Sejarah Kerjasama dan Netralitas ASEAN

Asia Tenggara adalah wilayah penting bagi perdagangan dunia sejak masa lampau. Perdagangan dengan India, Persia, Arab dan Tiongkok menjadikanya persimpangan berbagai kebudayaan dunia, tak heran di sini muncul berbagai kerajaan terindianisasi (Indianized Kingdom) yang juga memiliki hubungan politik dengan Tiongkok sejak abad kedua Masehi.1 Perdagangan dan hasil bumi di Asia Tenggara mengundang kolonialisme Eropa sejak abad 15 Masehi. Kehadiran Eropa ini membawa babak baru yang akhirnya mengantarkan ke era negara bangsa modern di abad 20.2

Di era modern ketika masing-masing bangsa sedang bergulat dalam pembangunan nasional muncul inisiatif untuk membentuk kerjasama regional. Untuk menghindari pertentangan yang berujung konflik dibentuklah pernyataan bersama mengenai netralitas. Bagaimana kerjasama regional (ASEAN) dan kebijakan netralitas muncul?

asean-countries

A. Kondisi Umum Asia Tenggara Pada Dasawarsa 1960-an

Asia Tenggara pada dasawarsa 1960-an masih amat terpengaruh oleh kolonialisme. Indonesia baru merdeka 15 tahun sebelumnya, Pemerintah kolonial Inggris di Malaya baru saja menyudahi pemberontakan komunis3, Kamboja dan Laos memperoleh kemerdekaan dari Prancis, sementara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan berada diambang perang.4

Pada dasawarsa ini negara-negara Asia Tenggara masih belum stabil. Thailand, negara yang tidak pernah mengalami kolonialisasi namun pergntian pemerintahan hampir selalu didorong oleh kudeta (kudeta terakhir sebelum dasawarsa 1960an terjadi pada 1957).5 Sementara itu di Indonesia Soekarno baru saja mengkonsolidasikan kekuatan melalui Dekrit 5 Juli 1959 yang menghentikan usaha pembentukan konstitusi baru dan pembubaran parlemen hasil pemilu sebelumnya digantikan parlemen pilihannya. Konsolidasi politik yang dilakukannya justru membawa perpecahan karena manuver-mauver PKI 1960-1965.6 Di Filipina Presiden Macapagal melakukan eksperimennya dengan program reforma agraria. Ia menerima kondisi cukup stabil dengan telah kalahnya pemberontak Hukbalahap pada dasawarsa sebelumnya.7

Tentu saja kondisi Indochina yang berada diambang peperangan tidak dapat dikatakan stabil. Vietnam Utara dapat dengan mudah memasuki Laos untuk membangun basis gerilya melawan selatan. Sementara Kamboja dan Laos belum menjadi negara yang mapan setelah kepergian Prancis 1955.8

B. Wilayah yang Belum Pernah Bersatu

Asia Tenggara mungkin memiliki kesamaan kultural sebagaimana dijelaskan dalam pendahuluan. Namun kesamaan kultural ini tidak membuat wilayah ini memiliki kohesi. Msyarakat pribumi yang terpisah-pisah oleh pegunungan, hutam rimba, dan lautan tidak menyadari kehadiran kelompok di luar kelompoknya.9 Tentu saja kolonisasi Eropa yang membagi wilayah ini dalam bingkai kekuasaan bangsa Eropa juga tidak menjadikan wilayah ini suatu kesatuan.

Asia Tenggara muncul sebagai suatu wilayah dari kebutuhan sekutu dalam perang dunia II untuk membentuk komando Asia Tenggara (South East Asia Command). Perang dingin yang terjadi sesudahnya memunculkan kebutuhan Amerika dan sekutunya untuk membangun organisasi perjanjian keamanan Asia Tenggara (SEATO) pada 1954.10 Tampaknya negara-negara Asia Tenggara yang masih muda mau tidak mau hanya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi politik global yag ada.

