Automatically Generated Content dan Kekayaan Intelektual

Ndak ada habisnya memang hal segala cara yang dilakukan orang untuk menjustifikasi pendapatan yang mereka dapat. Salah satu cara mendapat pendapatan ‘pasif’ saat ini adalah dengan menambang adsense. Supaya benar-benar menjadi ‘passive income’ alias tidak perlu bekerja lagi konten dalam situs tempat kita memuat adsense tersebut bahkan tidak diisi konten yang dibuat sendiri. Comot sana-sini melalui robot pembuat Automatically Generated Content.

AGC_halalharamNamun perkaranya ndak sesederhana itu.

Sebelum membahas lebih lanjut perlulah kita tahu mengapa AGC tersebut seringkali menyebalkan. Salah seorang penambang adsense yang menggunakan script AGC mengakui bahwa konten dari blognya kadang menyesatkan dan membuat pencari berputar-putar. Tentu saja dengan tidak tahu malu ia tidak merasa hal itu salah. Suck it sucker!

Ini adalah sesuatu yang oleh Google disebut bad user experience. Tentu saja Google tidak akan nyaman bila mereka justru menafkahi para pembuat bad user experience tersebut. Google akan memerangi AGC yang tidak memiliki nilai tambah konten. Apalagi yang menghasilkan konten ‘non-sensical’.

Tidak hanya itu saja. Apologi terhadap AGC yang saya temukan dari mukabuku mengatakan hal berikut:

3. “Ambil Gambar atau Kontent orang lain”

– Disini banyak yang gak lulus pelajaran bahasa kyknya , disaat kalian share foto kalian ke publik , artinya kalian membagikan foto kalian ke publik ( Share = berbagi ) . orang udah di bagi kok dibilang ambil milik orang lain

– banyak cara kalau gambar atau kontent tidak mau diambil sama orang lain , salah satunya taro dibawah bantal

donut steel

A laughable understanding of copyright! Hooray!

Sebuah karya atau konten ketika dipublikasikan ke masyarakat umum bukan berarti pembuatnya melepaskan hak ciptanya. Ia memberi kesempatan bagi masyarakat luas untuk menikmati hasil karyanya, yang mungkin tidak akan mendapat kesempatan melalui platform penerbitan berbayar. Mungkin anda dapat mengunduhnya, namun bila anda menerbitkannya kembali melalui platform lain anda akan bisa mendapat DMCA dari Google.

Lalu bagaimana dengan konten berupa teks? Bagi kaum plagiat tentu teks tidak lain hanyalah deretan tulisan yang dapat di-copy-paste. Namun pernahkah anda memikirkan perasaan pengarangnya? Mungkin semasa sekolah dan kuliah terbiasa mengetik ulang buku teks untuk dikumpulkan kembali sebagai tugas. What a subhuman trash.

Mungkin inilah sebabnya akhir-akhir ini banyak bermunculan berbagai situs yang jualan ‘islam’ atau berisi artikel yang kebenarannya sulit dipertanggungjawabkan. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s