Seputar Sejarah Spekulatif dan Sejarah Kritis

Filsafat sejarah terdiri dari tiga unsur, yang pertama adalah makna sejarah itu sendiri. Sejarah dapat diartikan sebagai peristiwa, dapat pula diartikan sebagai cara manusia memandang peristiwa masa lalu tersebut. Dua unsur lainnya adalah sejarah spekulatif dan sejarah kritis. Artikel ini akan membahas seputar sejarah spekulatif dan sejarah kritis.

historyposter

Dalam perenungan filsafat spekulatif terdapat tiga hal yang selalu ditanyakan:

  1. Irama atau pola macam apa yang terjadi dalam proses sejarah?

  2. Apakah ‘motor’ yang menggerakkan proses sejarah?

  3. Apakah sasran akhir yang dituju dalam proses sejarah?

  1. Pengetahuan Aposteori dan Apriori

Dalam sistem spekulatif diketahui dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan aposteori dan pengetahuan apriori. Pengetahuan aposteori adalah pengetahuan yang didapat dari pengalaman. Pengamatan yang mencerap kenyataan melalui indra ini menghasilkan suatu pengetahuan.

Di sisi lain terdapat pengetahuan yang dihasilkan oleh perenungan. Perenungan ini dapat menggunakan pengetahuan yang sudah ada untuk membentuk pengetahuan baru, inilah yang disebut pengetahuan apriori. Misalnya saja kita tahu bahwa pada pukul 7 matahari sudah terbit. Muncul pernyataan kedua bahwa saat ini sudah melewati pukul 7. Dari dua pernyataan ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa saat ini matahari sudah terbit.

  1. Motor Penggerak Sejarah

Para filsuf memikirkan bahwa terdapat hal-hal yang selalu pasti mendorong terjadinya gerak sejarah, suatu ‘motor.’ Terkadang pandangan mengenai penggerak ini bergantung pada masyarakat tempat mereka berada:

  1. Bagi masyarakat primitif gerak sejarah diatributkan pada kekuatan-kekuatan alam, sesuai dengan kepercayaan mereka (dinamisme dan animisme).

  2. Dalam kebudayaan politheisme, kekuatan-kekuatan ini mengalami abstraksi dan antrophomorfisme menjadi dewa-dewi yang memiliki kehendak seperti manusia.

  3. Dalam budaya monotheis maka kekuasan Tuhan yang tak terbatas menjadi agensi utama

  4. Fatum atau takdir adalah abstraksi lain. Ia menjadi determinan yang menunjukkan ketidak berdayaan manusia.

  5. Manusia sebagai makhluk dengan kehendak bebas dapat menjalankan gerak sejarah itu sendiri.

  6. Marx memperkenalkan bahwa gerak sejarah yang dilakukan oleh manusia ditentukan kepentingannya akan materi. Suatu Historical Materialism (Materialisme Historis).

George Novack merangkum mengungkapkan terdapat beberapa teori mengenai penggerak sejarah yatu:

  1. Great God Theory, gerak sejarah diatributkan pada kekuasan Tuhan (baik dalam agama politheisme maupun monotheisme)

  2. Great Men Theory, gerak sejarah terjadi akibat aksi dan kehendak orang-orang besar yang membuat sesuatu hal terjadi.

  3. Great Mind Theory, yang membuat manusia melakukan sesuatu adalah pemikiran-pemikiran besar.

  4. Best people Theory, orang-orang atau kaum terbaik adalah mereka yang dengan karakter uniknya akan menentukan sejarah. Kaum terpilih ini dapat merupakan ide religius (bangsa Yahudi, ide Protestan Calvin) ataupun ide sekuler (nasionalisme Jerman abad 19).

  5. Human Nature Theory, George Novack menyatakan bahwa pandangan paling kuat adalah sifat dasar manusia (human nature) adalah tetap dan tidak berubah. Adalah tugas sejarawan untuk menemukan perubahan dalam sifat dasar manusia, perubahan yang menyebabkan terjadi perubahan dalam kehidupannya.

