Korea di Awal Abad 20 (Korean Empire)

Korea adalah negeri yang menjadi vassal Tiongkok sejak era dinasti Yuan. Hubungan ini makin erat setelah dinasti Joseon memilih politik isolasi dan hanya berhubungan dengan Beijing. Hubungan ini terputus dengan terjadinya Perjanjian Shimonoseki (1895) yang menjadikan Korea sebagai “negara merdeka.”1 Status Korea sebagai negara merdeka hanyalah samaran utuk menjadikan Korea wilayah pengaruh Jepang. Namun karena tekanan negara barat akhirnya Jepang melepaskan klaimnya atas Semenanjung Liaodong dan membiarkan Korea. Raja Gojong akhirnya memproklamasikan pendirian Kekaisaran Korea (Daehan Jeguk) pada 1897.2

ahns_taegukgi

Pendirian Kekaisaran Korea ini mengawali usaha Korea untuk memodernisasi dirinya dan mempertahankan kedaulatannya di tengah meluasnya pengaruh Jepang. Namun bagaimanakah nasib Korea di awal abad 20?

A. Kekaisaran Korea dan Reformasi Gwangmu

Pembunuhan Ratu Myeongseong (Oktober 1895) oleh agen Jepang menempatkan istana Gyongun dibawah kontrol faksi pro-Jepang. Raja Gojong melarikan diri dari istananya pada februari 1896 dan meminta bantuan Russia. Russia dengan gembira menerima Gojong yang menjadikan Korea wilayah pengaruh Russia. Anggota kabinet yang sebelumnya pro-Jepang terbunuh atau lari dan digantikan tokoh pro-Russia atau pro-Amerika. Raja kembali ke istana Gyongun pada Februari 1897 da memproklamasikan berdirinya Kekaisaran Korea pada Oktober.3

Kemerdekaan Korea muncul dengan memberi konsesi pada kekuatan asing. Hal ini menyebabkan kalangan sadar politik di Korea tidak puas. Perkumpulan Kemerdekaan (Dongnip Gyeophoe/Independence Club) yand berdiri sejak 2 Juli 1896 menjadi saluran utama untuk menyatakan aspirasi-aspirasi ketidakpuasan atas hal ini.4

Perkumpulan ini mulanya hanya dibentuk untuk dua proyek yaitu membangun kembali Gerbang Yeongeun yang sebelumnya digunakan untuk mengawal utusan Tiongkok dan merenovasi Balairung Penghormatan pada Tiongkok dan menjadikannya Gerbang dan Balairung Kemerdekaaan. Berkembangnya perkumpulan ini secara efektif menjadikannya majelis rakyat.5

Perkupmpulan kemerdekaan ini melakukan serangkaian kegiatan untuk membangkitkan gerakan rakyat. Mereka mengadakan rapat-rapat tanya jawab dan diskusi di berbagai kota Korea. Dalam pertemuan-pertemuan ini mereka mengutuk kebijakan pemerintah yang memberi konsesi kepada Russia untuk menahan pengaruh Jepang.6

Meskipun menghadapi opini tidak populer, pemerintahan Kaisar Gojong menyadari perlunya melakukan modernisasi Korea. Kabinet yang dibentuk 1896 selanjutnya menjadi kabinet yang menjalankan pemerintahan Kekaisaran Korea. Pemerintahan Kaisar Gojong dikenal dengan nama pemerintahan Kaisar Gwangmu dan modernisasi yang dilakukannya dikenal sebagai reformasi Gwangmu. Mengutip dari wikipedia7, modernisasi yang dilakukan antara lain:

