Dewan Revolusioner akan mencari jalan sebaik-baiknya agar daat merumuskan dan menjalankan program yang memberi kebaikan nyata bagi bangsa.

burmese-cigarettes            Kebijakan pertama yang dilakukan adalah nasionalisasi industri secara luas melalui Undang-Undang Nasionalisasi Perusahaan Nasional yang disahkan pada Februari 1963. Seluruh perbankan (10 nasional, 14 asing) segera diambil alih, kemudian industri kayu jati, tembakau, karet, dan berbagai pertambangan dan usaha pribadi dilarang beroperasi. Perusahaan tambang asing tidak dinasionalisasi, namun izin operasi mereka tidak dilanjutkan. Pada akhirnya perusahaan minyak nasional diambil alih dan Ne Win menyatakan bahwa Burma akan mengurusi masalah minyaknya secara mandiri. Adalah U Ba Myaing, mantan pengajar Universitas Rangoon, yang menjadi arsitek kebijakan Ne Win.[16]

            Bila kita mengenal sosialisme sebagai suatu hasil modernitas rasional, maka dalam kebijakan-kebijakan ekonomi Ne Win kita justru menemui ekonomi yang diikat oleh takhyul. Dalam kebijakannya Ne Win justru mengandalkan ramalan nujum dan numerologi.[17] Salahsatu contohya adalah pada 1987 ia memerintahkan bahwa uang kyat yang berlaku hanyalah yang dapat dibagi 9. Tidak ada penjelasan selain isu bahwa ini adalah nasehat ahli nujum dan 9 adalah angka keberuntungannya.[18]

            Namun jalan sosialis ini bukan tanpa keberhasilan. Nasionalisasi sistem kesehatan cukup berhasil, sistem rumah sakit umum kini telah cukup mapan. Begitupula bidang pendidikan, kampanye anti-buta huruf nasional dan sistem pendidikan umum telah dibuka sejak 1965. Reforma agraria dijalankan dengan mengesahkan undang-undang yang memberi perlindungan pada petani penggarap.[19] Namun semua keberhasilan ini terhambat oleh perkembangan ekonomi yang stagnan.

            Pada akhirnya jalan Sosialis yang dibawa Ne Win ini adalah jalan yang gagal membawa kesejahteraan pada bagi Burma. Bila pada awal kemerdekaannya Burma adalah negeri yang cukup sejahtera di Asia Tenggara dan Asia Selatan, pada 1987 ia menjadi negara paling terbelakangdi dunia, bersama dengan Nepal dan Chad.[20]

BurmaP64-45Kyats-(1987)_b

It’s nothing but a mere paper.

Para Pemberontak dan Minoritas

            Tatmadaw (angkatan bersenjata Burma) mengambil alih pemerintahan dari U Nu karena masalah separatisme yang kian pelik. Namun kepemimpinan Ne Win juga tidak berhasil membawa kedamaian bagi Burma. Pada awal pemerintahannya ia menawarkan amnesti massal bagi semua pemberontak yang menyerah dan menyerahkan senjata dalam tiga bulan. Namun negosiasi mentok dan Ne Win menuduh komunis menggunakan kesempatan ini untuk memperkuat posisi mereka.[21]

            Selain keberhasilan atas kesepakatan damai dengan Saw Hunter Tha Hmwe pada maret 1964, tidak ada perubahan berarti. Tiga tahun pertama pemerintahan Ne Win harus mengirimkan pasukan ke berbagai wilayah Karen sementara Tentara Kemerdekaan Kachin masih menguasai wilayah utara Burma.[22]

            Sementara itu etnis Rohingya menghadapi penolakan lebih parah. Sebagai etnis yang mengisi gerakan separatis Arakan mereka tidak mendapat jalan rekonsiliasi. Mereka kini tidak diakui sebagai warga negara Burma oleh karenanya menghadapi genosida dan pengusiran. Bahkan mereka diadu dengan etnis Rakhine yang bertetangga dengan mereka. Jamak ditemui rumah dan ladang yang ditinggalkan oleh Rohingnya diambil oleh warga Rakhine.[23]

Pengungsi Karen berjalan ke Thailand.

Pengungsi Karen berjalan ke Thailand.

Akhir Kekuasaan Ne Win

            Kebijakan-kebijakan nyeleneh Ne Win membawa penderitaan bagi rakyat biasa. Setelah menyatakan tidak berlakunya uang kecuali bernilai 45 dan 90 pada 1987 rakyat mendapati diri mereka kehilangan simpanannya. Dalam kondisi berat ini sebuah pertengkaran antara mahasiswa menjalar menjadi demonstras besar berdarah pada bulan maret 1988. Pada bulan Juni demonstrasi terulang lagi dan beberapa demonstran terbunuh.[24]

            Pada 23 Juli Ne Win menyatakan akan mengundurkan diri, namun setelah Jendral Sein Lwin yang terkenal kejam dipilih sebagai penggantinya demonstrasi kian memanas. Selama 17 hari memimpin Burma Sein Lwin bertindak sesuai reputasinya dengan membunuh lebih banyak demonstran.[25] Segeralah dewan Jendral yang menamakan dirinya sebagai SLORC () mengambil alih kekuasaan, memenjarakan para pemimpin demonstran dan melarang terbitnya suratkabar.[26] Kekuasaan berpindah, namun babak yang baru ini tidak membawa perubahan bagi pemerintahan rakyat Burma.

8888

___________________

[1]    “History of Myanmar,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Myanmar. Diakses 11 November 2015.

[2]    M.C. Ricklefs dkk, Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah sampai Kontemporer (Jakarta: Komunitas Bambu, 2013), halaman 38-40.

[3]    Ibidem, 68-72.

[4]    “History of Myanmar,” Wikipedia.

[5]    M.C. Ricklefs dkk, Sejarah Asia Tenggara, halaman 527-530.

[6]    Ibidem, halaman 599-602.

[7]    “History of Myanmar,” Wikipedia.

[8]    Ibidem

[9]    CP Cook, “Burma: the era of Ne Win,” The World Today, Volume 26, Nomor 6 (Juni, 1970), halaman 259-260

[10]  M.C. Ricklefs, Sejarah Asia Tenggara, halaman 602.

[11]  CP Cook, “Burma: the era of Ne Win,” halaman 260.

[12]  Ibidem.

[13]  Mya Maung, “The Burma Road from Union of Burma to Myanmar,” Asian Survey, Volume 30, Nomor 6 (Juni, 1990), halaman 604.

[14]  “Burmese 1962 Coup d’Etat,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/1962_Burmese_coup_d’Etat. Diakses 11 November 2015.

[15]  “Burmese Way to Socialism,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Burmese_Way_to_Socialism. Diakses 11 November 2015.

[16]  CP Cook, “Burma: the era of Ne Win,” halaman 260-261.

[17]  William McGowan, “Burmese Hell,” World Policy Journal, Vol. 10, No. 2 (Summer, 1993), halaman 49.

[18]  “The Ne Win Years: 1962-1988,” Oxford Burma Alliance. http://www.oxfordburmaalliance.org/1962-coup–ne-win-regime.html. Diakses 10 November 2015.

[19]  Ibidem.

[20]  William McGowan, “Burmese Hell,” halaman 49.

[21]  CP Cook, “Burma: the era of Ne Win,” halaman 262.

[22]  Ibidem.

[23]  William McGowan, “Burmese Hell,” halaman 51.

[24]  Mya Maung, “The Burma Road from Union of Burma to Myanmar,” halaman 616.

[25]  Ibidem.

[26]  William McGowan, “Burmese Hell,” halaman 49.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s