Nasionalisme dan Industrialisasi Masyarakat Korea

Korea (Selatan) saat ini dikenal sebagai negara industri yang sudah maju. Barang-barang elektronik produksi Korea telah dikenal memiliki kualitas yang memuaskan. Di bidang militer korea juga telah memproduksi sendiri berbagai perangkat kerasnya seperti tank, kapal selam, dan kapal perang. Tak heran bila Korea dikenal sebagai salah satu macan Asia.

Bila ditengok kebelakang, 70 tahun lalu Korea selatan bukanlah negara industri. Jepang membangun Korea Selatan sebagai wilayah pertanian sebagai sumber beras sementara industri dan pertambangan dipusatkan di Utara.1 Perang yang terjadi pada 1950-1953 juga menghancurkan berbagai infrastruktur yang ada.

namdaemun

Perubahan masyarakat menuju masyarakat industri seringkali berbarengan dengan kemunculan nasionalisme. Perubahan ekonomi ini membutuhkan perubahan sosial yang tepat agar dapat menopangnya, selain akan mendorong terjadinya perubahan sosial lagi. Bagaimanakah nasionalisme Korea dan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Korea dalam industrialisasinya?

A.Akar Nasionalisme Korea

Korea memiliki sejarah yang panjang dan unik, memberi identitas mandiri dari bangsa tetangganya. Kisah mitologis pembentukannya dimulai dari Dangun yang mendirikan kerajaan Joseon pertama (Gojoseon) sekitar dua ribu tahun sebelum Masehi. Kisah Gojoseon dan kerajaan-kerajaan penggantinya tercatat dalam Samguk Sagi (ditulis abad 12 M) dan Samguk Yusa (ditulis abad 13 M).2

Kesadaran mengenai identitas ini pada masa pra-modern tidak terbatas pada kalangan elite saja. Hal ini terlihat dengan kemunculan tentara rakyat yang melakukan perlawanan terhadap invasi Jepang abad 16.3 Pada akhir dinasti Joseon (baru) sekitar abad 18-19 rakyat bahkan tertarik dengan ideologi Donghak (Jalan Timur) yang menentang kemunculan agama asing dan menuntut penguatan bangsa dan harkat hidup rakyat.4

Media massa baru muncul di ujung abad 19. Dari Perkumpulan Kemerdekaaan muncul Buletin Perkumpulan Kemerdekaan Joseon Raya yang diterbtkan dalam bahasa Korea dan Inggris. Selain itu sebelum perkumpulan kemerdekaan berdiri, pada 7 April 1896, muncul Dongmin Sinmun (Harian Merdeka) yang diterbitkan dengan bahasa pasar Korea, ia menjadi wadah penyebaran pemikiran liberal barat. Sementara dari kalangan reformis konfusian diwakili oleh koran Hwangseong Sinmun (Harian Ibukota).5 Media massa ini bermunculan terus hingga awal penjajahan Jepang. Berbagai media massa ini turut membentuk watak dan identitas nasioalisme Korea sampai akhirnya dilarang terbit oleh Jepang.

Yang tidak kalah penting dari media dalam membentuk nasionalisme Korea adalah berbagai gerakan politik. Yang paling tua adalah Perkumpulan Kemerdekaan (Dongnip Hyeophoe) yang berdiri 2 Juli 1896. Aktivitas pertama mereka adalah menghancurkan balairung tempat utusan Tiongkok disambut dan kemudian mendirikan Balairung kemerdekaan di atas rerutuhannya.6 Terdapat berbagai perkumpulan dengan aktivitas serupa yang berdiri selama sebelum aneksasi Jepang atas Korea.

Salah satu ide nasioalisme Korea mengenai persamaan hak warga egara baru muncul di akhir era Joseon. Setimen ini ditanggapi pemerintahan Gojong dengan menghapuskan sistem kelas pada 1896.7 Kalangan yangban ini tidak benar-benar kehilangan privilese mereka sampai akhirnya saat Korea diaeksasi Jepang.8

Hal-hal tadi adalah akar dari nasioalisme yang membentuk identitas bangsa Korea. Nasionalisme Korea adalah pendorong yang memodernisasi Korea di masa selanjutnya. Modernisasi pada masyarakat Korea ini bergantung pada watak nasionalisme Korea.

