Perang Kota Kecil [REVIEW]

Sambas, Sampit, Ambon, Poso, dan Maluku utara. Apa kesamaan dari daerah-daerah tersebut? Kerusuhan antar-etnis(dan agama) berdarah yang menyentak Indonesia di saat senjakala Orde Baru. Bagaimana Gerry van Klinken memberi penjelasan atas tragedi ini?

tumblr_o1e7jntuqk1v4nslqo1_500

Penjelasan berdasarkan discontent pihak-pihak yang berkonflik jamak digunakan. Bila merujuk wikipedia kita akan mendapati adanya perilaku tidak menyenangkan dari etnis tertentu yang memicu kerusuhan Sambas. Begitupula dalam kerusuhan Ambon diketahui dipicu oleh perkelahian antar pemuda.

Namun Gerry van Klinken menyatakan bahwa penjelasan ini tidak cukup menjelaskan mengapa konflik terjadi cukup lama dan luas. Ia mengatakan bahwa kita harus melihat bahwa ada yang menggerakkan massa. Dengan adanya penggerak ini maka mereka yang umumnya tidak melibatkan diri dalam konflik (meski memiliki discontent yang sama) bersedia melibatkan dirinya dalam konflik. Untuk itu diperlukan perhatian pada mobilisasi dan aktornya.

Pada umumnya kita biasa mendengar penjelasan mengenai adanya pihak-pihak asing yang menginginkan ketidakstablian negara untuk mengambil keuntungan tertentu. Klinken melihat dari sisi lain. Para elite lokal-lah yang menggunakan konflik untuk kepentingan mereka. Mereka menggunakan konflik untuk memobilisasi massa dalam rangka mengambil pengaruh untuk merebut jabatan ataupun mendapat rente dari pemerintah daerah.

Lalu bagaimana peran negara? Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ini adalah masa ketika rezim (orde baru) sedang melemah kekuatannya. Pemerintah lokal yang sebelumnya diisi oleh orang-orang yang ditunjuk Jakarta kini mulai diisi oleh orang-orang lokal. Dalam kesempatan seperti inilah para elite lokal menyatakan (assert) posisinya. Inilah dilema demokratisasi reformasi ketika gelombang perubahan memberi kesempatan bagi partisipasi dan aspirasi lokal, ternyata negara tidak mampu meredam kekerasan yang dijadikan jalan pintas meraih pengaruh dan kekuasaan.

Tawuran atau konflik kecil dapat tidak meluas selain bila tidak ada yang memobilisasi, namun juga ketika negara dapat meredamnya. Namun ini adalah masa ketika negara sedang melemah dan aparat keamanan sedang dalam kebingungan akan peran mereka. Bukan hanya itu, konflik kepentingan juga membuat mereka gagal menjadi Leviathan yang netral. Bahkan salah satu episode menunjukkan ketika kepolisian berusaha menjalankan perannya memadamkan kerusuhan, mereka terhambat oleh kepentingan bisnis militer.

Gerry van Klinken berhasil membuktikan bahwa dalam kerusuhan-kerusuhan di kota-kota kecil ini tidak sekedar ketidakpuasan saja yang harus diperhatikan. Ia menunjukkan bahwa para elite lokal mempunyai andil menggunakan konflik untuk memperkokoh posisi mereka. Repertoir bahwa elite menggunakan konflik demi kekuasaan menjadi nyata dalam narasi Perang Kota Kecil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s