Lupercalia dan Valentine’s Day

Saat ini di dunia media sosial banyak yang mendapat status selebritis. Contohnya adalah pemilik akun banyubiru yang beru-baru ini membuat ramai media karena membocorkan pengangkatannya sebagai penasehat Badan Intelejen Negara. Banyak pula yang menjadikan media sosial sebagai alat untuk melakukan dakwah. Salah satu selebritis media sosial tersebut adalah Felix Siauw yang memiliki pengikut 1,6 juta lebih di twitter1 dan akunnya di facebook disukai 3,3 juta akun.2

CaesarRefusesTheDiademRidpathdrawing

Felix Siauw adalah bagian dari Hizbut Tahrir Indonesia, hal ini diakuinya sendiri dalam situs pribadinya.3 Dari pengalaman pribadi penulis, Hizbut Tahrir amat sering menggunakan bahasa unrefined (kurang halus) namun menggugah sentimen. Seringkali menggunakan fakta yang kurang tepat. Hal ini juga tercermin dalam tulisan-tulisan Felix Siauw, salah satunya adalah dalam kuliah tweet yang dilakukan 3 tahun lalu mengenai perayaan Valentine.

Dalam kuliah tweet ini Felix Siauw mengecam perayaan Valentine yang disebutnya berasal dari perayaan pagan Lupercalia. Perayaan pagan ini adalah perayaan dalam rangka kesuburan, oleh karenanya ia diisi oleh aktivitas sex dan mabuk-mabukan. Kedatangan Kristen tidak dapat menghapuskan tradisi ini oleh karenanya Paus Gelasius I memulai tradisi perayaan Valentine sebagai penggantinya. Kini hari Valentine pada 14 Februari diidentikkan dengan cinta dan sex.4

Dengan membuka wikipedia kita bisa mendapati bahwa festival Lupercalia tidaklah seperti yang digambarkan oleh Felix Siauw dalam kultwit-nya tersebut. Dalam festival ini dua orang pemuda mengenakan kulit kambing sebagai cawat, kemudian mereka berlari dan mencambukkan kulit kambing pada mereka yang menghalangi jalannya. Para wanita dengan sukarela membiarkan dirinya dicambuk agar lancar dalam melahirkan atau mudah memiliki anak. Hubungan antara festival ini dengan perayaan Valentine juga dibantah beberapa ahli.5

Tentu saja kita hendaknya tidak hanya menggunakan wikipedia untuk mengambil kesimpulan akhir. Meski penulis memiliki keterbatasan dalam bahasa Latin sehingga tidak dapat mengakses sumber primer, terdapat banyak ahli era klasik yang menerbitkan hasil penelitiannya dalam bahasa Inggris. Oleh karena itu penulis yakin bahwa kesenjangan antara kultwit Felix Siauw dan artikel wikipedia tersebut akan dapat dilihat kebenarannya.

Tulisan ini akan berusaha mengoreksi kultwit Felix Siauw dengan berfokus pada pertanyaan berikut yaitu:

a. Apa yang dilakukan dalam festival Lupercalia di Romawi Klasik?

b. Adakah hubungan festival ini dengan perayaan hari Santo Valentine modern?

c. Dari mana perayaan hari Santo Valentine modern berasal?

Melalui studi ini penulis berharap kebingungan akan Lupercalia dan hubungannya dengan perayaan Valentine akan hilang.

A. Lupercalia

Bila dibandingkan dengan unsur-unsur budaya Romawi lainnya, pengetahuan mengenai festival Lupercalia amatlah minim. Bahkan asal-usul kata lupercalia sendiri bukanlah dari bahasa latin,6 menunjukkan bahwa festival dan ritual ini lebih tua daripada peradaban Romawi itu sendiri. Hal ini juga tergambar dalam komentar Cicero yang menyebut Lupercalia sebagai suatu ritual “sejak sebelum peradaban dan hukum.”7

Terdapat anggapan yang menyatakan bahwa para Luperci melakukan tindakan amoral.8 Namun secara umum hal ini bukanlah hal yang dilakukan dan diketahui masyarakat umum maupun menjadi bagian utama ritual Lupercalia.

