Sejarawan Kita Tidak Kemana-mana

Tiga hari lalu saya me-reblog tulisan Ulil Abshar Abdalla mengenai sejarawan Indonesia. Di sana ia mengungkapkan kegundahannya karena ada banyak hal yang belum tergali dalam sejarah Indonesia.

library-922998_960_720

Kegalauan serupa pernah pula muncul di kalangan akademisi sejarah Indonesia. Adalah Profesor Bambang Purwanto yang dengan lantang mempertanyakan “adakah historiografi Indonesiasentris gagal?” Di sana beliau menjabarkan masih banyak hal yang perlu digali dalam penulisan sejarah Indonesia untuk dapat berbangga bahwa historiografi kita telah hidup.

Di esaynya Ulil mengungkapkan bahwa sejarawan Indonesia perlu menggali masa-masa awal abad 20. Masa ketika nasionalisme atau ke-Indonesiaan baru terbentuk. Ulil menekankan perlunya eksplorasi era ini karena berbagai ‘fiksi; yang membentuk imaji kita akan ke-Indonesiaan pastinya mempengaruhi cara kita memandang masa depan bangsa ini.

Tapi tunggu dulu mas Ulil. Mari kita tengok sekeliling kita.

Dalam ritual konsumerisme awal tahun ini saya baru saja membeli 4 buku. Salah satunya mengenai perubahan di Istana Mangkunegaran, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Disamping terbitan KPG yang ‘serius’ saya melihat justru terbitan Elex yang lebih ‘pop history‘ secara berurutan dipajang di rak-rak toko buku Gramedia.

togamas-affandi-jogja-3-www-facebook-com_

Kalau yang ini Togamas, tempat kemarin saya mborong buku.

Kalau boleh saya jujur berkata, memang tampaknya ada perbedaan selera antara massa, akademisi, dan aktivis macam sampeyan. Massa kebanyakan memandang sejarah adalah peristiwa besar macam perang atau mengenai orang-orang besar. Maka penerbit menyediakan modal untuk menerbitkan buku ini.

Di lain sisi akademisi yang berkeinginan menulis sejarah sebagaimana terjadi sadar bahwa jika ingin karyanya terbit haruslah memiliki daya tarik tertentu. Karena memiliki daya tarik budaya mengenai Mangkunegaran maka buku bapak Wasino diatas pun dapat terbit. Lain lagi cerita mengenai berbagai disertasi sejarawan Indonesia lainnya.

Nah, di tengah kondisi tragis itu mari kita kembalikan lagi bila tiada sponsor dan tiada minat dari rakyat kebanyakan, akankah tulisan baru mengenai era kemunculan nasionalisme Indonesia itu akan terbit? Hasil penelitian tersebut bila beruntung mungkin aka dipublikasikan dalam jurnal, tidak panjang-lebar dalam buku.

sejarawan-barat-sebut-alquran-sudah-ada-sebelum-zaman-nabi-muhammad

Namun memang kita semua terus berharap akan muncul karya yang dapat memuaskan syahwat intelektualitas kita. Bila anda mengharapkan hembusan angin baru nasionalisme, saya mengharapkan ada sejarawan yang seperti Peter Boomgard: membahas kemakmuran rakyat melalui legenda mengenai nyi Blorong & tuyul!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s