Status Wanita Jepang : Dari Masa Edo Hingga Pasca-Perang

Latar Belakang

Jepang adalah negeri Asia pertama yang memodernisasi dirinya. Sejak awal abad 20 Jepang telah diakui negara Barat setara dengan mereka dengan memberi mereka hak yang sama dalam hal hukum. Sepanjang sejarah Jepang modern, salah satu hal yang ikut berubah dalam masyarakat Jepang adalah peranan wanita.

Japanese woman with parasol dressed for winter

Wanita di Jepang memiliki peran dan status yang berubah-ubah. Di masa awal sejarahnya Jepang sempat memiliki Kaisar wanita pada abad ke 8 Masehi (era Heian). Mereka juga dapat menerima warisan dan memiliki hak milik sendiri. Namun di masa sesudahnya, terutama era Edo status dan hak mereka berkurang.1 Tentu saja bagaimana peran, status, dan hak wanita di Jepang dari masa ke masa dapat menjadi bahasan sejarah yang menarik.

Wanita Jepang di masa Edo

Pada masa Edo kelas militer yang disebut bushi adalah kelas yang dominan di Jepang. Dominasi kelas dengan peran maskulin ini menyiratkan turunnya status dan peran wanita dalam masyarakat. Kepercayaan asli Jepang (Shinto) yang menjadikan figur wanita sebagai unsur sakral2 dan sejarah penyatuan Jepang yang dimulai oleh Ratu Himiko tergeser perannya oleh konfusianisme yang secara praktis berguna bagi pemerintahan bakufu.3

Dalam konfusianisme terdapat hierarki status yang meminta ketundukan terhadap kepala, baik kepada kepala negara maupun kepala keluarga.4 Ketundukan istri kepada kepala keluarga dengan ini menempatkan mereka pada peran domestik di dalam rumah.

Namun secara ganjil unsur Shinto yang tidak mentabukan sex di luar nikah bertahan di era Edo. Mereka menempatkan suatu lokalisasi (pleasure quarter) sebagai tempat aktivitas ini dapat dilakukan. Di pleasure quarter ini lama-kelamaan tidak hanya sex yang dijual tetapi hiburan lain yang diberikan oleh seniman-seniman ternama yang disebut oiran. Sebagai pendamping oiran inilah muncul seniman-seniman pria yang disebut geisha.5

japanesewomenwearingbamboohatsplantingriceca-1895

Berkebalikan dengan geisha, wanita dari kalangan petani bahu-membahu bercocok-tanam di sawah.

Profesi geisha ini kemudian diambil para wanita penghibur, mereka memilih sebagai seniman tinggi daripada menjadi pekerja sex. Secara budaya geisha ini menjadi kontras terhadap konsep ideal para istri. Para geisha menunjukkan keahlian dan sifat yang terlihat bebas sementara para istri bersikap rendah hati dan bijak.6 Dari kemunculan geisha kita melihat kotradiksi bahwa masyarakat Jepang mengharapkan para wanita untuk berperan domestik, namun masyarakat ini mengijinkan munculnya profesi geisha.

Era Meiji dan Taisho

Di Era Meiji secara resmi wanita kehilangan hak legal mereka sebagai pribadi. Melalui sistem Ie yang diberlakukan melalui hukum perdata 1898 mereka tunduk pada kepala keluarga masing-masing.7 Perkawinan dilaksanakan atas kepentingan Ie (keluarga) dan seorang wanita yang menikah memasuki Ie suaminya.. Kehendak orangtua, terutama kepala keluarga adalah pertimbangan utama.8

Meski secara hukum kedudukan mereka bergantung pada kepala keluarga namun Amino seperti dikutip Wikipedia menyatakan bahwa secara umum wanita memiliki status yag setara. Sistem ie ini tidak lain adalah sebuah sandiwara di depan umum saja.9