  1. Aliran Pandangan Filsafat Sejarah

Dalam berbagai filsafat sejarah spekulatif dapat dirangkum terdapat 3 macam pendapat mengenai arah gerak sejarah.

  1. Gerak Sejarah Siklus, yaitu gerak sejarah yang berulang. Pada akhirnya tidak memiliki tujuan tertentu. Hal ini terasa dalam filsafat kuno India yang menekankan siklus berulang karma secara mikro maupun secara makro pada seluruh alam. Herodotus juga memiliki pandangan siklus.

  2. Gerak Sejarah Linear, yaitu sejarah bergerak dari titik awal dan kemudian berlanjut kepada tujuannya dan tidak pernah kembali (teleologis, memiliki tujuan). Salah satu contohnya adalah filsafat sejarah St. Agustinus.

  3. Gerak Sejarah Spiral, yaitu sejarah mengalami gerak naik turun atau suatu kemunduran, tetapi tidak pernah kembali pada titik semula. Gerak ini merupakan gerak recourse. Contohnya diungkapkan Vico tentang adanya pola kelahiran hingga kematian, dimulai dari 1) zaman pahlawan, diikuti berurutan oleh 2) zaman klasik, 3) zaman barbarisme, dan akhirnya 4) zaman intelektual yang diakhiri dengan keruntuhannya.

  1. Kritik Terhadap Filsafat Sejarah Spekulatif

Filsafat sejarah spekulatif pada dasarnya merupakan garapan yang berbeda dengan studi sejarah, meski sama-sama mempelajari masa lalu. Dari sejarawan dan dari filsuf muncul beberapa kritik mengenai filsafat sejarah spekulatif. Berikut kritik tersebut:

  1. Kebenaran sistem spekulatif tidak dapat dipastikan kebenarannya, dalam memeriksa kebenarannya kita akan menemui pro-kontra, hasil dari unsur kesewenang-wenangan (bias manusia).

  2. Sistem spekulatif bersifat metafisik, dalam sifat metafisiknya maka kebenarannya tidaklah harus bersesuaian dengan kenyataan namun lebih kepada kesesuaiannya dengan sistem yang dibuat.

  3. Sistem spekulatif tidak ilmiah, pada akhirnya dua hal pertama menunjukkan bahwa sistem spekulatif tidaklah bersifat ilmiah karena tidak dapat diuji kebenarannya dan justru bersifat di luar fisik.

  1. Filsafat Sejarah Kritis

Filsafat sejarah kritis adalah unsur ketiga dalam filsafat sejarah. Setelah kita lihat mengenai sejarah spekulatif maka kita beralih pada kajian filsafat sejarah kritis. Filsafat sejarah kritis berurusan pada bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan yang benar mengenai masa lalu. Dan bagaimana sifat pengetahuan tersebut. Hal ini membawa kita pada tiga tahap yang diteliti mengenai pengetahuan terhadap masa silam yaitu 1) apakah pernyataan mengenai masa lalu itu benar? 2) apakah pernyataan yang benar tersebut dapat diterangkan/dijelaskan? 3) Apakah keterangan tersebut memadai agar pernyatan tersebut dapat diterima?

Selain terhadap kebenaran tersebut filsafat sejarah kritis juga terkait masalah moralita atau baik-buruknya suatu peristiwa masa lalu. Hal ini amat terkait dengan filsafat etika. Dan tidak lepas dari hal ini, filsafat sejarah kritis akan juga mempertanyakan pengaruh moralitas kita (saat ini) dalam memandang masa lalu.

Pustaka

Ankersmit, F.R.. 1987. Refleksi tentang Sejarah: Pendapat-Pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah. Gramedia. Jakarta

Mohammad Hadi Sundoro. 2009. Teka-Teki Sejarah: Berbagai Persoalan Tentang Filsafat Sejarah. Jember University Press. Jember.

Novack, George. “Major Theories Of History From The Greeks To Marxism.” Marxist Internet Archive. https://www.marxists.org/archive/novack/works/history/ch04.htm. Diakses 15 Maret 2016.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s