Menengok Presiden-Presiden Radikal Eko Prasetyo

DSC00765a

Eko Prasetyo adalah penulis yang kelewat produktif. Seri “Orang Miskin Dilarang…” adalah sekian buku diantara karyanya yang mengukuhkannya sebagai pamfleteer populis Indonesia abad ini. Kali ini saya akan menyinggung bukunya “Inilah Presiden Radikal.” Kali ini bukan berupa review tapi saya akan membahas keempat orang yang disebutnya “Presiden Radikal” setelah hampir 10 tahun bukunya terbit.

Memang sewaktu zaman masih muda dulu saya terpesona dengan retorika populis Eko Prasetyo. Dengan umur yang bertambah, data yang masuk makin banyak. Salah satunya adalah mengenai bagaimana para “presiden radikal” ini duduk di konstelasi politik negerinya masing-masing. Ndak usah lama-lama, mari bahas satu-persatu warisan para “presiden radikal” tersebut! (urutannya ndak sesuai buku)

  1. Fidel Castro

Castro adalah seorang revolusioner pujaan pemuda-pemuda kiri. Bersama Ernesto ‘Che’ Guevara ia memenangkan Revolusi Kuba dan mendepak pengaruh Amerika dari Kuba. Castro kemudian melakukan program reforma gararia untuk menyingkirkan praktek penindasan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan. Dengan menjadikan Kuba negara sosialis ia membuat program sosial kesehatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat Kuba.

Secara umum pemerintahan Castro tidaklah buruk, meski begitu kita harus melihat kenyataan ekonomi Kuba bergantung pada bantuan Uni Soviet. Oleh karena itu ketika Soviet ambruk kita menyaksikan ekonomi Kuba terseret jatuh sepanjang dasawarsa 1990an. Castro kemudian membuka turisme, industri kesehatan, dan bioteknologi untuk menopang ekonomi Kuba. Ekonomi Kuba membaik setelah pada dasawarsa 2000an mendapat rekan se-ideologi: Hugo Chavez dari Venezuela.

Secara umum kepemimpinan Fidel Castro yang tidak berkompromi dengan Amerika Serikat amatlah patut dipuji. Di sisi lain ketidakmampuan ekonomi Kuba menjalankan program sosialis yang benar-benar menyejahterakan rakyat adalah nilai merahnya. Meski begitu ia turun dengan damai dari posisinya dan menyerahkan tampuk kepemimpinan pada adiknya, Raul.

  1. Hugo Chavez

Ia adalah Presiden yang menjanjikan perubahan, dan benar-benar membawakannya untuk rakyat Venezuela.Ia memberikan program sembako murah, apartemen gratis, dan berbagai hal lainnya. Dengan teguh ia berani menentang Amerika Serikat. Kudeta dan berbagai usaha oposisi untuk menjatuhkannya gagal karena popularitasnya. Minyak adalah modal utama Venezuela. Ekonomi Venezuela pada medio 2000an menggembung dengan naiknya harga minyak dunia. Chavez dengan mudah menjalankan program-programnya.

Kekuatan ekonomi Venezuela kini menjadi masalah baginya. Harga minyak anjlok setelah Amerika memilih menaikkan produksi dalam negeri, mengurangi permintaan minyak luar negeri. Chavez memiliki popularitas amat kuat, namun setelah kematiannya penggantinya, Maduro, tidak dapat berbuat banyak. Dengan korupsi dan kriminalitas yang tidak pernah teratasi, kelangkaan sembako menjadikan pemilih Venezuela memilih partai oposisi. Kini apa yang akan dilakukan Maduro?

Bergantung pada satu komoditas memang riskan. Hal yang jarang disadari peguasa adalah minyak bumi adalah modal untuk membangun kemandirian, bukan jalan pintas membeli kesejahteraan.

  1. Mahmoud Ahmadinejad

Seorang guru sederhana dari pinggiran. Ia tetap memilih hidup sederhana meski terpilih sebagai Presiden. Pada masanya tidak banyak yang dapat kita keluhkan, Iran adalah negara yang kuat meski diembargo oleh Amerika. Ia dengan keras menentang dominasi Amerika dan berusaha untuk meningkatkan kemandirian energi Iran dengan berusaha mendapatkan teknologi nuklir.

Namun dibalik kesederhanaan Ahmadinejad kita menemui kenyataan lain mengenai politik Iran. Ahmadinejad adalah politisi dari klik di luar Rahbar. Pemerintahannya diwarnai berbagai demonstrasi berbagai kalangan yang menentangnya. Kalangan liberal tidak menyukai warna ketaatan yang dibawanya. Di lain pihak klik Khamenei tidak membiarkan Ahmadinejad menggerus kekuatannya. Pada akhirnya Ahmadinejad turun dari jabatannya dengan tidak banyak meninggalkan warisan.

Di luar ia menentang Amerika, di dalam ia menentang Rahbar. Absolute madman.

  1. Evo Morales

Dari seorang penggembala, petani koka, hingga menjadi Presiden. Evo Morales adalah contoh seorang penduduk pribumi yang tidak banyak terpengaruh budaya Spanyol menjadi pemimpin negara Amerika Latin. Ia memajukan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat Pribumi. Penggunaan koka non-narkotik digalakkan untuk memberi alternatif penghidupan bagi petani koka.

Kepemimpinannya cukup sadar dengan kenyataan politik dan ekonomi, kebijakan dan reformasinya berusaha menggandeng berbagai elemen masyarakat. Namun pemerintahannya bukan tanpa kebijakan konyol seperti kewajiban penyiaran acara pro-LGBT atau kabinet dengan 50% wanita (just for the sake of it). Hingga kini Morales masih memimpin Bolivia, dan tidak ada tanda kemunduran ekonomi dan politik Bolivia di tangannya.

DSC00770a

Enjoy my disembodied hand.

Demikian ringkasan saya mengenai para Presiden yang didaulat oleh Eko Prasetyo sebagai ‘presiden radikal.’ Silahkan anda mencari lagi tentang mereka bila sulit mempercayai Eko Prasetyo ataupun saya (yang cuma nulis blog). Niscaya anda akan menemui berbagai hal yang tidak seindah dongeng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s