50 Tahun Imperialisme Jepang

Jepang dikenal sebagai bangsa Asia pertama yang melakukan modernisasi untuk mengejar barat. Tidak hanya modernisasi yang mereka lakukan tetapi mereka juga melakukan ekspansi imperialis ke wilayah tetangganya. Korea adalah sasaran pertamanya, kemudian meluas bahkan hingga jauh ke selatan, sampai Indonesia.

Generals_Pyongyang_MigitaToshihide_October1894

Bagaimana proses ekspansi ini berlangsung? Bagaimana imperium ini akhirnya runtuh?Jepang Mengejar Imperialis Barat

Restorasi Meiji dan modernisasi Jepang adalah usaha Jepang dalam menghadapi ketertinggalan dari negara Barat yang telah memaksakan berbagai perjanjian tidak adil kepada Jepang. Pada 1870-1873 utusan Jepang melawat ke Eropa dan Amerika untuk mengubah perjanjian-perjanjian tidak adil ini, namun kunjungan mereka tidak membuahkan hasil. Baru pada 1894 Inggris menyepakati perjanjian bahwa Jepang membuka semua wilayahnya namun kontrol bea cukai berada di tangan Jepang.1

Meski belum mendapatkan pengakuan setara dari negara Barat, Jepang telah menempatkan perwakilan dan memaksakan perjanjian kepada Korea pada 1875.2 Terjadinya pemberontakan rakyat yang dikenal sebagai pemberontakan Donghak menyebabkan raja Korea meminta bantuan kepada Tiongkok. Tak mau kalah, Jepang segera mengirimkan pasukannya. Ketika pasukan Jepang mendarat sebenarnya pemberontakan ini telah bubar, namun bukannya menarik diri dari semenanjung Korea, pasukan Dinasti Qing dan Jepang justru berperang. Kemenangan total diraih oleh Jepang dengan berlakunya perjanjian Shimonoseki pada 17 April 1895. Perjanjian ini memaksa Tiongkok mengakui kemerdekaan Korea dari pengaruhnya, namun ini hanyalah jalan bagi Jepang untuk menyingkirkan Tiongkok dari Korea.3 Dari perjanjian ini Jepang juga memperoleh wilayah yaitu Taiwan (Formosa) dan kepulauan Penghus (Pescadora).4

Russia memperoleh hak atas rel di Manchuria Selatan dan bergerak ke arah timur. Jepang yang khawatir dengan gerakan Russia akhirnya memulai perang pada 1904. Dalam konflik ini Russia kehilangan 25 dari 35 kapalnya, dalam setahun Russia menyatakan kekalahanya melalui perjanjian Portsmouth. Japang memperoleh semenanjung Liaodong, hak atas rel di Manchuria, dan hak jaminan atas Korea sebagai bagian dari wilayah pengaruh Jepang. Ini menyebabkan Jepang meraih prestise sebagai negara Asia pertama yang mengalahkan Eropa di era modern. Sementara itu di dalam negeri Jepang terlihat bahwa ekonomi berkembang amat pesat karena persiapan, jalannya, dan kemenangan perang.5

Jepang Memulai Imperialismenya di Asia Timur

Jepang memulai Imperialismenya dengan menganeksasi Korea pada 1910. Pada awalnya sejak 1905 Korea dipaksa mengakui supremasi Jepang dalam hubungan luar negeri, menjadikannya sebuah protektorat. Namun kemudian karena perubahan yang terjadi dalam pemerintahan tradisional Korea berjalan amat lambat akhirnya Jepang secara resmi menganeksasi Korea, menggantikan pemerintahan Korea dengan Gubernur Jendral Korea (Chosen Sotokufu). Seluruh aktivis reformasi dan nasionalis Korea ditangkap dan diadili. Sementara itu untuk asimilasi Jepang memperluas pendidikan bagi warga Korea dengan memberikan materi-materi yang mengenai kewarganegaraan Jepang.6

Sementara itu di Tiongkok sejak Pemberontakan Boxer (1900) yang membuat Dinasti Qing porak-poranda, Jepang bersama dengan Imperialis Barat menempatkan pasukannya secara permanen di Tiongkok. Jepang tidak membuat tuntutan keras kepada Tiongkok sampai terjadi Perang Dunia I yang mengalihkan perhatian Imperialis Barat. Pada Januari 1915 mereka mengeluarkan 21 tututan (Japanese 21 Demands).7

Secara ringkas terdapat 6 point utama dalam 21 tuntutan ini yaitu:

  1. Jepang menuntut agar Cina mengakui pengaruh Jepang di Manchuria dan Mongolia Timur;

  2. Jepang ingin memiliki tambang batu bara dan besi di Cina

  3. Jepang ingin mendapatkan hak-hak istimewa di Cina seperti orang-orang Jepang diikut sertakan dalam menjaga keamanan di kota-kota besar.