Di muka publik unsur utama festival Lupercalia adalah pengurbanan dua ekor kambing dan seekor anjing. Dua orang pemuda terpilih kemudian wajahnya diolesi dengan darah kurban tersebut. Kedua pemuda ini harus tertawa saat ini dilakukan. Mereka kemudian berlari dan memukul gulungan kulit kambing tersebut pada kerumunan yang menghalangi mereka. Para wanita yang terkena sabetan ini akan menjadi subur.9 Bila membaca naskah-naskah Plutarchus maka kita akan mendapati bahwa Luperci menyabet siapapun yang menghalangi (bukan hanya wanita), Daubner mengatakan bahwa pada awalnya mungkin tidak hanya wanita yang disabet namun kemudian hanya wanita yang bersedia disabet.10

lupercalia1

Lalu bagaimana dengan isu-isu amoralitas Luperci? Sarjana roma klasik berusaha menjelaskan keterkaitan antara kesuburan dengan agama romawi kuno dan hubungan sex. Agnes Kirscopp Michels merekonstruksi bahwa Luperci mewakili roh-roh Fauni mengunjungi wanita tertentu pada malam sebelum festival. Wanita-wanita inilah yang kemudian disabet pada saat festival, bahkan ditelanjangi, untuk melengkapi ritualnya.11

Adakah penjelasan fantastis ini benar-benar kuat? Bila kita melihat bahwa pada awalnya Luperci menyabet tidak hanya wanita tetapi juga pria yang ada di kerumunan penonton maka kita dapat berasumsi bahwa ini bukanlah bagian asli dari ritual Lupercalia. Di sisi lain kita melihat bahwa Herennius yang seorang Luperci menuduh Claudius adalah seorang Luperci. Holleman mengatakan bahwa kemungkinan ini berarti Claudius adalah anggota kelompok Luperci yang melakukan tindakan amoral sedangkan kelompok Herennius hanya melakukan ritual publik12 (terdapat dua kelompok yang melaksanakan Lupercalia, sampai Julius Caesar membentuk kelompoknya sendiri). Dari kasus ini kita bisa melihat bahwa secara moral masyarakat Roma sendiri berkeberatan dengan hubungan sex bebas, namun sisi publik Lupercalia disukai oleh mereka.

Setelah agaman Kristen diadopsi oleh Romawi festival Lupercalia tidak hilang begitu saja. Perhatian pembesar Roma terhadap festival ini tidak ada lagi sehingga pada abad 5 Masehi festival ini menjadi ajang kerusuhan pemuda.13 Pada saat inilah Andromarchus, serang senator Kristen mengajukan diri untuk mengadakan kembali festival Lupercalia.

Neil McLynn melihat serangan Paus Gelasius I pada Lupercalia yang disarankan oleh Andromarchus bukan hanya masalah theologis dan moralitas, namun juga orisinalitas. Gelasius I tidak hanya menekankan ketidakcocokan ritual pagan dengan iman Kristen, namun mengecam bahwa Andromarchus dalam menjalankan ritual ini menggunakan aktor. Ia menyarankan bahwa Andromarchus seharusnya berlari telanjang di jalanan Roma seperti leluhurnya.14

Tentu saja bila Andromarchus mengorganisasikan festival ini dengan menggunakan aktor sebagaimana dikatakan Gelasius, sifat sakral maupun aktivitas sex rahasia Luperci di masa sebelumnya tentu sudah hilang. McLynn mengatakan bahwa Andromarchus hendak menggunakan festival ini sebagai panggung untuk menampilkan dirinya di depan masyarakat Roma. Ia hendak meniru Caesar yang tampil di publik dengan menggunakan Lupercalia.15

Setelah Paus Gelasius I berhasil melarang Lupercalia para ahli tidak bersepakat mengenai ada atau tidaknya perayaan yang dibuat sebagai penggantinya. Namun di Itali hingga kini masih terdapat festival serupa, pemuda yang wajahnya dilaburi tepung menyabetkan gulungan kulit domba kepada pemuda lainnya sebelum akhirnya mereka menghilang ke belakang Gereja.16 Sifat sakral Lupercalia sudah hilang, berganti dengan event bagi para pemuda untuk bergembira.

Lalu bagaimana dengan perayaan Valentine?

B. Perayaan Valentine

Felix Siauw mengatakan bahwa perayaan Valentin dibuat oleh Gelasius untuk menggantikan festival Lupercalia. Dari wikipedia kita melihat bahwa ada cendekiawan yang menghubungkan Lupercalia dan perayaan Valentine, namun terdapat bantahan terhadap pedapat ini.17 Bahkan festival-festival yang serupa dengan Lupercalia di Itali (seperti disebutkan di atas) tidak memiliki hubungan dengan perayaan Valentine ataupun Santo Valentinus.

