Militansi Tanpa Kompas Moral ala HMI

Lima hari terakhir para pemerhati gerakan mahasiswa dibuat terkekeh-kekeh. Anggota organisasi besar yang sudah cukup tua membuat ulah.

tumpah

Well, this writing is bound to happen. Stay tuned.Sepertiya memang kongres HMI kali ini diikuti oleh peserta dari Makassar tidak dengan kelurusan niat. Mereka mengawalinya dengan membuat rusuh pelabuhan. Masak mereka hendak menumpang kapal tanpa membayar? Ndak heran ketika di Riau pun mereka bikin rusuh seperti foto di atas.

Bingung saya. Adakah saya turut menyalahkan kelakuan kali ini karena perilaku mahasiswa Sulawesi Selata yang terkenal dengan tawurannya? Ataukah saya harus mengingat kembali conviction saya terhadap HMI yang terlanjur negatif?

Baiklah, saya ceritakan dahulu. Sekitar lima tahun lalu Gelanggang Mahasiswa UGM dibuat geger. Pada akhir periode baru ketahuan bila ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa ternyata terdaftar sebagai perwakilan Forum Komunikasi UKM dari Mapagama. But that’s bullshit!

Melalui wangsit mojokisma saya mendapat pencerahan. Ada anekdot yang menyebutkan bahwasanya Gusdur berkata bila HMI itu menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya.

Astaghfirullah, membawa nama Islam kok macam ni?

Saya mensinyalir bahwa sejak dekade 70an HMI telah ‘ditingggal’ patronnya. Dulunya HMI adalah onderbouw Masyumi, namun masyumi bubar dan tokoh-tokohnya memilih konsentrasi jalan dakwah. Aspirasi politik mereka ketika itu dititipkan lewat PPP. Sayah ndak begitu mafhum bagaimana hubungan keduanya, namun dalam gerakan mahasiswa 77-78 aktivis HMI ndak ada dukungan dari PPP.

Menurut Yon Machmudi pada era 70an ini muncul banyak gerakan dakwah, salah satunya karena peran mantan aktivis Masyumi yang mengalihkan energinya ke bidang dakwah ini. HMI ketika itu sudah dipadang sebagai “jalan menuju politik” sedangkan jalan menuju surga ya ikut gerakan dakwah asuhan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia.

Yah, kalau  dari era 70an karakternya sudah agak oportunis kayak gitu ya saya ndak heran kalau diantara mereka ada yang “menghalalkan segala cara” begitu. HMI kini menjadi organisasi besar, meski mungkin kalah dengan KAMMI yang menguasai kampus-kampus negeri namun para pemuda yang memiliki militansi pasti melihat ke arah HMI sebagai wadah untuk membina dirinya.

Namun buat apa militansi ini bila tidak ada petunjuk dalam berperilaku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s