Teruntuk Kakanda Fahri Hamzah

Kakanda Fahri Hamzah, saya kenal kakanda sebagai seorang politisi kuat PKS. Ucapan kakada layaknya menabur angin, yang kemudian membawa badai. Namun entah ada angin apa tiba-tiba saya melihat posting berikut;

fahri_hamzah

#‎AgarKauTahu‬

Kami adalah orang-orang pergerakan…kami bukan pemburu jabatan

Kami adalah prajurit. Itulah cita-cita kami. Kami bukan hamba dunia yang fana ini

Kalau ada yang ingin jabatan ini ambillah, tapi karena ini jabatan publik ada caranya

Jabatan ini bukan milikku pribadi. Aku tak bisa memberimu seperti memberi sepotong roti

Dan aku malu bicara begini, seolah kau tak mengerti. Tapi mengapa kau tak mengerti?

Tentang bicara ku…Kenapa bicara dianggap masalah? Bukankah aku tidak pernah mencuri?

Kalau aku pencuri dan korupsi apakah mungkin aku punya nyali?

Kenapa yang bicara kau persoalkan. Kenapa bukan yang diam?

Jika aku punya banyak cacat apa mungkin aku berani angkat mukaku di depan rakyat?

Kenapa yang bersikap jadi masalah. Kenapa bukan yang tidak punya sikap?

Aku membolak balik konstitusi ku dan ternyata aku dipilih untuk benyanyi!

Kenapa kau sakit hati oleh suaraku yang berusaha mewakili suara-suara hati yang kuwakili?

Kami orang pergerakan…sejak awal kami bergabung dengan barisan para pemberani

Aku pernah melintas malam di jakarta ketika tragedi Trisakti…seorang diri…

Kami bergabung dengan kaum pergerakan di bawah ancaman dan intimidasi

Kami menggeliat di bawah ruang gelap di antara pengintaian negara dan para preman

Kami pegang kebenaran meski seorang diri. Kami tak peduli.

Sejak awal kami bernyanyi dengan semboyan bahwa mati sebagai saksi, adalah cita-cita kami tertinggi.

Lalu sekarang kenapa banyak yang takut mati?

Untuk kebenaran aku telah tidak peduli…kebenaran itu harga mati. Sopan santun itu soal rasa

Orang memaki-maki dan mereka lupa bahwa mereka sedang menghapus aku punya dosa

Orang lupa bahwa memuji jauh lebih mudah daripada memberi catatan

Dan kritik lebih berisiko daripada basa-basi

Tapi apakah bisa sebuah peradaban berdiri di atas basa-basi?

Telah kutelan semua yang pahit. Telah kujawab semua yang sulit.
Telah kusimpan semua yang sakit.

Di sini kita berteduh bersama saudara…membangun diri dan membangun keluarga

Dan Semua bermula dari cita-cita..kita semua memulai dengan bismillah…

Niat kita akan menjaga barisan…menjaga shaf kita agar kuat dan mantap

Mari jaga kesucian niat kita karena nanti ia dihisab

Selamat tidur kawan…
Jagalah mimpimu agar tetap indah..

Hingga ia menjadi kenyataan kelak

Dari twitter @fahrihamzah, 10/01/16

Ada apa gerangan wahai kakanda? Adinda memang sudah tak banyak merunut berita politik nasional akhir-akhir ini. Seringkali ramai kemudian surut tanpa ending yang memuaskan, bosanlah saya yang attention span-ya amat pendek. Kerana adinda peduli, maka adida putuskan bertanya pada google.

Rupa-rupanya Kakanda digoyang oleh partai sendiri.

Waah, Kakanda. Ada satu hal yang menggelitik hati adinda. Di sekeliling keberanian dan keyakinan yang Kakanda pegang, adakah semuanya sudah dibingkai dalam muhasabah?

Masih ingatkah ketika Kakanda berkata  “Sembilan tahun mengacak-acak lembaga dan semua orang tapi korupsi tidak bisa dihentikan,” Sudahkah Kakanda memikirkan ulang kata-kata Kakanda ini? Kata-kata ini berimplikasi bahwa mereka yang dicurigai korupsi tidak perlu diselidiki oleh KPK agar mereka dapat terus menjalankan tugas kenegaraan.

fahrihamzah1

Tentu saja pernyataan Kakanda menyakiti hati banyak kalangan. Banyak yang memandang bahwa ketika itu Kakanda hanya membela partai Kakanda karena pemimpinnya sedang tersandung kasus. Adinda hanya dapat berbaik sangka bahwa Kakanda memang berharap KPK tidak diperlukan lagi di Indonesia yang bebas korupsi. Namun bolehkan adinda berpendapat lain?

Kakanda, tentu Kakanda menganggap diri Kakanda sebagai insan pergerakan. Dalam pasang-surut pergerakan ini Kakanda sebagai prajurit pergerakan tentunya memiliki pemimpin. Adakah Kakanda lupa peran pemimpin dan prajurit? Saat ini Kakanda sedang diminta muhasabah oleh pemimpin Kakanda.

Kakanda mungkin merasa telah gigih berjuang mengutarakan kebenaran, namun apakah ukuran kebenaran tersebut? Bila memang Kakanda telah memegang teguh kebenaran, maka kembalikanlah semuanya pada Allah. Namun bila orang di sekeliling Kakanda mengingatkan Kakanda, salahkah mereka?

Bilamana Kakanda justru dengan angkuh berkata “Kalau karena kita mengatakan kebenaran seluruh dunia membencimu… Biarlah!!” bukankah ini berarti Kakanda menolak saudara-saudaramu dan menganggap mereka bagian dari musuh?

Wahai Kakanda, adinda hanya meminta Kakanda untuk menunjukkan kerendahan hati menghadapi fitnah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s