  4. Cina harus membeli senjata buatan Jepang, dan untuk melatih penggunaanya maka Jepang bersedia mengirimkan ahli-ahlinya ke Cina

  5. Cina harus menyerahkan Kiaochow dan Shandong kepada Jepang

  6. Cina tidak boleh membuka kota-kota pelabuhannya di sepanjang pantai Cina kepada siapapun kecuali Jepang.8

Tuntutan-tuntutan ini secara gamblang menjadikan Tiongkok tidak lebih dari negara protektorat Jepang seperti Korea. Tentu saja Tiongkok tidak menerima tuntutan ini, dengan lambatnya perundingan maka Jepang menarik sebagian besar tuntutannya.9

imperial_shylock

Namun 21 tuntutan hanyalah awal bagi masuknya pengaruh Jepang ke Tiongkok. Dengan Tiongkok yang terpecah-belah oleh kekuasaan para Warlord (Panglima Perang), Jepang mengucurkan pinjaman ke berbagai faksi. Pinjaman kepada pemerintah Tiongkok konon untuk pembangunan, namun dapat dipahami sebagai upaya menyogok politisi dan militer.10 Pinjaman yang diberikan Jepang kepada Duan Qirui memudahkan mereka mengambil alih konsesi Jerman di wilayah industri Shandong, sementara di Manchuria mereka membiayai Jendral Zhang Zuolin untuk menanamkan pengaruhnya.11

Perang Dunia I memberi kesempatan lain bagi Jepang. Ekspor negara Barat ke wilayah jajahannya yang turun drastis membuka kesempatan bagi Jepang untuk mengirimkan produk-produknya yang murah. Namun produk-produk yang mutunya lebih rendah daripada produk barat ini justru digandrungi oleh pihak pribumi di Asia Tenggara dan menjadi semacam pariwara yang memperkenalkan Jepang sebelum mereka datang untuk berkuasa di sana.12

Produk Domestik Bruto Jepang mengalami peningkatan besar selama Perang Dunia I, berlipat sampai tiga kalinya. Pendapatan terbesar adalah dari ekspor amunisi dan pelayaran yang dibutuhkan Barat dalam usaha perang. Tiga perlima pendapatan Jepang pada masa ini diperoleh dari pelayaran dagang Zaibatsu.13

Dari Jerman, Jepang memperoleh Wilayah Pasifik Jerman yaitu Pulau Mariana, Marshall, dan Karolina. Perjanjian Versailles memberikan wilayah kepulauan Micronesia di sebelah utara garis Khatulistiwa. Untuk pemerintahan wilayah ini Jepang membentuk Prefektur Nanyo (南洋庁 Nan’yō Chō). Wilayah ini nantinya digunakan Jepang sebagai basis pertahanan Angkatan Laut.14

Perang Berkepanjangan di Daratan Asia

Dengan wilayah yang diperolehnya di Korea, Taiwan, dan Pasifik maka Jepang telah menjadi sebuah Imperium dengan wilayah di seberang lautan. Namun di dalam negeri Jepang sendiri sering terjadi krisis, baik karena bencana alam (gempa 1923) maupun berbagai masalah ekonomi sepanjang 1920an.15 Kondisi ini justru tidak menyurutkan politik luar negeri agresif Jepang.

Usaha Chiang Kai Sek menyatukan Tiongkok yang terpecah-pecah kekuasaan Panglima Perang daerah dianggap mengancam kekuasaan Jepang di Tiongkok. Tentara Kwantung merasa terancam akibat Zhang Zuolin yang kian sulit dikendalikan, sehingga mereka membunuhnya. Tokyo segera menyatakan diri tidak terlibatdan menghukum para pelakunya.16 Tidak disadari Jepang, insiden ini justru menyebabkan Jendral Zhang Xueliang (pewaris Zhang Zuolin) membelot kepada Chiang Kai Sek dan dengan ini maka secara nominal Tiongkok telah bersatu.

Pada masa ini muncul pandangan mengenai geopolitik yang menyatakan bahwa negara diibaratkan layaknya organisme yang bertarung satu-sama lain memperebutkan wilayah demi kalangsungan hidupnya. Pandangan ini memberikan justifikasi bagi satu negara untuk melakukan ekspansi yang mengorbankan negara lain demi kelangsungan ekonomi dan keuntungan strategis lainnya. Pandangan ini masuk ke Jepang melalui kajian atas buku Rudolf Kjellen Staten som Lifsform (Bahasa Swedia: Negara sebagai Makhluk Hidup).17 Masuknya pandangan ini menjelaskan sikap agresif Jepang pada masa ini dalam mengakuisisi wilayah-wilayah Asia Timur.