Para ahli bersepakat bahwa kultus Santo Valentinus sebagai patron bagi mereka yang jatuh cinta tidak ada sebelum puisi Geoffrey Chaucer. Dua puisi berjudul “Parlement of Foules” (Majelis Burung-burung) dan “Complaint of Mars” (Ratapan Mars) adalah karya yang mengawali asosiasi Santo Valentinus dengan percintaan. Sebelumnya Santo Valentinus disucikan karena keteguhan iman dan keajaiban penyembuhan yang dilakukannya.18

Kisah-kisah mengenai Santo Valentinus sebagai patron dalam percintaan suci muncul pada 1756, dikisahkan oleh Alban Butler. Di romawi, dalam kisahnya, pada 15 Februari terdapat lotre untuk memasang-masangkan pemuda dan pemudi Roma dalam festival. Menghadapi amoralitas ini, beberapa penganut Kristen menaruh nama mereka. Pada 1807 Francis Douce menambahkan bahwa festival ini adalah Lupercalia.19 Tentu saj dari bahasan sebelumnya kita tahu bahwa sumber-sumber sezaman tidak satupun membahas tentang lotre dan berpasang-pasangan ini.

parlement-of-foules

Alfred L Kellog dan Robert C Cox berpendapat bahwa Paus Gelasius I membuat perayaan Penyucian Perawan Suci/Candlemass sebagai pengganti Lupercalia pada 14 Februari. Di kemudian hari Kaisar Justinian menggesernya pada 2 Februari. Sayangnya Kellog dan Cox tidak menyadari bahwa perayaan iniberasal dari akhir abad 4 masehi dari Jerusalem, dikenal dengan nama Quadragesimae de Epiphania.20

Bisa kita lihat bahwa fakta yang menghubungkan Lupercalia dan perayaan Valentine amatlah lemah. Dengan melihat bahwa tidak ada petunjuk yang lebih tua daripada puisi-puisi Chaucer maka kita harus melihat pada Chaucer sendiri untuk melihat bagaimana ia “menciptakan” kultus Santo Valentinus menjadi seperti yang kita kenal saat ini. Di sinilah karya Jack B Oruch amat berguna bagi kita untuk memahami Santo Valentinus di masa Chaucer.

Terdapat banyak Santo dan Santa yang bernama Valentinus/Valentina. Namun dua yang menurut Oruch cukup terkenal adalan Santo Valentinus pendeta dari Roma dan Santo Valentinus dari Terni. Perhatian diberikan cukup banyak kepada Santo Valentinus dari Terni yang cukup dikenal di Eropa pada masa hidup Chaucer. Berbagai karya sastra yang dibuat berdasarkan kisah Santo Valentinus dari Terni beredar sebelum masa Chaucer.21 Pertanyaannya kemudian, mengapa Chaucer mengasosiasikan Santo Valentinus dengan percintaan?

Oruch mencatat bahwa pada masa Chaucer terdapat kisah roman kepahlawanan diantara kisah Chalemagne dengan tokohnya bernama Valentinus. Ia adalah tokoh dengan salah satu keutamaan “cinta yang kokoh,” dan ia adalah suami yang setia. Oruch kemudian berargumen bahwa untuk mengisi puisinya mengenai bulan Februari Chaucer kemudian memilih Santo Valentinus sebagai tokohnya. Chaucer hanya mengadaptasikan nama yang populer dimasanya untuk disebut dalam puisinya.22 Maka dikemudian hari melalui baris-baris puisi Chaucer tanggal 14 Februari dikenal sebagai hari Santo Valentinus, patron bagi pasangan burung-burung dan mereka yang jatuh cinta.

C. Perayaan Valentine Modern

Tradisi ini berkembang terus di Inggris dari abad pertengahan tinggi berlanjut hingga abad 19. Pada masa ini tradisi ini lebih merupakan tradisi yang dirayakan di Inggris. Meski ada usaha untuk menuliskan kembali “sejarah” Santo Valentinus agar disesuaikan dengan perayaan 14 Februari ini namun tidak banyak dirayakan di negeri lain. Barulah pada abad 19 dengan dorongan kapitalisme, publik Amerika mengadopsi perayaan Valentine ini. Perusahaan percetakaan menjual berbagai kartu bertuliskan puisi-puisi yang mereka sebut orisinal, padahal tiruan dari puisi dari Inggris dan tiap tahun mereka jual dengan desain sama.23

Kini dengan kekuasaan globalisasi, kekuatan budaya Amerika mencapai berbagai pelosok bumi. Maka perayaan hari Valentine pun menjadi ajang bagi kapitalis untuk mendorong masyarakat untuk melakukan konsumsi. Kini hingar-bingar perayaan Valentine pun mencapai pojok India. Kaum muda di sana merasa perlu untuk melawan “polisi moral.”24 Sementara itu Presiden Pakistan merasa perlu untuk mengingatkan para pemuda untuk tidak merayakannya.25

