Imlek, Tahun Baru, dan Kalender

Di libur imlek (Tahun Baru Tionghoa) saya sempat kepikiran: kalau perayaan tahun baru itu tradisi umat sebelah yang haram bagi muslim merayakannya, bagaimana dengan imlek?

liong-berita-jogjaTentu saja haram jawabnya. Namun ini membawa saya ke pertanyaan berikutnya: adakah muslim (Indonesia) lupa hubungan penanggalan, tradisi, dan perubahan musim?

Saya ndak komentar mengenai fatwa yang akan keluar dari masing-masing pihak yang merasa berwenang lho, jadi jangan keburu nafsu bawa ini ke ranah itu yagh.

Di Eropa yang mengalami empat musim, budaya pagan mereka amat terkait dengan ritme alam dan ritme pertanian. Orang-orang Germanik memiliki perayaan musim dingin yang dikenal sebagai Yuletide. Budaya pertanian mereka erat berkelindan dengan agama pagan. Agama kristen yang datang belakangan bagi orang-orang Germanik memilih mengkooptasi tradisi ini sebagai natal, dan ritme merekapun tidak banyak berubah. Lihat saja bagaimana orang Swedia di kota Gavle membuat kambing dari jerami tiap menjelang natal dan tahun baru.

Lalu apa hubungannya dengan tahun baru? Jangan lupa bahwa dalam kalender yang digunakan Eropa barat tahun baru terjadi seminggu setelah natal. Posisi matahari dan musim tetap sama dari tahun ke tahun, bahkan bila itungan tahun kurang pas dengan revolusi bumi, maka harus ada koreksi. Oleh karena itulah kita mengenal tahun kabisat.

Nah, bila melihat pengalaman Eropa anda bisa melihat bahwa apapun agama mereka, tradisi perayaan tahun baru pada puncak musim dingin tetap mereka lakukan. Tradisi ini dapat berlepas dari unsur agama. Bahkan bangsa Amerika memiliki tradisi serupa yang tidak ada hubungannya dengan agama: Thanksgiving yang dilakukan di akhir musim gugur.

Berbeda dengan Eropa yang memilih tahun barunya pada puncak musim dingin, Tiongkok merayakan tahun barunya pada awal musim semi. Tentu saja agama rakyat Tionghoa meresepkan berbagai macam ritual untuk dilakukan menjelang tahun baru ini. Sama seperti agama pagan Eropa, agama tradisional Tiongkok berkelindan erat dengan kebudayaan dan tradisi Tiongkok.

Maka kita bertanya: dapatkah tradisi dan budaya ini dipisahkan dari agama sebagaimana pengalaman Eropa? Ketika Kristen sebagai agama universal datang mereka mengakulturasi budaya setempat dan memberi nilai baru bagi perayaan lama. Adakah ini dapat dilakukan terhadap imlek?

Nah, di awal saya menyebut bahwa muslim (Indonesia) lupa hubungan penanggalan dengan perubahan musim. Apa pasal?

Pada awalnya orang-orang Arab menggunakan kalender lunisolar. Sistem penanggalan ini menggunakan pengamatan pada bulan dan matahari sekaligus, berbeda dengan penanggalan Barat yang hanya menggunakan acuan pada matahari. Sistem kalender ini masih digunakan oleh orang Yahudi dan orang Tionghoa dalam kalender mereka. Untuk membuat agar ritme Bulan dan Matahari hampir sama digunakan bulan tambahan (interkalar).

Karena perselisihan diantara suku-suku Arab dalam penentuan bulan tambahan, maka kalender Islam tidak menggunakan bulan tambahan ini. Ini menyebabkan kelender Islam semata-mata terjadi dalam hitungan saja. Nah, kebetulan sekali umat Islam di Indonesia hanya menerima kalender ini sebagai hitungan hari saja tanpa dapat mengasosiasikannnya dengan ritme tahunan.

Bila saja umat Islam di Indonesia mafhum bahwa Imlek bisa dipisahkan dari agama rakyat Tionghoa, maka muslim Tionghoa di Indonesia dapat merayakan Imlek dalam kerangka baru. Misalnya bisa saja Imlek diasosiasikan dengan musim penghujan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s