Japan_drills_Boy_Scouts_with_rifles_1916_2

Meski mulai mencoba demokrasi, masyarakat Jepang juga menyemai benih militerisme sejak era ini.

Pada 1927 muncul dokumen rahasia yang dipersembahkan kepada Kaisar mengenai rencana perampasan negara lain untuk membangun negara Asia Timur Raya.18 Charles Fisher meragukan keaslian dokumen ini karena untuk dokumen rahasia, strategi yang dikemukakannya telah secara terang-terangan dibuka dalam propaganda pemerintah Jepang.19

Maka tidak heran bila Tentara Kwantung secara mandiri mengambil keputusan untuk merekayasa insiden yang dapat dituduhkan pada pemerintah nasionalis Tiongkok sebagai alasan perang. Melalui insiden Mukden 18 Sepetember 1931 Tentara Kwantung menganeksasi Manchuria. Tokyo berusaha mencegah perang meluas dan mem-veto rencana Tentara Kwantung menjadikan Manchuria sebagai wilayah resmi Jepang. Sebagai alternatif mereka mengundang Kaisar Pu Yi untuk menjadi kepala negara Manchu yang baru, dengan Tentara Kwantung sebagai militernya dan pejabat-pejabatnya diisi oleh orang Jepang.20

Hubungan dengan Tiongkok terus menegang, namun Chiang Kai Sek masih belum mau melawan Jepang secara frontal. Ia lebih memilih menghabisi kaum komunis terlebih dahulu sebelum melawan Jepang, sampai akhirnya pada 1936 ia ditawan oleh Zhang Xueliang yang memaksanya membuka kerjasama dengan komunis untuk melawan Jepang. Insiden ini dikenal dengan insiden Xian.21

Dalam kondisi ini pemerintahan sipil (partai) di Jepang mengalami kemunduran dan digantikan oleh pemerintahan militer pada 1933. Pemerintahan yang didominasi militer ini lebih menghendaki perampasan wilayah lebih luas dari Tiongkok.22 Maka otonomi Tentara Kwantung semakin luas dalam mengambil keputusan.

Pada Juli 1937 pasukan Tiongkok dan pasukan Jepang saling tembak-menembak di Jembatan Marco Polo, jalan masuk ke Beijing. Tembak-menembak ini diikuti dengan kerusuhan yang menyebabkan kematian ratusan warga negara Jepang (termasuk etnis Korea). Ini menyebabkan kerusuhan segera meluas menjadi pertempuran antara Tiongkok-Jepang, dan Jepang menganeksasi Beijing.23

japanese_soldier_in_china

Tokyo berpendapat bahwa pertempuran ini akan tidak berbeda dengan konflik sebelumnya. Kalangan militer yakin bahwa kemenangan akan segera dicapai, maka serdadu cadangan dalam jumlah besar dikerahkan untuk merebut Shanghai hingga Nanjing. Tidak diantisipasi Jepang, kali ini Chiang Kai Sek memilih meneruskan perang.24

Perang Tiongkok-Jepang kali ini dikenal juga dengan sebutan Perang Tiongkok-Jepang Kedua (Second Sino-Japanese War). Perang ini menyeret Jepang dalam perang artrisi yang memakan biaya besar. Untuk inilah dilakukan perombakan ekonomi di Korea dan Manchuria agar lebih terintegrasi dalam ekonomi Jepang dalam rangka mendukung perang. Ini disebut Orde baru Asa Tmur Raya,25 yang artinya tatanan baru ini tidak lain adalah tatanan demi perang semata. Bahkan rencana Kemakmuran Bersama Asia Timur raya yang diumumkan pada 1940 secarra implisit memasukkan wilayah-wilayah Asia Tenggara yang disebut sebagai korban imperialisme barat.26

Dengan dukungan dari Amerika Serikat dan berbagai negara lain Tiongkok bertahan. Ibukota sementara dibangun oleh Chiang Kai Sek di Chongqing sementara Amerika Serikat dan Inggris menyuplainya dari Burma.27 Menghadapi lawan yang ulet dan keterbatasan sumber daya, Jepang tidak memiliki pilihan lain selain memperluas perang.

Asia Timur Raya: Perang Pasifik

Dalam perangnya dengan Tiongkok, Jepang mengandalkan impor sumberdaya seperti besi, karet, dan minyak bumi dari negara-negara barat. Perang berkepanjangan ini amat membebani ekonomi Jepang, sementara negara-negara tersebut memilih membantu Tiongkok meski secara resmi netral. Untuk membatasi militerisme Jepang pemerintah Belanda menghentikan ekspor minyak bumi, karet, dan besi ke Jepang. Hal ini dianggap sebagai permusuhan oleh Jepang.28

