Pemenjaraan Dasep: Fair atau Tidak?

Tulisan saya mengenai mobil listrik beberapa bulan lalu alhamdulillah membuat cukup banyak netizen yang lalu-lalang di blog ini. Seminggu lalu muncul berita baru: Dasep Ahmadi divonis bersalah dan mendapat hukuman 7 tahun.

1604458dasep780x390

Fair atau tidakkah hal ini?

Mungkin tulisan saya sebelumnya terlalu menggebu-gebu dalam menyalahkan Dahlan Iskan. Saya memandang bahwa Dahlan Iskan telah menyalahgunakan kekuasaannya untuk menggunakan dana CSR BUMN dalam pengadaan mobil listrik ini. Saya memandang bahwa Dahlan Iskan menggunakan dana tidak pada tempatnya, dan untuk kepentingannya sendiri (proyek ‘pribadi’nya).

Tapi siapa sih saya yang cuma blogger ini. Data dan fakta saya pastinya ndak seberapa dengan yang keluar di pengadilan. (Assuming it was a fair trial).

Nah, sekarang kita lihat yang terjadi pada Dasep Ahmadi. Ia didakwa melakukan tindakan korupsi karena melakukan nirprestasi dalam kontrak pengadaan mobil listrik. Mobil listrik buatannya setelah diperiksa ternyata tidak laik jalan sehingga tidak dapat digunakan 2014 lalu. Saya pribadi ndak heran, seminggu lalu saya  mendapati kipas angin saya terbakar. Padahal  ia adalah produk massal yang harus terjamin keamanannya. Apalagi mobil buatan Dasep yang tahapnya belum produksi massal.

ferizal

Namun fair-kah ia mendapat hukuman 7 tahun? Dasep hanyalah orang yang melakukan nirprestasi, ia bukan sedang memperkaya diri sendiri. (well, dia mendapat kontrak, tentu ia mendapat duit. Let’s not talk about it for the sake of brevity) Anda bisa memberi argumen bahwa ia tidak dengan sengaja melakukan nirprestasi tersebut. Meski begitu nirprestasi yang ia lakukan bukan karena force majeure oleh karenanya kita dapat menuntut usaha lebih lanjut dari Dasep untuk membuat purwarupa mobilnya lulus uji laik jalan.

Tentu saja ketika Dasep disalahkan karena menerima kontrak pengadaan, maka kita dapat bertanya siapa pemberi kontraknya? Ini kembali ke kekesalan saya pada Dahlan Iskan. Ia woro-woro ingin mengembangkan mobil listrik. Namun ia justru tidak mendorong tenaga ahlinya untuk terus berkarya. Dalam kasus Tucuxi ia justru membuat Danet ilang feeling, sementara dalam kasus Dasep ia tidak mendorong Dasep memperbaiki purwarupanya. Pendanaannya-pun menggunakan sumber yang salah.

Namun pada akhirnya, 7 tahun untuk nirprestasi Dasep tampaknya terlalu berat bagi saya. Apalagi tidak ada niat untuk melihat apakah pemberi kontrak punya andil dalam hal ini.

Seolah-olah semua hanya drama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s