Era Meiji melalui deklarasi pemerintahannya menyatakan bahwa semua kelas akan mendapat kesempatan untuk mencapai cita-cita yang adil dan rasa puas.10 Namun pada pemerintahan Meiji justru para petani mendapati hidup mereka mengalami kesulitan yang hebat. Dari kesulitan inilah muncul karayuki-san, pelacur-pelacur Jepang di berbagai negeri Asia Timur dan Asia Tenggara.11 Pelacuran ini tentu membawa malu bagi Jepang yang sedang berusaha mengejar bangsa Barat sehingga pemerintah Jepang berusaha menghentikan pengiriman Karayuki-san sejak 1920-an.12 Meskipun begitu karayuki-san membuka jalan bagi penetrasi ekonomi Jepang ke Asia Tenggara pada dekade sesudahnya.13

Pada masa ini wanita selain bekerja dalam usaha keluarga juga mulai bekerja di pabrik-pabrik. Namun kesempatan kerja mereka terbatas, hanya pabrik-pabrik sutra saja yang menerima mereka. Pada 1929 ketika Amerika menghentikan impor sutra dari Jepang mereka kehilangan pekerjaannya.14 Ini menyebabkan kesulitan keuangan bagi banyak keluarga.

silk-factory-girls-drawing-thread-from-cocoons-in-old-japan

Wanita Jepang banyak dipekerjakan di pabrik sutra pada era Meiji.

Pada masa ini terlihat kontradiksi. Budaya patriarki Jepang dilegalkan oleh hukum perdata dengan konsep ie. Dalam prakteknya wanita dipaksa bekerja utuk mencukupi keluarga, bahkan menjadi eksploitasi untuk keluarga.15 Hal ini tentu bertentangan dengan ide patriarki bahwa wanita seharusnya berperan domestik dalam keluarga.

Masa Perang/Awal Showa

Pada awal masa Showa Jepang berada dalam peperangan. Pemerintahan sipil yang diambil alih oleh militer mengalihkan perhatian kepada usaha-usaha penaklukan (perang) Asia Timur. Secara hukum tidak ada perubahan sigifikan terhadap hak-hak wanita. Justru terjadi eksploitasi wanita (sebagaimana warga negara lainnya) oleh negara atas nama mobilisasi nasional untuk perang.

Tugas domestik wanita tidak pernah lepas. Mereka adalah yang menyiapkan para pemuda yang nantinya dikirim untuk perang ke luar negeri. Jendral Hideki Tojo pernah berkomentar bahwa ibu yang bangun pukul empat untuk mempersiapkan anaknya sekolah adalah “Ibu seperti itulah yang akan memenangkan perang.”16 Di kota-kota diselenggarakan lomba bayi sehat untukj meningkatkan dan menegaskan peran mereka sebagai ibu.17

emergency_rice_feeding_by_tonarigumi

Ibu-ibu dalam kesatuan Tonarigumi (perkumpulan setingkat rukun tetangga) menyiapkan nasi kepal dalam dapur umum darurat.

Namun peran domestik sebagi ibu saja tidak cukup. Jepang telah kehilangan tenaga kerja prianya yang harus dikirim berperang ke berbagai penjuru Asia Timur dan Asia Tenggara. Maka para ibu dan orangtua harus masuk dalam perkumpulan rukun tetangga tonarigumi yang bertugas menjaga keamanan dan sebagai pemadam kebakaran. Di sisi lain pekerjaan kasar para pria mulai dikerjakan oleh para wanita, baik yang sudah dewasa maupun yang masih bersekolah.18

Ini memunculkan ungkapan mengenai kedudukan wanita “sejak perang kaos kaki nilon dan wanita semakin kuat.”19 Wanita-wanita Jepang memang memiliki status baru yang lebih baik dalam keluarga, namun tidak dapat dipungkiri ini terjadi dalam mobilisasi untuk perang.