B. Reaksi Terhadap Kolonialisme Jepang

Korea pada pemerintahan Gojong amatlah lemah. Ia tidak mampu mengatasi sendiri negara-negara luar yang ingin menjadikannya koloni. Perang Tiongkok-Jepang melepaskan Korea dari pengaruh Tiongkok, hanya utuk menjadikannya rentan dari Jepang. Gojong sempat meminta bantuan kepada Russia, namun kekalahan Russia pada 1905 menyebabkan Jepang dengan leluasa menjadikan Korea protektoratnya. Posisi Korea sebagai koloni Jepang di tahun-tahun sesudahnya amat mempengaruhi watak Korea.

Tanpa banyak hambatan Jepang menganeksasi Korea pada 1910. Ini menyebabkan para pejuang kemerdekaan Korea lari ke Manchuria da membentuk Dongnipgun (Tentara Kemerdekaan).9 Sementara itu di kalangan sipil gerakan kemerdekaan muncul ke permukaan pada 1919. Pemakama raja Kojong pada 1 Maret dijadikan tanggal dan nama gerakan. Tentu saja Jepang segera membungkam gerakan ini dengan membunuh dan menangkap aktivisnya.10

Dalam pemerintahan Jepang yang represif, para pejuang kemerdekaan membentuk pemerintahan provisional yang bersifat partisipatif. Pemerintah Provisioal Korea membentuk dua cabang pemerintah berdasarkan konstitusinya yaitu Uijongwon (legislatif) dan Gukmuwon (eksekutif).11 Namun posisi mereka sebagai pemerintahan eksil di Shanghai menyebabkan rakayat tidak banyak mengenal organisasi ini.

Jepang telah melakukan banyak hal pembangunan infrastruktur untuk industri dan pertambangan, namun hasilnya tidak dinikmati rakyat Korea. Seluruh perusahaan industri yang beroperasi di Korea dimiliki oleh Jepang sementara usahawan Korea terhambat pajak yag lebih besar daripada pengusaha Jepang.12 Industrialisasi yang dilakukan Jepang tidak mempengaruhi kehidupan bayak masyarakat, hal ini terlihat di awal perang pada 1936 77% penduduk Korea bekerja di sektor pertanian sementara 88% tinggal di pedesaan.13 Penduduk yang terlibat dalam kehidupan industri perkotaan betambah jumlahnya pada masa selanjutnya.

C. Faktor Eksternal Perkembangan Industri

Dengan kekalahan Jepang dalam perang mereka akhirnya meninggalkanKorea. Pertambangan dan industri yang telah dibangun oleh mereka ditinggalkan. Ini menjadi modal bagi negara Korea yang baru terbentuk. Meski tepecah menjadi dua dan sempat terjadi perang, akhirnya Korea Selatan mampu menjadi negara industri.

Salah satu faktor yang mendorong cepatnya industrialisasi adalah adanya modal dari Amerika Serikat dan keinginan dari pemerintah Korea melakukan proteksi. Industri tektil (dan berbagai infrastruktur lainnya) hasil warisan Jepang hancur akibat perang Korea. Namun bantuan keuangan Amerika diberikan tanpa hambatan meskipun Korea melakukan proteksi dan menghambat masuknya investor Amerika.14

Terdapat pula perubahan sosial akibat industrialisasi yang dilakukan Jepang di Korea. Hal ini terlihat dari populasi urban yang mencapai 20% populasi total. Bahkan terdapat ratusan ribu orang Korea yang dipekerjakan di Jepang karena kelangkaan tenaga kerja yang dialami Jepang.15

Pada dekade 1960 bantuan Amerika kepada Korea berkurang. Untuk membuka pasar baru Korea melakukan normalisasi hubungan dengan Jepang. Kini Korea dan Jepang memasuki hubungan yang setara dan Korea membutuhkan modal dan keahlian Jepang untuk melakukan industrialisasi negerinya. Masuknya modal dan teknologi swasta Jepang membawa era baru bagi Korea. Salah satu hasilnya adalah mobil Hyundai yang 10% sahamnya dimiliki Mitsubishi.16

