Tentang Pribumi Indonesia (1)

Kira-kira hampir seminggu lalu timeline mukabuku saya dihentak dengan pertanyaan “Kak adit pernah nulis tentang pribumi di blognya? Minta linknya dong?” Sayapun bingung kerana seingat saya saya ndak pernah nulis khusus tentang pribumi. Posting yang mendapat tag pribumi hanyalah foto seorang bupati pribumi yang mengenakan lencana keanggotaan freemason. Wah, ada apa nih?

pribumi

Rupa-rupanya rekan saya di mukabuku ingin tahu komentar saya mengenai sebuah artikel yang beredar di jagad maya yang menyatakan bahwa karena dari zaman dulu manusia datang ke Indonesia sebagai pendatang maka tidak ada yang namanya pribumi tersebut. Eeeeh??!!!!

Artikel yang dimuat oleh zenius.net1 tersebut ditulis oleh seorang guru sejarah, tentu saja ia memiliki otoritas lebih tinggi dibanding saya yang hingga kini belum pernah tuntas kuliahnya. Sebetulnya saya pernah membaca artikel dengan bangunan pendapat serupa yang disertai kepustakaan2, namun tidak sedetil artikel ini. Namun saya tidak sepakat dengan kesimpulan yang diambil oleh kedua artikel tersebut. Tentu saja pembaca ayatayatadit yang budiman punya opini ‘sedikit’ intelektual masing-masing mengenai hal ini, bagi anda sekalian saya harap anda bersedia memaklumi bila tulisan saya membosankan.

Saya mulai dengan pernyataan saya bahwa dalam konteks paham kebangsaan (nasionalisme) pernyataan bahwa tidak ada orang Indonesia asli adalah pernyataan yang menyesatkan. Hal ini kadang juga di dengar di Amerika dan Eropa (yang saat ini mengalami krisis migran) dalam pernyataan “We’re all migrant at one point of our history.”3 Namun tentu saja dalam suatu paham kebangsaan ada suatu mitologi nasional mengenai bagaimana leluhur kita muncul sebagai etnis atau mulai mendiami tanah airnya. Adam W. Smith mengatakan bahwa suatu bangsa akan mengklaim suatu rangkaian tak terputus sebuah budaya historis yang terikat dengan tanah airnya.4 Hal inilah yang nanti akan saya elaborasi lebih lanjut dalam konteks Indonesia.

Sebelum kita mendiskusikan lebih lanjut mengenai pribumi dalam konteks kebangsaan Indonesia, saya merasa perlu membahas berbagai gelombang migrasi dari dan ke Indonesia sebagaimana dibahas kedua artikel tersebut. Hal ini penting karena berbagai gelombang migrasi ini menjadi argumen bahwa tidak ada ‘penduduk asli’ Indonesia sekaligus nanti akan saya tunjukkan bagaimana berbagai gelombang migrasi ini membentuk budaya historis Indonesia.

Dari Manusia ke Manusia

Kedua artikel menyebutkan bahwa manusia pertama yang sampai ke gugusan nusantara adalah manusia purba dari spesies nusantara. Artikel dari wacana nusantara menyebutkan bahwa manusia yang pertama sampai ke Indonesia adalah Pithecanthropus erectus. Sebutan Pithecanthropus yang berarti manusia kera sudah dtinggalkan arkeolog dan antropolog. Kini lebih jamak ditemui sebutan Homo erectus, untuk menegaskan bahwa spesies ini adalah bagian dari genus Homo yang berarti manusia.

Artikel dari wacana nusantara menyebut bahwa Pithecanthropus lebih mirip dengan orang-orang yang kini menjadi penduduk asli Australia. Ini adalah pernyataan gegabah. Memang benar bahwa Aborijin Australia memiliki fitur fisik yang arkais (dagu lebih kecil, tulang alis menonjol) namun mereka lebih banyak memiliki kesamaan dengan manusia modern lain (proporsi tubuh, volume dan bentuk kranial). Hal ini juga ditunjang dengan studi genetik modern yang menyatakan semua manusia di luar Afrika berasal dari satu kelompok yang keluar afrika sekitar 65 ribu tahun lalu.5 Tampaknya ini karena sumber yang digunakan artikel ini sudah cukup tua sehingga belum mengandung diskursus mengenai evolusi genetika.

homo_floresiensis

Homo floresiensis yang membingungkan para paleoontolog. Adakah ia keturunan H. erectus? Ataukah ia H sapiens yang mengalami deformitas?