Masa Pasca-Perang

Mobilisasi pada masa perang menjadikan wanita-wanita Jepang terbiasa bekerja di luar rumah. Sekembalinya para pria mereka tidak begitu saja bersedia untuk menjadi ibu rumah tangga lagi. Hal ini bersamaan dengan kebijakan nasional Jepang yang menginginkan pemulihan cepat pasca-perang yang membutuhkan tenaga kerja yang besar.20 Hal ini mendorong para waita untuk tetap bekerja.

Kazuko Sato dkk berpendapat bahwa era pasca perang adalah era modern sebenarnya bagi para wanita sebab baru pada saat ini kesetaraan hak mereka dijamin oleh konstitusi.21 Dengan ini hak sipil mereka yang sebelumnya bergantung pada ie menjadi hak pribadi masing-masing individu. Ie yang merupakan keluarga tiga generasi (orangtua, anak, dan cucu) pecah dan terbentuk keluarga inti dengan suami dan istri yang kedudukannya setara.22

Pasca-perang di Jepang para wanita mendapatkan kesempatan karir, namun kesempatan ini tidaklah setara. Melalui UU Standar Pekerja, para pekerja wanita mendapatkan perlindungan dari kerja lembur dan berbahaya serta mendapat libur menstruasi. Ini menghalangi promosi namun memudahkan wanita yang hanya bekerja sebelum menikah.23

la-la-fg-japan-women03-jpg-20130820

Selain hambatan akibat kesempatan yang hilang tadi, banyak perusahaan tidak memberikan jalan promosi kepada wanita. Pelatihan ketika bekerja (in-job training) da berbagai pekerjaan yang menjadi pra-syarat promosi hanya diberikan pada karyawan pria. Bahkan bila diperlukan perusahaan akan mengirim mereka pada pendidikan lanjutan (S-2). Namun pekerja wanita diharapkan berhenti ketika menikah sehingga tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Mereka yang mengharapkan promosi serupa harus mengorbankan kesempatannya untuk menikah.24

Kemajuan ekonomi dan teknologi Jepang memberikan kemudahan bagi para ibu rumah tangga. Tugas-tugas domestik mereka menjadi ringan dengan adanya alat elektronik, para ibu rumah tangga kini memiliki banyak waktu luang. Maka muncullah ibu pendidikan (kyoiku mama), para ibu yang mencurahkan perhatiannya pada pendidikan anak.25 Wanita (ibu rumah tangga) yang tidak berkerja menunjukkan kelas sosial mereka yang lebih terjamin.

Di sisi lain terdapat pula keluarga yang menerima gaji lebih rendah sehingga suami dan istri harus bekerja. Apakah istri boleh bekerja atau tidak bukanlah pertanyaan, sang istri harus ikut menutup kekurangan pendapatan suaminya. Ia dapat bekerja setidaknya dari rumah atau kembali ke perusahaan setelah anaknya memasuki usia sekolah. Ini menyebabkan munculnya fenomena “Kurva M,” yang menunjukkan turunnya persentase wanita yang bekerja pada usia mengurus anak.26 Bila sang Ibu bekerja di luar maka muncullah “anak-anak kunci,” anak-anak yang membawa kunci rumahnya untuk kemudian menunggu kepulangan orangtua mereka di rumah.27

Selain bekerja sebagai pegawai, adapula wanita yang bekerja pada usaha keluarga. Bila mereka mendirikan usaha tersebut bersama suami atau kerabatnya, dengan aturan hukum Jepang pasca-perang mereka dapat mewarisi peran sebagai pemilik dan pengelolanya. Pada umumnya sebagian besar wanita yang menduduki posisi manajer di Jepang adalah dari usaha keluarga yang tidak terlalu besar.28

Kini dengan perkembangan pendidikan dan keterbukaan Jepang sudah banyak wanita di Jepang yang memperoleh kedudukan sebagai manajer dalam perusahaan-perusahaan besar. Meskipun pada 1986 kurang dari separuh dari hasil survei adalah manajer dari perusahaan yang berada di bursa saham (sebagai acuan ukuran perusahaan). Namun bila dibandingkan dengan total pegawai dari perusahaan-perusahaan besar tersebut wanita yang menjadi manajer hanyalah 03%.29