Inisiatif dari dalam baru muncul pada 1961 ketika Malaya yang masih merupakan koloni Inggris mengajak Thailand dan Filipina untuk membentuk ASA (Association of Southeast Asia).11 Organisasi ini menyemai bibit kerjasama regional, namun konfrontasi Indonesia-Malaysia menghambat hal ini.

C. Hubungan Antar-Negara yang Dipenuhi Ketegangan

Kerajaan Siam (Thailand) adalah salah satu kerajaan di Semenanjung Asia Tenggara yang pernah menjadi hegemon di masa lalu. Ketika terjadi perang Indochina I (Prancis melawan Vietnam) Thailand khawatir konflik ini akan meluas ke wilayahnya. Mereka tidak mengkhawatirkan masuknya pengaruh komunis atau pemberontakan Partai Komunis Thailand tetapi mereka mengkhawatirkan pemberontakan etnis-etnis minoritas (salah satunya etnis Viet). Thailan kemudian bekerjasama dengan Amerika dan mengijinkan wilayahnya menjadi basis sebagian operasi Amerika di Vietnam dan Laos.12 Tentu saja ini menimbulkan antagonisme negara-negara Indochina yang terpengaruh komunis, terutama Vietnam.

konfrontasi

Konfrontasi Indonesia-Malaysia menghambat kerjasama Asia Tenggara. Gambar: Pasukan komando Indonesia ditangkap aparat Malaysia.

Indonesia dan Malaysia memiliki masalah lebih berat. Soekarno berusaha menghalangi usaha Malaya dan Borneo untuk menjadi suatu federasi dengan nama Malaysia karena memandangnya sebagai usaha Inggris untuk menancapkan pengaruhnya di Asia Tenggara. Sebuah kompromi didapat melalui konferensi Malaysia-Indonesia-Flilipina pada Juli-Agustus 1963, Akan diadakan jajak pendapat penduduk Sabah dan Serawak mengenai federasi dengan Malaysia. Namun akhirnya pembentukan Malaysia diumumkan pada 16 September 1963 tanpa menyelesaikan jajak pendapat tersebut.13

Tanpa menghiraukan kedaulatan Malaysia, PKI melakukan protes besar-besaran atas hal ini. Malaysia segera memutus hubungan diplomatiknya pada 17 September dan empat hari kemudian Indonesia memutus semua hubungan dengan Malaysia (yang merupakan tujuan hampir separuh ekspor Indonesia). Maka sepanjang tahun 1964-1965 terjadi beberapa infiltrasi dan kontak senjata antara Indonesia-Malaysia.14

Prospek kerjasama regional pada masa ini tampak suram. Bahkan antara Malaysia dan Filipina yang masih tergabung dalam ASA juga terdapat potensi konflik akibat klaim Filipia atas Sabah. Usaha menuju kerjasama regional baru muncul kembali setelah terjadi perubahan rezim di Indonesia.

D. Pembentukan ASEAN

Kudeta pada 1965 di Indonesia menyebabkan popularitas Soekarno jatuh dan kekuasaan beralih ke Soeharto sebagai pelaksana Jabatan Presiden. Konfrontasi dengan Malaysia segera diakhiri dan hubungan luar negeri Indonesia memiliki wajah baru. Thailand memandang perlu segera membawa Indonesia kembali dalam kerjasama regional Asia Tenggara. Namun pemerintahan Tunku Abdul Rahman masih ragu menerima Indonesia. Apalagi Indonesia masih memberikan syarat jajak pendapat di Borneo untuk normalisasi. Atas mediasi Thailand dilakukanlah diskusi untuk normalisasi pada Mei-Juni 1966. Akhirnya Indonesia menerima normalisasi hubungan tanpa syarat. Pada bulan Agustus15

Thailand berinisiatif meningkatkan hubungan kerjasama lebih erat antara negara-negara Asia Tenggara. Seperti diingat Thanat Khoman:

At the banquet marking the reconciliation between the three disputants, I broached the idea of forming another organization for regional cooperation with Adam Malik. Malik agreed without hesitation but asked for time to talk with his government and also to normalize relations with Malaysia now that the confrontation was over. Meanwhile, the Thai Foreign Office prepared a draft charter of the new institution. Within a few months, everything was ready. I therefore invited the two former members of the Association for Southeast Asia (ASA), Malaysia and the Philippines, and Indonesia, a key member, to a meeting in Bangkok. In addition, Singapore sent S. Rajaratnam, then Foreign Minister, to see me about joining the new set-up. Although the new organization was planned to comprise only the ASA members plus Indonesia, Singapore’s request was favorably considered.”16

Komentar S Rajaratnam bahwa “dua dekade nasionalisme belum membawa peningkatan kesejahteraan rakyat Asia Tenggara”17 menunjukkan bahwa niat utama pembentukan ASEAN adalah untuk kerjasama dalam pembangunan ekonomi. Namun kenyataan bahwa ke lima pendirinya adalah negara anti-komunis mengisyaratkan kekhawatiran bersama negara-negara tersebut akan komunisme.

E. Kerjasama dan Netralitas Asia Tenggara

Kehadiran ASEAN sebagai kerjasama negara-negara non-komunis di Asia Tenggara menjadi pendukung kepentingan AS tanpa intervensi AS.18 Namun memasuki dasawarsa 1970an tampak bahwa negara-negara ASEAN tidak dapat menggantungkan diri pada AS yang mengalami kesulitan di Vietnam. Negara-negara ASEAN memilih untuk menelurkan rumusan kebijakan bersama baru di kawasan ini.

Kebijakan pertama adalah deklarasi Zona Perdamaian, Kebebasan, dan Netralitas (Zone of Peace, Freedom and Neutlrality/ZOPFAN) pada 1971. Deklarasi ini menyatakan bahwa negara-negara yang menyepakatinya harus mengusahakan suatu kawasan netral yang bebas konflik. Tun Ismail bin Dato Abdul Rahman dari Malaysia menjelaskan bahwa deklarasi ini menyatakan bahwa Asia Tenggara bukanlah wilayah untuk dibagi-bagi dalam lingkar pegaruh negara adidaya tertentu.19

Untuk mewujudkan hal ini, Thailand sebagai negara garis depan yang terpengaruh konflik Indochina mengajukan usulan konferensi seluruh negara Asia Tenggara hanya dua minggu setelah unifikasi Vietnam. Adam Malik mengajukan bahwa untuk mengajak negara-negara baru maka diperlukan ketahanan (resilience) dari negara-negara pendiri ASEAN. Sebagai kerangka perwujudan ZOPFAN dan usaha meragkul seluruh negara Asia Tenggara maka pada 1976 dirumuskanlah Perjanjian Persahabatan dan Kerjasama (Treaty of Amity dan Cooperation). TAC ini menjadi kerangka dalam hubungan antar-negara ASEAN.20

F. Perjalanan Kerjasama ASEAN

Hubungan antar bangsa setelah munculnya TAC tidak selalu berjalan mulus. Kudeta Khmer Merah memicu intervensi oleh Vietnam yang menyebabkan terjadinya Perang Indochina III pada 1978. Negara-negara ASEAN menerima beban ratusan ribu pengungsi dan usaha kerjasama, perdamaian, dan netralitas yang diajukan terancam oleh keharusan berpihak dalam menyelesaikan konflik ini. Negara-negara Indochina juga menghadapi kenyataan bahwa wilayah mereka rentan atas pemberontakan kelompok-kelompok yang menjadi proxy Tiongkok.21

h_4_ill_639759_cambodia-phnom_penh-1979-61

Perang Vietnam-Kamboja adalah ujian bagi perdamaian dan netralitas ASEAN.