  1. Penghapusan sistem kelas;

  2. Pengenalan seragam dan pakaian barat;

  3. Modernisasi militer;

  4. Survei kadaster untuk reformasi pajak;

  5. Pembangunan prasarana transportasi urban dan listrik;

  6. Pembukaan industri tekstil untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri;

  7. Pembukaan sekolah dasar;

  8. Pembukaan sistem kesehatan nasioal dan pengawasan sanitasi dan perdagangan obat.

Pada masa ini muncul berbagai koran-koran yang memupuk kemunculan nasionalisme Korea.8 Dari Perkumpulan Kemerdekaaan muncul Buletin Perkumpulan Kemerdekaan Joseon Raya yang diterbtkan dalam bahasa Korea dan Inggris. Selain itu sebelum perkumpulan kemerdekaan berdiri, pada 7 April 1896, muncul Dongmin Sinmun (Harian Merdeka) yang diterbitkan dengan bahasa pasar Korea, ia menjadi wadah penyebaran pemikiran liberal barat. Sementara dari kalangan reformis konfusian diwakili oleh koran Hwangseong Sinmun (Hrian Ibukota).9

Perkumpulan kemerdekaan ini juga mengupayakan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan. Pada November 1898 mereka mengkampanyekan agar Dewan Penasehat Raja diperluas kewenangannya menjadi lembaga legislatif. Kaisar merestui pembentukan dewan baru, namun sembari menangkap 16 orang pemimpin Perkumpulan Kemerdekaaan. Muncul aksi protes menuntut pembebasan mereka. Pemerintah memerintahkan Asosiasi Kekaisaran (perkumpulan baru yang dibentuk sebagai alat pemerintah) untuk menyerang demonstran. Akhirnya Gojong membentuk Dewan Penasehat baru pada akhir November yang terdiri dari 29 orang perwakilan Asosiasi Kekaisaran, 16 orang dari Perkumpulan Kemerdekaaan, dan 4 orang dari Pemerintah. Meski berjumlah sedikit, namun Perkumpulan Kemerdekaan dapat medominasi sidang tanggal 16 Desember. Hal ini menyebabkan Gojong memerintahkan pembubaran Perkumpulan Kemerdekaan, larangan demonstrasi, dan pengerahan tentara.10

Pemerintahan Gwangmu mengesahkan konstitusi pada tahun 1899 yang terdiri atas pembukaan dan sembilan pasal. Dalam konstitusi ini Kaisar memiliki kekuasaan penuh atas legislatif, eksekutif, dan diplomatik. Reformasi-reformasi dan adanya konstitusi telah menaikkan wibawa Korea pada pemerintahan ini11, namun Korea masih menghadapi berbagai tantangan.

Salah satu tantangan ini adalah Jepang yang menginginkan Korea untuk menjadi koloninya. Bahkan pada 1905 Kaisar Gojong mengirimkan pesan rahasia kepada berbagai negara. Gojong tidak dapat menggunakan jalur doplomatik biasa sebab dapat dipastikan adaya pengawasan seluruh aktivitas pemerintah Korea oleh agen-agen Jepang.12

Seperti dapat dilihat usaha-usaha reformasi Gwangmu tidak berjalan radikal dan lambat.13 Ketidakmampuan pemerintahan Gojong menjadikan Korea sebagai kekuatan mandiri menyebabkan posisinya amat bergantung pada kekuatan Rusia untuk menahan pengaruh Jepang. Meskipun Jepang diimbangi oleh Russia namun pengaruh Jepang amat kuat terasa. Jepang bahkan dapat memaksa Korea menerima Kesepakatan Jepang-Korea pada 22 Agustus 1904. Dalam kesepakatan ini Jepang ditempatkan sebagai penasehat ekonomi dan hubungan luar negeri Korea14, menjadikan Korea sebagai quasi-protektorat Jepang.

Pada akhirnya Jepang berhasil menyingkirkan Russia dari Korea dalam perag Jepang-Russia 1905. Pada saat yang sama Jepang berhasil menjamin dukungan dari Inggris melalui kerjasama Inggris-Jepang di tahun yang sama. Melalui persuratan Katsura-Taft Jepang mendapat jaminan Amerika dengan imbalan pengakuan kolonisasi Amerika atas Filipina.15

Jepang segera bergerak memaksa Korea untuk menerima secara resmi status protektorat dari Jepang. Delegasi Jepang yang dipimpin Ito Hirobumi mengancam Kaisar Gojong dengan pasukan pengawalnya. Perdana Mentri Han Kyu-seol yang menentang perjanjian ini diseret keluar dari ruangan. Cap Kementria Luar Negeri direbut pasukan Jepang dan dibubuhkan oleh delegasi Jepang sendiri pada 17 November 1905.16 Korea dengan ini tidak dapat menolak statusnya sebagai protektorat Jepang.

