Rasa Takut akan “Liyan”

Sebelum saya menyelesaikan tulisan saya kemarin, saya justru menemukan dinamika dalam hubungan “pribumi” dan “non-pribumi.” Rasa takut akan ditundukkan dan dipecundangi.

Screenshot_2016-04-11-10-25-02 - Copy

Tulisan ini hanya tangentially related dengan tulisan kemarin, oleh karenanya langsung saja saya bicarakan hal yang bikin saya geregetan.

Kenapa gregetan?

Karena Tiongkok punya hubungan ambivalen dengan Islam. Kaisar Ming menyatakan Islam sebagai “Agama murni dan benar” dan memberi kedudukan khusus bagi banyak tokoh muslim. Di kemudian hari pada masa Qing kaum muslim memberontak, tapi kemudian segera dimanfaatkan menjadi salah satu pasukan terbaik Qing (sebelum keruntuhannya).

Namun Xinjiang yang baru ditaklukkan dinasti Qing pada paruh kedua abad 19 tidak merasa diri mereka bagian dari Zhongguo. Mereka selalu membenci baik penguasa Han maupun muslim Hui. Tak heran hingga kini mereka terus menjadi wilayah yang bergolak. Dalam kondisi bergolak inilah identitas Uyghur dan Islam saling berkelindan. Pemerintahan komunis yang tidak peka tentu melarang simbol-simbol Islam yang digunakan bersamaan dengan pemberontakan. Terhadap Uyghur mereka melarang simbol Islam, namun bagi muslim di daerah lain larangan ini tidak ada.

Ini adalah berita yang cukup lama, coba saja lakukan google search. Kini dengan ramai-ramainya perseteruan antara Teman Ahok dengan Bukan Teman Ahoax kita menyaksikan berita lama ini digulirkan lagi. Ketakutan bahwa kita (pribumi) akan menjadi bangsa yang dipecundangi di negeri sendiri menyeruak kembali. Mereka (Tionghoa) adalah asing, jangan sampai mereka berkuasa di bumi ini.

Adakah ini terlalu jauh dari kenyataan?

Tetangga-tetangga Tiongkok (Vietnam, Mongolia) memang memiliki ketakutan serupa. Namun mereka tidak memiliki minoritas Tionghoa yang visible seperti di sini. Ketakutan mereka adalah dari kenyataan bahwa berbagai suku minoritas di wilayah Republik rakyat Tiongkok dahulunya bukanlah minoritas. Mereka mengalami sinifikasi setelah ribuan tahun menjadi bagian dari Tiongkok. Sementara itu wlayah Tibet, Xinjiang, dan Mongolia Dalam (milik RRT) semakin banyak diisi oleh etnis Han. Vietnam dan Mongolia tidak tampak terancam oleh invasi Tiongkok, untuk beberapa waktu. Namun mereka takut identitas budayanya tergerus oleh sinifikasi.

Namun adakah ini juga mengancam Indonesia? Ataukah ini hanya rasa takut kita terhadap mereka yang asing/liyan?

Dan biarlah saya tertawa sendiri di pojokan kayak orang gila. Atau memang saya gila.

___________________

Saya sudah pernah tulis cerita tentang sejarah Islam di Tiongkok, silahkan baca kalau belum pernah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s