Ini terutama terkait dengan perdebatan lampau mengenai hipothesis multi-regional dan mono-regional. Kini ijma ilmuwan telah memberikan pendapat bahwa spesies H. sapiens muncul di Afrika Timur dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Percampuran dengan spesies lain (H. neanderthal) hanya terjadi amat terbatas dan tidak signifikan. Hipothesis multi-regional sering digunakan untuk menjelaskan kemunculan berbagai ras manusia.

Artikel dari zenius.net memberikan narasi lebih lengkap dengan menceritakan gelombang migrasi H. sapiens yang terjadi 70-50 ribu tahun lalu. Penulisnya menyebut bahwa mereka memiliki ciri melanosoid. Ia berargumen bahwa dengan melihat persebaran suku-suku terasing mulai dari penghuni kepulauan Andaman, berbagai suku terasing sumatra, indochina, malaya, Filipina, dan kebudayaan asli melanesia maka dapat diambil kesimpulan bahwa gelombang manusia modern pertama ini adalah mereka dari ras melanosoid.

Secara umum saya tidak masalah menyatakan bahwa gelombang manusia modern yang mencapai Indonesia mungkin memiliki ciri fisik melanosoid. Namun kita perlu juga mengingat bahwa berbagai suku pemburu pengumpul yang disebutkan dalam artikel tersebut belum tentu dapat dikatakan mirip satu sama lain. Penduduk kepulauan Andaman memang berkulit hitam atau coklat gelap dan berambut ikal, namun wajah mereka tidaklah mirip dengan orang Papua. Begitu pula dengan suku Aeta di Filipina. Suku-suku terasing ini mungkin mewakili keragaman populasi masa lampau yang kemudian tergantikan oleh populasi mendatang yang lebih seragam.

Manusia Asia Tenggara

Bila kita menganggap bahwa manusia modern pertama yang sampai di Indonesia memiliki penampilan yang amat berbeda dengan penghuni Indonesia bagian barat saat ini tentunya ada sesuatu yang merubahnya. Artikel di zenius.net langsung merujuk pada migrasi penutur bahasa-bahasa Austronesia. Setelah Indonesia dihuni oleh keturunan para migran pertama setelah beberapa ribu tahun muncul manusia modern baru dengan ciri fisik yang berbeda.

Charles Higham (2013) menyebut ini sebagai two layer hypothesis, merujuk pada dua lapisan migrasi yang membentuk populasi Asia Tenggara modern. Kedatangan kelompok baru ini tidak berarti selalu diikuti dengan perang dan konflik antara dua populasi. Populasi lebih awal karena keterbatasan kemampuan pola hidup berburu meramu dalam menopang populasi, mengalami ‘kekalahan budaya.’ Tampaknya diantara mereka bergabung dengan kelompok petani yang datang dan kehilangan gaya hidup berburu meramunya.6

Ini berarti bahwa populasi pemburu peramu sebelum migrasi ras mongoloid juga merupakan leluhur penduduk Asia Tenggara saat ini. Hal ini terlihat dalam studi yang menemukan bahwa suku Iban didominasi garis keturunan haplogup M yang berasal dari Asia Tenggara dan amat tua (25 ribu tahun).7 Ini menandakan bahwa secara umum populasi Asia Tenggara (termasuk Indonesia) tidak banyak berubah. Austronesia adalah kelompok linguistik, bukan rasial. Tak heran penutur bahasa-bahasa Austronesia di Taiwan, Indonesia, Selandia Baru, sampai Vanuatu memiliki budaya dan penampilan fisik berbeda-beda. Oppenheimer menemukan bahwa tidak ada kesatuan genetis yang menjelaskan penyebaran bahasa Austronesia.8 Mereka yang berada di Indonesia barat merupakan keturunan para pendahulu yang tinggal di Indonesia Barat sejak lampau, sementara mereka yang di Indonesia Timur juga sama.

Kontak Millenium dan Budaya-Budaya Baru

Migrasi yang terjadi pada zaman batu memang sulit. Hanya dengan teknologi seadanya leluhur kita bisa sampai ke Indonesia. Para penutur Austronesia kemungkinan besar adalah mereka yang membawa budaya Neolithik, terutama pertanian. Di kemudian hari Indonesia menerima lagi migrasi yang membawa teknologi baru: zaman logam.