B. Korea sebagai Protektorat Jepang (1905-1910)

Unsur-unsur kolonialisme Jepang telah masuk ke Korea bahkan sebelum Korea secara resmi menjadi protektorat Jepang. Dengan berbekal legitimasi kesepakatan 1904, Jepang mulai menempatkan penasehat kepolisian, militer, dan kehakiman di Korea bahkan kontrol jaringan komunikasi (pos, telegram, dan telephone) Korea diambil alih pada April 1905.17

Untuk menjalankan pemerintahan Korea dibawah proteksi Jepang, Jepang menempatkan Residen Jendral yang berada langsung dibawah Kaisar Korea. Meski dalam perjanjian Residen Jendral ini hanya berhak memberi nasihat kepada Kaisar dalam masalah diplomasi luar negeri, namun kenyataanya ia juga mengurusi pemerintahan dalam negeri Korea.18

David Brudnoy menggambarkan keterlibatan Jepang dalam memerintah Korea sebagai sesuatu yag positif. Korea adalah negeri yang belum memiliki negara yag matang, sistem peradilannya selalu berada dibawah kekuasaan eksekutif sehingga menyuburkan korupsi di semua tingkat.19 Namun tentu saja, reformasi dan perubahan pemerintahan yag dibawa oleh bangsa asing hanya akan dianggap penindasan bila tidak dibarengi dengan empowerment bangsa tersebut.

Tentu saja Kaisar Gojong tidak menerima perjanjian yang menjadikan negerinya di bawah kekuasaan asing ini. Pada Februari 1906 ia membuat surat kekaisaran yang dimuat oleh Daehan Maeil Sinbo (Harian Korea) untuk menyatakan bahwa ia tidak memberikan persetujuan pada surat tersebut.20 Usahanya tidak berhenti di sini, ia mengirimkan Yi Sang-Sol dan Yi Jun dalam sebuah misi rahasia ke konferensi perdamaian di Den Haag untuk memohon bantuan negara-negara barat. Tentu saja tindakannya ini menyebabkan kemarahan Jepang yang menyebabkan ia dipaksa turun dan digantikan oleh Sunjong yang belum dewasa pada Juli 1907.21

Tanpa ragu-ragu Jepang memperkuat lagi posisinya dalam pemerintahan Korea. Pada 1 Agustus 1907 sebuah kesepakatan baru dibentuk, memberikan kewenangan pada Residen Jendral atas pemerintahan dalam negeri Korea. Kini di tiap kementrian ditempatkan seorang birokrat Jepang sebagai wakil menteri dan sekaligus penasehat. Segera setelahnya Jepang membubarkan angkatan bersenjata Korea dengan alasan penghematan keuangan.22 Dengan ini pemerintahan Korea baik sipil dan militer tidak lain hanyalah sebuah boneka Jepang.

Segera setelah Residen Jendral Hirobumi Ito menguasai pemerintahan Korea ia membawa birokrat-birokrat Jepang untuk melaksanakan administrasi harian Korea. Alasan yang umum diambil adalah kemampuan pegawai Jepang yang dianggap lebih efisien dibandingkan pegawai Korea, selain bahwa Residen Jendral melakukan perluasan birokrasi. Pada 31 Desember 1908 tercatat bahwa pegawai Jepang mencapai 40% dari total 5120 pegawai pemerintah Korea.23

Aparat keamanan yang Jepang dalam pemerintahan Korea amatlah banyak bila dibandingkan dengan yang digunakan di Taiwan. Meski Taiwan tidak memiliki kepolisian dan angkatan bersenjata, Jepang dapat melakukan kemitraan dengan pribumi Taiwan untuk menjaga keamanan.24 Keputusan pembubaran tentara Korea justru menyebabkan maslah keamanan di wilayah pedesaan Korea.