D. Kesimpulan

Perayaan Lupercalia tidak identik dengan aktivitas sex, meski ada sebagian yang melakukannya. Dalam festival Lupercalia pemuda yang terpilih berlari mengenakan cawat dan menyabetkan gulungan kulit kepada wanita-wanita. Hubungan antara Lupercalia dengan Santo Valentinus tidak ada, begitu pula dengan perayaan hari Valentine yang dipopulerkan oleh Geoffrey Chaucer. Di Era modern ini perayaan Valentine diidentikkan dengan konsumsi barang-barang untuk menyatakan cinta oleh para pemuda.

___________________

1Laman akun Twitter Felix Siauw, diakses 12 Februari 2016, https://www.twitter.com/felixsiauw

2Laman akun Facebook Ustadz Felix Siauw, diakses 12 Februari 2016, https://www.facebook.com/UstdzFelixSiauw

3Felix Siauw, “Hizbut Tahrir Bagiku,” felisiauw, https://felixsiauw.com/home/htbagiku diakses 12 februari 2016

4Kultwit ini diposting ulang dalam laman akun Facebook Ustadz Felix Siauw, diakses 12 Februari 2016, https://www.facebook.com/UstadzFelixSiauw/posts/10151457467296351

5“Lupercalia,” Wikipedia, diakses 9 Februari 2016, https://en.wikipedia.org/wiki/Lupercalia.

6A.W.J. Holleman, “Lupus, Lupercalia, lupa,” Latomus, T. 44, Fasc. 3 (Juli-September 1985), halaman 609.

7Cicero dalam memberikan pembelaan terhadap kliennya yang dituduh sebagai seorang Luperci (mereka yang menjalankan ritual Lupercalia) bahwa ritual ini sudah tua dan tidak perlu dibahas panjang lebar. Apalagi yang menuduh (Herennius) adalah seorang Luperci sebagaimana tertuduh (Claudius). A.W.J. Holleman membahas ini dalam “Cicero on the Luperci (Cael. 26),” L’Antiquité Classique, T. 44, Fasc. 1 (1975), halaman 198-203

8Lihat kutipan di atas.

9Penjelasan singkat mengenai ritual Lupercalia didapat dari ensiklopedia Brittanica online

10E. Sachs, “Two Notes on Lupercalia,” The American Journal of Philology, Vol. 84, No. 3 (Juli, 1963), halaman 267.

11AWJ Holleman, “Martial and Lupercus at Work,” Latomus, T. 35, Fasc. 4 (Oktober-Desember 1976), halaman 862

12Ibidem.

13E. Sachs, “Two Notes on Lupercalia,” halaman 268.

14Neil Mc Lynn, “Crying Wolf: the Pope and Lupercalia,” The Journal of Roman Studies, Vol. 98 (2008), halaman 161-163.

15Ibidem, halaman 171-172. Untuk melihat kisah Cesar dalam Lupercalia lihat Plutarch, Life of Caesar, http://penelope.uchicago.edu/Thayer/E/Roman/Texts/Plutarch/Lives/Caesar*.html#61 diakses 9 Februari 2016.

16Sachs, “Two Notes on Lupercalia,” halaman 266-267.

17“Lupercalia,” wikipedia.

18Leigh Eric Schimidt, “The Fashioning of a Modern Holiday: St. Valentine’s Day, 1840-1870,” Winterthur Portfolio, Vol. 28, No. 4 (Winter, 1993), halaman 210.

19Jack B Oruch, “St. Valentine, Chaucer, and Spring in February,” Speculum, Vol. 56, No. 3 (Jul., 1981), halaman 539

20Ibidem, halaman 539-541.

21Ibidem, halaman 544-548.

22Ibidem, halaman 554-556

23Leigh Eric Schimidt, “The Fashioning of a Modern Holiday: St. Valentine’s Day, 1840-1870.”

24“Valentine’s Day: Indian Lovers Unite Against Moral Policing,” Indian Express. http://www.newindianexpress.com/cities/hyderabad/Valentines-Day-Indian-Lovers-Unite-Against-Moral-Policing/2016/02/13/article3274770.ece. Diakses 13 Februari 2016.

25“Presidents Urges Nation Not to Observe Valentine’s Day,” Pakistan Today, http://www.pakistantoday.com.pk/2016/02/13/national/president-urges-nation-not-to-observe-valentines-day/. Diakses 13 Februari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s