Jejak migrasi yang membawa penyebaran teknologi ini tidak banyak. Coedes menyebut bahwa data yang ada mengenai hal ini kurang memuaskan, dan dapat dindikasikan bahwa budaya zaman batu cukup lama bertahan sementara budaya pengolahan logam perunggu dan kemudian besi yang umumnya muncul berurutan

di suatu tempat datang bersamaan di Asia Tenggara.9 Mungkin kita lewatkan ini untuk membahas proses penting lainnya.

Kita kenal istilah “Indianisasi” dalam sejarah Indonesia. Berbagai suku bangsa pribumi Indonesia mengambil unsur-unsur budaya India untuk mengembangkan lembaga politik dan sosial mereka. Jean Gellman Taylor mengambil tanggal 5 abad sebelum masehi sebagai watu ketika kepulauan Indonesia disinggahi berbagai bangsa dari luar.10 Bila kita tengok teks suci Buddha, kita menemui kisah pedagang-pedagang yang menyebrang lautan.11 Dapat kita simpulkan bahwa orang-orang seperti inilah yang menghidupkan jaringan antara Indonesia dengan dunia.

borobudur_ship

Relief di Borobudur ini selain menyimpan cerita hubungan Indonesia-India dibalik mitologi Buddha, juga memperlihatkan hasil kontak dua budaya dalam bentuk kapal.

Para penutur Austronesia adalah pelaut ulung. Teknik pelayaran yang berkembang pada masa itu hadir dari pertukaran budaya Indonesia dengan India. Perahu bercadik seperti jukung mempengaruhi desain perahu di India.12 Para pelaut dari negeri ini dengan bebas menyusuri lautan Hindia sebelum di negeri ini muncul institusi kerajaan.13 Dengan pengetahuan perkakas yang lebih baik dari India maka muncullah perahu lebih besar yang mampu menopang volume perdagangan lebih besar.

Kontak ini menimbulkan apa yang disebut Indianisasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. George Coedes berpendapat bahwa Indianisasi terjadi tidak dengan perpindahan penduduk besar-besaran, hanya sekelompok brahmin datang untuk membawa teks suci Hindu/Buddha dan mengajarkan kebudayaan India lainnya.14 JG Taylor mencatat adanya pendapat yang menyatakan bahwa Indianisasi ini didahului oleh pembentukan negara. Para pemimpin lokal yang memperoleh pengaruh dan kekayaan mengadopsi budaya pedagang asing, kemudian dengan kekuasaan dan kekayaannya mengundang para brahmin.15 Patut kita ingat istilah asli Austronesia untuk penguasa, Ratu dan Datu, masih bertahan bersama dengan istilah Raja. Kehadiran orang-orang India ini juga menimbulkan kemungkinan munculnya orang-orang berdarah biru dari India yang mendirikan dinastinya di Indonesia dengan persekutuan dan pernikahan dengan keluarga penguasa lokal.16

Hampir bersamaan dengan pengaruh India adalah kehadiran pedagang-pedagang Arab. Coedes menyebut bahwa merekalah yang menyebabkan pelayaran Hindia amat ramai, bahkan sudah memiliki kantor dagang di Kanton sejak abad keempat Masehi.17 Pada masa Sriwijaya bahkan sudah ada hubungan persuratan antara Maharaja Sriwijaya dengan Khalifah Umar.18 Denys Lombard mencatat cerita lebih menarik mengenai pedagang Yahudi Oman yang menjadi kaya raya karena perdagangannya dengan Asia Tenggara Tiongkok, minggat karena diperas Khalifah namun akhirnya dihukum mati karena menolak membayar pajak luar biasa tinggi yang ditarik oleh raja Sriwijaya.19

Pengaruh Arab (dan Persia) bagi Indonesia baru mulai mendalam ketika penguasa dan penduduk lokal mulai memeluk Islam. Pedagang arab yang mengawini wanita lokal dan membangun budaya baru adalah cerita pendirian kota-kota pantai Afrika Timur dan peradaban Swahili.20 Namun di nusantara ceritanya berbeda, para penguasa lokal tentu tidak dapat diusir begitu saja oleh para pedagang ini. Drewes menyatakan bahwa lebih mungkin para pemuka agama sufi yang menyertai pedagang lebih mungkin mengislamkan penduduk dan raja lokal.21

Dua migrasi ini cukup unik. Keduanya tidak membawa migrasi populasi yang besar, namun menyumbangkan unsur-unsur budaya yang hingga kini dikenal sebagai budaya Indonesia. Konsep-konsep Hindu-Buddha masih bertahan dalam kosmologi pemikiran lokal. Di sisi lain Islam dan berbagai budaya Arab dan Persia sudah diterima sebagai bagian dari budaya dan identitas Indonesia.