Diantara kebijakan Ito Hirobumi untuk mereformasi masyarakat Korea agar lebih mudah diperintah Jepang adalah melakukan kodifikasi hukum. Untuk itu ia mengundang pakar hukum Jepang, Ume Kenjiro untuk melakukan penelitian praktek hukum populer dan membuat rancangan hukum perdata untk Korea. Usaha ini mendapat tentangan dari publik Jepang yang menginginkan agar Korea dipaksa menerima hukum perdata Jepang. Ume Kenjiro bermaksud membuat kitab hukum perdata yang sesuai dengan kondisi sosial Korea dan mencegah eksploitasi dan konflik pada rakyat Korea. Akhirnya usaha Ume Kenjiro membuat Kitab Undang-undang yang sesuai dengan kondisi sosial Korea sia-sia dengan terbunuhnya Ito Hirobumi pada 1909.25

C. Reaksi Rakyat Korea terhadap Jepang

Kehadiran Jepang di Korea membawa berbagai perubahan yang menginterupsi banyak hal dalam kehidupan Korea. Salah satu pihak yang menentang kehadiran Jepang adalah para sarjana konfusian yang sejak awal memohon ketegasan dari pemerintah dan Kaisar. Pemerintah Korea yang berada di bawah pengawasa Jepang tidak mampu memenuhi permintaan ini. Para cendekiawan konfusian ini akhirnya memilih bunuh diri pada saat Perjanjian Protektorat diumumkan.26

Di pedesaan muncul tentara independen yang dikenal sebagai Tentara Berbudi (Rigtheous Army/Uibyeong). Pada 1906 rakyat jelata yang bergabung dalam Uibyeong berjumlah sekitar 3000 orang namun pada 1907 mereka berjumlah 12 ribu dan hampir mencapai Seoul.27

Jumlah mereka bertambah besar dengan bergabungnya tentara dari angkatan bersenjata yang beru saja dibubarkan dan para cendekiawan konfusian. Namun karena mereka bukanlah tandingan 20 ribu tentara Jepang yang menggunakan perlengkapan lebih lengkap, akhirnya mereka menyebar menjadi satuan-satuan gerilyawan di pedesaan. Mereka aktif terutama di sekitar wilayah utara dan timur Seoul.28

Selain perjuangan bersenjata, agitasi politik seperti yang dilakukan Perkumpulan Kemerdekaan sejak masa awal Gwangmu dilanjutkan kembali pada masa ini. Pada 1905 didirikan Perkumpulan Studi Pemerintahan Konstitusional oleh mantan anggota Perkumpulan Kemerdekaan. Mereka bertujuan membentuk pemerintahan konstitusional berdaulat, namun secara langsung berhadapan dengan Masyarakat Pembaruan (Iljinhoe) yang pro-Jepang. Berbagai organisasi politik serupa seringkali tidak hanya menjadi oposisi Jepang namun juga oposisi pemerintah Korea.29

Berbagai elemen masyarakat Korea lainnya juga menentang Jepang dan Iljinhoe. Cheondogyo (Jalan Langit) pada 1906 mendirikan koran Mansebo (Harian Dirgahayu [Korea]) yang dalam penerbitannya menyerang Iljinhoe. Perserikatan Korea juga membentuk koran serupa pada 1909 dengan nama Daehan Minbo (Penerbit Rakyat Korea). Koran-koran ini meningkatkan kesadaran politik rakyat Korea di bawah pendudukan Jepang.30

Di saat yang sama gerakan perlawanan bersenjata yang tersingkir di Korea menemukan suaka di wilayah Manchuria dan Siberia yang belum dikontrol oleh Jepang. Di sana mereka melanjutkan perjuangannya melawan Jepang.31 Salah satu pejuang kemerdekaan ini adalah An Jung-geun yang memimpin salah satu satuan gerilya di Vladivostok dengan pangkat Letnan Jendral. Pada 26 Oktober 1909 ia melakukan operasi mandiri di Harbin, Tiongkok. Operasi ini berhasil dengan terbunuhnya Ito Hirobumi.32 Pembunuhan ini membawa efek semakin ketatnya kotrol Jepang di Korea.