Di sisi gelap masyarakat Jepang, hingga kini Jepang masih mengizinkan industri sex. Industri sex ini berbeda dengan pelacuran yang dilarang oleh Undang-Undang, dalam pelacuran terjadi hubungan sex sedangkan industri sex memberikan berbagai jasa kecuali hubungan sex tersebut. Pada umumnya wanita-wanita dari keluarga yang retan terperangkap dalam industri sex ini.30

Kesimpulan

Status dan peran wanita Jepang selalu berubah-ubah. Pada zaman Edo wanita diarahkan pada peran domestik dan harus taat pada kepala keluarga. Hal ini semakin ketat pada era Meiji dan Taisho dengan UU Perdata yang mengesahkan sistem Ie. Pada masa perang para wanita dikerahkan untuk bekerja di lingkungan dan pabrik-pabrik. Ini memperkuat posisi mereka yag berlanjut pada masa pascaperang. Pada masa pascaperang para wanita mendapatkan peran dan status baru. Di dunia kerja mereka dapat mencapai posisi manajerial meski amat sulit sementara mereka yang tidak perlu bekerja menandakan status sosial lebih tinggi.

____________________

1“Women in Japan,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Women_in_Japan (diakses 3 Desember 2015).

2“Women in Japan,” Wikipedia.

3Ryosuke Ishii, Sejarah Institusi Politik Jepang (Jakarta: Gramedia, 1989), mengenai sejarah awal Jepang halaman 1-11 dan mengenai peran konfusianisme bagi bakufu halaman 91.

4Ibidem.

5“Geisha,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Geisha (diakses 2 Desember 2015).

6Ibidem.

7“Women in Japan,” Wikipedia.

8Tadashi Fukutake, Masyarakat Jepang Dewasa Ini (Jakarta: Gramedia, 1988), halaman 41-45.

9“Women in Japan,” Wikipedia.

10Ishii, Sejarah Institusi Politik Jepang, halaman 127

11Sri Pangestoeti, “Dari Kyushu ke Ran’in: Karayuki-san dan Prostitusi Jepang di Indonesia 1880-1920,” Humaniora Volume 21, Nomor 2 (Juni 2009), halaman 141.

12“Karayuki-san,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Karayuki-san (diakses 3 Desember 2015)

13Ibidem.

14Jery Korn dkk, Jepang Tersulut Perang (Jakarta: Tira Pustaka, 1986), halaman 13.

15Sri Pangestoeti, “Karayuki-san dan Prosttusi Jepang di Indonesia,” halaman 141.

16Jery Korn dkk, Jepang Tersulut Perang, halaman 55.

17Ibidem, halaman 72.

18Ibidem, halaman 114-121.

19Fukutake, Masyarakat Jepang, halaman 43.

20Kyariaūman,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Kyariaūman (diakses 3 Desember 2015)

21Kazuko Sato, Mitsuyo Suzuki dan Michi Kawamura, “Changing Status of Women in Japan,” International Journal of Sociology of the Family, Volume 17, Nomor 1 (Musim Semi 1987), halaman 88.

22Fukutake, Masyarakat Jepang Dewasa Ini, halaman 41-45.

23Kyariaūman,” Wikipedia.

24Patricia G. Steinhoff dan Kazuko Tanaka, “Women Managers in Japa,” International Studies of Management & Organization, Volume 16, Nomor 3/4 (Musim Gugur, 1986 – Musim Dingin, 1987), halaman 111-112.

25Fukutake, Masyarakat Jepang Dewasa Ini, halaman 49.

26Kyariaūman,” Wikipedia.

27Fukutake, Masyarakat Jepang Dewasa Ini, halaman 50.

28Patricia G. Steinhoff dan Kazuko Tanaka, “Women Managers in Japan,” halaman 126-127.

29Patricia G. Steinhoff dan Kazuko Tanaka, “Women Managers in Japan,” halaman 116.

30“Women in Japan,” Wikipedia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s