Selanjutnya kita akan melihat kedatangan kekuasaan asing (Eropa) dan migrasi etnis Tionghoa ke Indonesia. Bagaimana kedatangan mereka membentuk sejarah Indonesia? Bagaimana populasi lokal menerima mereka dan bagaimana posisi mereka dalam masyarakat Indonesia selanjutnya? Ini akan dibahas dalam bagian kedua.

43-atxl1

____________________

2Artukel ini pertama saya temui di kaskus, namun saya kesulitan menemui thread-nya di forum Sejarah & Xenology. Artikel ini berasal dari situs wacana nusantara dengan pranala http://wacananusantara.org/content/view/category/2/id/261, namun sudah dihapus. Arsip artikelnya dapat ditemui di https://suciptoardi.wordpress.com/2009/03/22/siapakah-pribumi-asli-nusantara/

3Salah satu ekspresi serupa dapat dilihat dalam pernyataan Paus tentang platform politik Donald Trump. http://www.theguardian.com/world/2015/sep/24/pope-francis-immigration-donald-trump-xenophobia

4Anthony D Smith, Nationalism in 20th Century (New York: New York University Press, 1971)

5Recent Africa Origin atau Out Of Africa. Bisa dibaca dalam karangan populer Steve Olson, Mapping Human History, Gen, Ras, dan Asal-Usul Manusia (Serambi: Jakarta, 2004)

6Charles Higham, “Hunter-Gatherers in Southeast Asia: From Prehistory to the Present”, Human Biology, Volume 85, Issue 1, artikel 2.

7Simonson TS, Xing J, Barrett R, Jerah E, Loa P, et al. (2011) Ancestry of the Iban Is Predominantly Southeast Asian: Genetic Evidence from Autosomal, Mitochondrial, and Y Chromosomes.

8Stephen Oppenheimer dan Martin Richard, “Fast trains, slow boats, and the ancestry of the Polynesian islanders”, Science Progress (2001), 84 (3), 157–181

9George Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha (Jakarta:Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), halaman 29-39.

10Jean Gellman Taylor, Indonesia: Peoples and Histories (New Haven/London: Yale University Press, 2003), halaman 10.

11Pengetahuan saya mengenai kisah ini tidak banyak, saya mendapatkannya dalam Seno Panyadewa, Misteri Borobudur (Dolphin: Jakarta, 2013)

12Untuk sekedar lalu melihat pengaruh perahu bercadik di dunia silahkan lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Proa.

13sebelum ada kapal besar yang mengarungi lautan hindia, menyusuri pantai Afrika Timur adalah perahu-perahu dari Indonesia Robert Dick Read, “Indonesia and Africa: questioning the origins of some of Africa’s most famous icons”, The Journal for Transdisciplinary Research in Southern Africa, Vol. 2 no. 1, July 2006 pp. 23-45

14Coedes, Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, halaman 79-101.

15JG Taylor, Indonesia Histories, halaman 21.

16Perdebatan mengenai asal-usul wangsa Syailendra masih belum usai. Adakah mereka keturunan asing/India? Ataukah mereka asli Indonesia (Jawa atau Sumatra)? Diantara karya terbaru yang berpendapat mereka adalah pribumi : Anton O Zakharov, The Sailendras Reconsidered, Nalanda-Sriwijaya Centre Working Paper No 12 (Agustus 2012), http://www.iseas.edu.sg/nsc/documents/working_papers/nscwps012.pdf. Sementara yang menyanggahnya: Roy E. Jordaan, “Why The Sailendras Were Not a Javanese Dynasty”, Indonesia and the Malay World Vol. 34, No. 98 (Maret 2006), halaman 3– 22

17Coedes, Asia Tenggara mas Hindu-Buddha, halaman 123.

18S.Q. Fatimi, “Two Letters From The Mahārājā To The Ḵẖalīfah: A Study In The Early History Of Islam In The East”, Islamic Studies, Vol. 2, No. 1 (Maret 1963), halaman. 121-140

19Denys Lombard, Nusa Jawa : Silang Budaya 2, Jaringan Asia (Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), halaman 24-25.

20Lengkapnya baca Murphy, History of African Civilization

21G.W.J. Drewes, “New Light on the Coming of Islam to Indonesia?”, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel 124, 4de Afl. (1968), halaman 433-459.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s