Meski menghadapi kesulitan-kesulitan ini prinsip yang diberikan TAC memberikan kerangka dalam penyelesaian konflik tersebut. Prinsip pengakuan kedaulatan memberi rasa aman bagi negara-negara Indochina (Kamboja, Laos, dan Vietnam) bahwa konflik serupa tidak akan terulang. Pada akhirnya Vietnam menerima TAC dan masuk dalam ASEAN pada 1995 sementara Laos 1997. Kamboja dijadwalkan masuk bersamaan dengan Laos namun tertunda oleh masalah domestiknya.

G. Penutup

Asia Tenggara sebelum terbentuk ASEAN adalah wilayah yang belum stabil karena pemerintahan dalam negeri yang belum kuat dan sengketa antar negara. Kerjasama 5 negara non-komunis (Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Filipina) memberi kerangka kerjasama ekonomi dan penyelesaian sengketa. Untuk membangun perdamaian dan netralitas negara-negara anggota ASEAN merumuskan TAC sebagai kerangka hubungan damai antar negara. Prinsip yang ada dalam TAC menjadi petunjuk dalam penyelesaian konflik di Asia Tenggara.

================

Catatan Akhir:

1George Coeddes, Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010)

2M.C. Ricklefs dkk, Sejarah Asia Tenggara: Dari Masa Prasejarah Sampai Kontemporer (Jakarta: Komunitas Bambu, 2013), halaman 173-592.

3“Malayan Emergency,” Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Malayan_Emergency, diakses 13 Desember 2015.

4“First Indochina War,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/First_Indochina_War, diakses 13 Desember 2015.

5Hal ini tergambar dari daftar Perdana Menteri Thailand dan kudeta/pemerintahan militer yang menyelinginya “List of Prime Minister of Thailand,” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Prime_Ministers_of_Thailand, diakses 13 Desember 2015.

6Lihat MC Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (Yogykarta: Gadjah Mada University Press, 1985), halaman 373-389.

7“History of the Phillippines (1946-1965),” Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Philippines_(1946-1965), diakses 13 Desember 2015.

8MC Ricklefs dkk, Sejarah Asia Tenggara, halaman 649-659.

9Seong Min Lee, “ASEAN: brief history and its problems,” Zentrale für Unterrichtsmedien, http://www.zum.de/whkmla/sp/0607/seongmin/seongmin.html. Diakses 13 Desember 2015.

10Donald K Emmerson, “”Southeast Asia”: What’s in a Name?,” Journal of Southeast Asian Studies, Volume 15, Nomor 1 (Maret, 1984), halaman 6-11.

11Ibidem.

12William S. Turley, The Second Indochina War: A Concise Political and Military History (Maryland: Rowman & Littlefield Publishers, 2008), halaman 248

13MC Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, halaman 413-414.

14Ibidem, halaman 414-417.

15Joseph Liow Chin Yong, “Visions of Serumpun: Tun Abdul Razak and the golden years of Indo—Malay blood brotherhood, 1967–75,” South East Asia Research, Volume 11, Nomor 3 (November 2003), halaman 329

16Jamil Maidan Flores and Jun Abad, “The Founding of ASEAN,” ASEAN, http://www.asean.org/asean/about-asean/history/. Diakses 10 Desember 2015.

17Ibidem.

18Allen Goodman, “Vietnam and ASEAN: Who Would Have Thought it Possible?,” Asian Survey, Volume 36, Nomor 6 (Juni, 1996), halaman 592.

19M.C. Abad, The Role of ASEAN in Security Multilateralism, ZOPFAN,TAC and SEANWFZ, makalah dalam ASEAN RegionalForum Professional Development Programme for Foreign Affairs and Defence Officials, Bandar Seri Begawan 23-28April2000

20Ibidem

21Sheldon W Simon, “China, Vietnam, and ASEAN: The Politics of Polarization,” Asian Survey, Volume 19, Nomor 12, (Desember, 1979), halaman 1171-1188.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s