Melalui diplomasi Jepang berusaha agar Amerika menghentikan bantuannya kepada Tiongkok dan mengakui Asia Timur sebagai wilayah pengaruhnya.29 Namun usaha ini tidak berhasil. Untuk itu Jepang segera menyiapkan perang dengan strategi pemutusan hubungan diplomatik yang diikuti serangan mendadak ke pangkalan-pangkalan militer penting Amerika dan Inggris.30

Jepang dengan cepat meraih keberhasilan memukul Amerika Serikat di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Segera Jepang dapat merebut wilayah-wilayah lain di selatan seperti Hongkong (25 Desember), Manila (2 Januari 1942), sampai ke Indomesia dengan penyerahan Belanda (9 Maret). Namun semua kemenangan pertempuran ini tidak segera mengakhiri perang seperti diinginkan Jepang.31

Meski telah mendapatkan wilayah dengan sumber daya alam untuk mendukung perang, secara umum hal ini tidak memberi dukungan berarti dalam usaha perang Jepang. Tidak ada jalan kereta efektif dari Tiongkok ke Asia Tenggara menyebabkan pasokan bahan mentah tidak sampai ke pusat industri Jepang di Manchuria, Korea, dan Jepang. Sementara itu armada angkatan laut Jepang terlalu tersebar untuk dapat memberi perlindungan bagi armada dagangnya.32

IJA_manila

Pada akhirnya sudah jelas bahwa perang ini tidak akan dimenangkan Jepang, namun tidak ada diantara para pemimpin militer yang menguasai pemerintahan yang bersedia mengakuinya. Hanya kekuatan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki yang dapat mengubah pendapat ini. Akhirnya pada 15 Agustus Kaisar Jepang mengumumkan pernyataan menyerah tanpa syarat.33

=================

1W.G. Beasley, Pengalaman Jepang: Sejarah Singkat Jepang (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), halaman 280-300.

2Carter J Eckert dkk, Korea Old and New: a History (Seoul: Ilchokak, 1990), halaman 200.

3Ibidem, halaman 222-223

4Ryosuke Ishii, Sejarah Institusi Politik Jepang (Jakarta: Gramedia, 1989), halaman 159.

5James B Crowley, “An Empire Won and Lost,” The Wilson Quarterly, Volume 6, Nomor 1 (Musim Dingin, 1982), halaman 124

6Eckert dkk, Korea Old and New: a History, halaman 254-275.

7“Empire of Japan,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Empire_of_Japan, diakses 10 November 2015.

8Leo Agung, Sejarah Asia Timur 1 (Yogyakarta: Ombak, 2012), halaman 85

9“Empire of Japan,” Wikipedia.

10WG Beasley, Pengalaman Jepang, halaman 309-310.

11“Warlord Era,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Warlord_Era. Diakses 20 September 2015.

12Charles A. Fisher, “The Expansion of Japan: A Study in Oriental Geopolitics: Part II. The Greater East Asia Co-Prosperity Sphere,” The Geographical Journal, Volume 115, Nomor 4/6 (April – Juni, 1950), halaman 185.

13James B Crowley, “An Empire Won and Lost,” halaman 125-126.

14“Japanese Colonial Empire,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Japanese_colonial_empire. Diunduh 10 November 2015.

15Ryosuke Ishii, Sejarah Institusi Politik Jepang (Jakarta: Gramedia, 1989), halaman 156-159.

16WG Beasley, Pengalaman Jepang, halaman 312-313.

17Li Narangoa, “Japanese Geopolitics and Mongol Land, 1915-1945” European Journal of East Asian Studies, Volume 3, Nomor 1 (2004), halaman 46

18Leo Agung S, Sejarah Asia Timur 2 (Yogyakarta: Ombak, 2012), halaman 81.

19Charles A. Fisher, “The Expansion of Japan: A Study in Oriental Geopolitics: Part I. Continental and Maritime Components in Japanese Expansion,” The Geographical Journal, Volume 115, Nomor 1/3 (Jan. – Mar., 1950), halaman 13.

20WG Beasley, Pengalaman Jepang, halaman 315-316.

21“Xi’an Incident,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Xian_Incident. Diakses 20 September 2015.

22WG Beasley, Pengalaman Jepang, halaman 316-317.

23“Second Sino-japanese War,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Second_Sino-Japanese_War. Diakses 20 September 2015.

24WG Beasley, Pengalaman Jepang, halaman 317.

25Ibidem, halaman 317-318.

26James B Crowley, “An Empire Won and Lost,” halaman 131.

27Richard Yang dan Edward J Lazzerini, The Chinese World (Saint Louis: Forum Press, 1978), halaman 55-60.

28“Pacific War,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Pacific_War. Diakses 10 November 2015.

29Leo Agung S, Sejarah Asia Timur 2, 85-87.

30WG Beasley, Pengalaman Jepang, halaman 320.

31Ibidem, halaman 320-321.

32Ibidem, halaman 321-322.

33Ibidem, 322-324.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s