D. Epilog

Pembunuhan Ito Hirobumi akhirnya memperkuat suara yang menuntut dilakukannya aneksasi terhadap Korea. Menurut Marie Seong-hak Kim, Ito Hirobumi tidak merasa bahwa aneksasi terhadap Korea perlu dilakukan dengan segera.33 Namun pembunuhan yang dilakukan An Jung-geun justru mempercepat sentimen imperial dari Jepang. Pada Mei 1910 Jepang mengirim Terauchi Masatake untuk melaksanakan aneksasi ini.34

Pendudukan oleh Jepang dilakukan secara resmi mulai 22 Agustus 1910, ditandai oleh penandatanganan perjanjian oleh Perdana Mentri Yi Wan-yong. Perjanjian ini kemudian diumumkan oleh Kaisar Sunjong. Dengan ini berakhirlah pemerintahan oleh dinasti Joseon yang telah berkuasa selama 518 tahun.35

_____________

Catatan Kaki

1“History of Korea,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_Korea. Diakses 8 Desember 2015.

2“Korean Empire,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Korean_Empire. Diakses 8 Desember 2015.

3Carter J Eckert dkk, Korea Old and New: a History (Seoul: Ilchokak Publisher, 1990), halaman 231-232.

4Ibidem.

5Ibidem, halaman 233-234.

6Yang Seung Yoon dan Nur’aini Setiawati, Sejarah Korea: Sejak Awal Abad Hingga Masa Kontemporer (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2003), halaman 120.

7“Gwangmu Reform,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Gwangmu_Reform. (diakses 8 Desember 2015)

8Mengenai hubungan antara media cetak (koran, pamflet, dll) dengan nasionalisme dapat dilihat dalam Benedict R.O.G Anderson, Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang (Yogyakarta: Insist Press, 2008)

9Eckert, Korea Old and New, halaman 234.

10Ibidem, halaman 235-236.

11Yang dan Nur’aini, Sejarah Korea, halaman 121.

12“Korean Empire,” Wikipedia.

13Ibidem.

14“Japan-Korea Agreement of August 1904,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Japan-Korea_Agreement_of_August_1904. Diakses 08 Desember 2015.

15Eckert, Korea Old and New, halaman 238.

16Ibidem, halaman 239.

17David Brudoy, “Japan’s Experiment in Korea,” Monumenta Nipponica, Volume 25, Nomor 1/2 (1970), halaman 158.

18Eckert, Korea Old and New, halaman 239-240.

19David Brudnoy, “Japan’s Experiment in Korea,” halaman 155-195.

20Ibidem.

21Yang Seung-yoon dan Nur’aini, Sejarah Korea, halaman 136.

22Eckert, Korea Old and New, halaman 240.

23C.I. Eugene Kim, “Japanese Rule in Korea (1905-1910): A Case Study,” Proceedings of the American Philosophical Society, Volume 106, Nomor 1 (Feb. 15, 1962) halaman 54-56.

24Dennis L Mcamara, “Comparative Colonial Response: Korea and Taiwan,” Korean Studies, Volume 10 (1986), halaman 60.

25Marie Seong-Hak Kim, “Ume Kenjirō and the Making of Korean Civil Law, 1906-1910,” The Journal of Japanese Studies, Volume 34, Nomor 1 (Musim Dingin, 2008), halaman 1-31.

26Eckert, Korea Old and New, halaman 241-242.

27“Righteous Army,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Righteous_Army. Diakses 8 Desember 2015.

28Eckert, Korea Old and New, halaman 242-243.

29Ibidem, halaman 244.

30Ibidem, halaman 245.

31“Righteous Army,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Righteous_Army. Diakses 8 Desember 2015.

32“An Jung-geun,” Wikpedia, https://en.wikipedia.org/wiki/An_Jung-geun. Diakses 8 Desember 2015.

33Marie Seong-hak Kim, “Ume Kenjiro,”

34“Korea Under Japanese Rule,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Korea_Under_Japanese_Rule. Diakses 8 Desember 2015.

35Yang Seung-yoon dan Nur’aini, Sejarah Korea, halaman 134.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s