D. Faktor Sosial Internal Korea

Tak dapat dibantah bahwa ada faktor-faktor internal dalam perubahan masyarakat Korea. Seperti telah disebutkan sebelumnya kolonialisme Jepang yang merebut penguasaan lahan telah menyebabkan kelas Yangban kehilangan privilese mereka. Ini menyebabkan hilangnya faktor penghambat industrialisasi dari dalam, bisa dibandingkan dengan Philipina yang gagal melakukan industrialisasi karea para tuan tanah dengan Jepang yang melakukan industrialisasi dalam dua dekade saja.17

Kelas tuan tanah ini mendapat tempat baru dalam masyarakat modern. Para pebisnis Korea adalah keturunan dari para tuan tanah ini. Mereka mampu mentransformasikan modal sosial mereka (koneksi dan pendidikan) kepada peran sosial baru di masyarakat sebagai pekerja kerah putih dan pengusaha.18 Proses ini tidak hanya berlangsung pada masa Korea merdeka. Tiga dari empat chaebol (konglomerat keluarga) teratas Korea telah memulai usahanya sejak era kolonial.19

Sebagian kalangan menilai kemajuan Korea sebagai hasil dari nilai-nilai Konfusius. Namun konfusianisme lebih mementingkan nilai-nilai komunitarian daripada pencapaian individual (yag menjadi kunci sukses industrialisasi barat). Industrialisasi dan perdagangan mungkin dihormati oleh masyarakat karena diprogramkan oleh negara. Pendapat yang lebih halus diajukan Tu Wei Ming yang menyatakan bahwa nilai kemajuan dan modernisasi didukung oleh filsafat neo-konfusian dan telah mengalami internalisasi. Penerimaan terhadap kemajuan adalah konsekuensi tidak terrencana.20 Tampaknya nilai-nilai konfusius yang memandang curiga pada kelas pedagang tidak tertanam kuat di Korea.

F. Kesimpulan

Akar nasionalisme Korea adalah sejarah dan identitas etnis yang tua, pada abad 19 kesadaran kebangsaan ini termanifestasikan melalui Perkumpulan Kemerdekaaan. Berbagai media masa pada awal abad 20 menyebarkan rasa kebangsaan ini.

Korea mengalami revolusi sosial pada abad 20 seiring dengan berjalannya industrialisasi. Perbedaan kelas berdasarkan keturunan hilang, rakyat memperoleh kesempatan penghidupan baru di luar bidang pertanian sementara aristokrasi beralih dalam bisnis dan industri. Nilai-nilai konfusianisme tidak menghambat perubahan sosial ini.

______________

Catatan.

1David Brudnoy, “Japan’s Experiment in Korea,” Monumenta Nipponica, Volume 25, Nomor 1/2 (1970), halaman 182.

2Carter J Eckert dkk, Korea Old and New: a History (Seoul: Ilchokak Publisher, 1990), halaman 103.

3“Righteous Army,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Righteous_Army. Diakses 8 Desember 2015.

4Eckert, Korea Old and New, halaman 187

5Eckert, Korea Old and New, halaman 234.

6Eckert, Korea Old and New, halaman 232-233.

7“Gwangmu Reform,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Gwangmu_Reform. Diakses 8 Desember 2015.

8David Brudnoy, “Japan’s Experiment in Korea,” halaman 168.

9“Korea Under Japanese Rule,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Korea_under_Japanese_rule. Diakses 8 Desember 2015.

10Yang Seung-yoon dan Nur’aini Setiawati, Sejarah Korea: Sejak Awal Abad hingga Masa Kontemporer (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press), halaman 155.

11Yang Seung-yoon dan Nur’aini Setiawati, Sejarah Korea, halaman 158.

12“Korea Under Japanese Rule,” Wikipedia.

13Andrew J Gradzanev, “Korea Under Changing Orders,” Far Eastern Survey, Volume 8, Nomor 25 (20 Desember, 1939) halaman 292.

14Dennis Mcnamara, “Reincorporation and the American State in South Korea: The Textile Industry in the 1950s,” Sociological Perspectives, Volume 35, Nomor 2(Summer, 1992), halaman 329-342

15Eckert dkk, Korea Old and New, halaman 391.

16Eckert dkk, Korea Old and New, halaman 392-393.

17Eckert dkk, Korea Old and New, halaman 399.

18Eckert dkk, Korea Old and New, halaman 400-401.

19Ibidem.

20Eckert dkk, Korea Old and New, halaman 409-411.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s